Uffridatun Nitami atau Tami, dinilai sangat berani bicara ke publik soal dugaan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilayangkan suaminya, Evan Marvino.
Lantas bagaimana keadaan Tami saat ini? Pengacara Ana Sofya Yuking, mengungkapkan kondisi psikologis Tami saat datang berkonsultasi dengannya. Menurut Ana, Tami mengalami berbagai gejolak emosi yang umum dialami korban KDRT.
"Kalau Tami selayaknya perempuan-perempuan korban KDRT, pasti dia terpukul, pasti sedih, pasti bingung. Pasti ada marah, ada sedih, ada kebingungan," kata Ana Sofya Yuking di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026).
Ana menilai keberanian Tami untuk berbicara ke publik, bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Terlebih, Tami juga memiliki dua anak yang masih kecil.
"Jadi kalau perempuan, seorang istri, seorang perempuan, sampai dia berani speak up ke publik, menyatakan ada perbuatan KDRT di rumah tangganya, itu pasti bukan sesuatu yang baru. Bukan sesuatu yang serta-merta baru terjadi," ujarnya.
Lebih lanjut, Ana menjelaskan, banyak korban KDRT yang datang mencari bantuan hukum setelah mengalami kekerasan dalam waktu yang cukup lama dan berulang.
"Biasanya rata-rata klien kita tuh sudah mengalami itu berbulan-bulan, bertahun-tahun, dan itu berulang. Bahkan mengalami eskalasi. Dari yang tadinya cuma cubit atau tempeleng sedikit, pukul tangan, tempeleng kepala, wajah segala macam, bisa jedot ke dinding, macam-macam. Dan saya bisa memahami bahwa Tami kemarin datang itu dalam keadaan sedih," bebernya.
Ana juga mengaku teringat perjuangan mendampingi selebgram Cut Intan Nabila, yang sebelumnya juga menjadi korban KDRT. Menurutnya, korban sering kali berada dalam kondisi emosional yang tidak stabil ketika memutuskan mencari bantuan.
"Di antara kebingungan, kesedihan, kemarahan itu dia juga mengalami kelabilan secara emosional. Karena satu, dia tidak percaya. Lalu kemudian kalau saya bisa keluar dari keadaan ini bagaimana caranya? Nah itulah yang dia kemarin datang nanya ke kita para advokat. Ini secara hukum seperti apa statusnya, dan kalau saya harus mengambil upaya-upaya hukum apa saja. Ya kita berikan edukasi," ungkap Ana.
Selain pendampingan hukum, Ana mengatakan pihaknya juga akan merekomendasikan bantuan psikologis guna membantu proses pemulihan Tami.
"Nanti biasanya kita punya rekanan psikolog, nanti kita akan rekomendasikan supaya bisa membantu pulih dengan cepat. Karena, tidak mudah bagi perempuan mengalami peristiwa-peristiwa yang menyakitkan dalam rumah tangganya," katanya.
Kasus yang menyeret Evan Marvino dan Tami ini juga semakin menjadi perhatian publik. Terlebih Tami mengaku tertular Human Papillomavirus (HPV) dari sang suami.
Simak Video "Video 8 Anak Tewas dalam Penembakan Massal di Louisiana"
(fbr/wes)