Kreator konten sekaligus aktor Aron Ashab mengaku menjadi korban penculikan dan penyekapan selama enam bulan di wilayah pedalaman Tasik, Jawa Barat. Pengakuan tersebut disampaikan kepada Sunan Kalijaga selaku penasihat hukum usai Aron bertemu untuk berkonsultasi mengenai kasus yang dialaminya.
Sunan mengatakan Aron menghubunginya untuk meminta bantuan terkait persoalan tersebut. Dalam pertemuan itu, Aron mengaku dibawa dari Jakarta oleh sejumlah orang ke sebuah tempat yang dikelola oleh beberapa pihak.
"Iya, jadi tadi malam dia cari saya, dihubungin. 'Om, aku ada perlu nih Om' katanya. 'Kasus?' 'Kasus apa?' 'Aku diculik' katanya. 'Hah? Yang benar kamu diculik?' 'Iya' 'Selama 6 bulan' katanya. 'Diculik di mana?' 'Di daerah Tasik' katanya," ujar Sunan Kalijaga di Puri Kembangan, Jakarta Barat, Jumat (16/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sunan kemudian meminta Aron menceritakan kejadian yang dialaminya secara jujur agar seluruh keterangan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
"Saya tanya, saya bilang, 'Tolong kamu ceritakan apa yang kamu alami, tidak dilebihkan atau tidak dikurangi. Tapi betul-betul apa yang kamu alami. Karena segala sesuatunya apa yang kamu sampaikan nanti di mana pun, itu harus kamu bisa pertanggungjawabkan'," tuturnya.
Sunan menjelaskan berdasarkan cerita Aron, sejumlah orang mengambilnya dari Jakarta dan membawanya ke sebuah tempat di wilayah pedalaman Tasik, Jawa Barat. Di lokasi tersebut, Aron mengaku bertemu dengan puluhan orang lainnya.
"Ya dia cerita bahwa dia diambil dari Jakarta, oleh beberapa orang, dibawa ke daerah Tasik, dibawa untuk dimasukin ke satu tempat," kata Sunan.
Ia menyebut Aron mengaku tidak mengetahui alasan dirinya dibawa ke tempat tersebut. Aron juga disebut berada di lokasi yang sama dengan sejumlah orang yang menurut cerita memiliki latar belakang beragam.
"Di situ ada siapa? Ada banyak orang. Bukan cuma saya. Jadi ada yang katanya pengguna narkoba, ada yang katanya pelaku tindak-tindak kriminal ini-itu," ujar Sunan menirukan cerita Aron.
Sunan mengaku heran dengan kejadian yang diceritakan kliennya tersebut. Sebab, menurut keterangan Aron kepadanya, tidak ada pemanggilan polisi sebelum dirinya dibawa ke lokasi itu.
"Nah saya juga bingung Bang, salah saya apa? Kok tiba-tiba diambil dimasukin ke tempat tersebut. Gitu loh. Enggak ada panggilan polisi, enggak ada ini-itu," lanjutnya.
Setelah berada di tempat tersebut selama enam bulan, Aron mengaku berusaha menjalin hubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya. Upaya itu dilakukan agar dirinya mendapatkan kepercayaan dan memiliki kesempatan untuk keluar dari lokasi penyekapan.
Sunan mengatakan Aron akhirnya bisa keluar bersama pengelola tempat tersebut. Namun, setelah berada di luar, Aron disebut langsung mencari cara untuk melarikan diri.
"Ya dia cerita, dia berbaik-baiklah supaya mendapatkan kepercayaan dari orang-orang di situ. Sehingga dia bisa ada kesempatan untuk keluar bersama dengan pengelolalah. Istilahnya katanya pengelola tempat tersebut," jelas Sunan.
"Begitu bisa keluar, dia langsung berpikir bagaimana caranya dia melarikan diri ketika ada di luar daripada tempat tersebutlah ya. Dia melarikan diri, dia minta tolong sama orang untuk lari, pokoknya mengarah ke Jakarta," sambungnya.
Baca juga: Pesan Joaquine Lewat Lagu Pukul 5 Sore |
Menurut Sunan, Aron mengaku memilih untuk segera kembali ke Jakarta daripada melaporkan kejadian tersebut kepada polisi di wilayah setempat. Keputusan itu disebut dilandasi rasa takut terhadap kemungkinan dirinya justru dituduh sebagai orang yang melarikan diri dari tempat tersebut.
"Saya tanya, kenapa kamu nggak lapor polisi di sana? 'Saya takut, Bang. Saya takut jangan-jangan nanti saya malah difitnah' Gitu loh," kata Sunan.
Ia kemudian menjelaskan kekhawatiran yang diceritakan Aron kepadanya.
"Polisi saya laporin, polisi panggil orang itu, malah orang itu bilang, 'Ah, ini pasien saya atau ini tahanan saya yang kabur'. Nah itu yang membuat dia takut berpikir lebih baik pokoknya caranya bagaimana harus nyampe ke Jakarta," lanjutnya.
Selain menceritakan dugaan penculikan dan penyekapan, Aron juga disebut mengungkap perlakuan yang dialaminya selama berada di lokasi tersebut. Sunan mengatakan Aron diperlakukan sebagai warga binaan.
"Dia bilang di sana dia dibina. Dia sebagai warga binaan. Warga binaan yang menurut Aron kemarin dia harus salat sebanyak 120 rakaat dalam satu hari," ungkap Sunan.
Sunan juga mengaku menanyakan apakah Aron mengalami kekerasan fisik selama berada di lokasi tersebut. Menurutnya, Aron mengaku terdapat tindakan kekerasan dan penganiayaan di tempat itu.
"Terus saya tanya, ada nggak kekerasan penganiayaan di lingkungan tempat kamu disekap? 'Ada' katanya. Bahkan ada yang sampai gini, gini, gini, gini. Saya bilang, 'Kamu bener ini, bener?'," tuturnya.
Meski demikian, keterangan mengenai dugaan penculikan, penyekapan, dan kekerasan tersebut masih berdasarkan pengakuan Aron sebagaimana disampaikan Sunan. Sunan mengaku masih mempertanyakan status tempat yang disebut Aron sebagai lokasi penyekapan. Menurut cerita kliennya, tempat tersebut bukan merupakan institusi resmi, melainkan dikelola oleh beberapa orang.
Saat ditanya apakah Aron masih mengingat lokasi tempat dirinya berada selama enam bulan, Sunan menilai seharusnya kliennya masih mengetahui tempat tersebut.
"Ya harusnya sih tahu ya, orang 6 bulan di sana," jawab Sunan.
Ia juga menegaskan bahwa berdasarkan cerita Aron, orang-orang yang berada di lokasi tersebut sebelumnya tidak saling mengenal.
"Enggak kenal. Makanya kan saya agak heran ya, ini tempat apa gitu," pungkasnya.










































