Kata Ustaz: Menyambung Kembali 'Layangan Putus' Bisa, Tapi...

Tim detikcom - detikHot
Rabu, 12 Jan 2022 06:00 WIB
Pendakwah
Rumah tangga yang hancur karena perselingkuhan bisakah kembali utuh lagi? Foto: dok. Instagram Ustaz Maulana
Jakarta -

Hubungan rumah tangga yang sudah dimasuki orang ketiga atau perselingkuhan tentu bukan cobaan yang mudah. Perselingkuhan memang jadi isu yang rentan dalam rumah tangga.

Sedang heboh 'Layangan Putus' memperlihatkan sosok Kinan yang berusaha mencari kebenaran soal perselingkuhan suaminya, Aris denga Lydia Danira. Mulai tahu kebenaran, Kinan melakukan cara untuk bertemu dengan Aris dan Lydia bersamaan.

'Layangan putus' atau hubungan rumah tangga yang sudah retak karena perselingkuhan bisakah diperbaiki? Kata Ustaz kali ini akan membahas adakah batasan tertentu dalam Islam saat seseorang ingin memaafkan pasangannya yang selingkuh.

Ustaz Maulana pun memberikan nasihatnya seperti yang sudah ditayangkan dalam Islam Itu Indah. Dia menuturkan tentu ada pertimbangannya untuk bagaimana memaafkan pasangan yang sudah selingkuh.

Berikut penjelasan Ustaz Maulana:

Mengukuhkan rumah tangga atau layangan yang sudah putus. Apakah kita ambil kayu, bambu, untuk mengambil layangan itu?

Gelas yang sudah retak, yang pecah, ataupun piring yang sudah pecah bisa disatukan kembali? Walaupun bisa disatukan kembali, alhamdulillah. Masih bisa diperbaiki, cuma kelihatan retakannya.

Kalau itu piring hiasan, aman. Karena tidak dipakai, cuma untuk hiasan. Tapi kalau piring yang dipakai, takut orang memakainya karena sudah ada retakannya. Takutnya nanti membahayakan saat dia makan.

Kalau begitu, pikirkan sebaik-baiknya sebelum kejadian. Nah, kalaupun mau diperbaiki (rumah tangga yang ternoda dengan perselingkuhan) saya setuju. Kenapa? Karena ketika kita ada keinginan untuk memperbaiki itu namanya merajut kembali. Lebih baik memperbaiki daripada memulai.

Kalau memang cuma pintunya yang rusak, tidak usah rusak rumahnya. Kalau memang jendelanya bermasalah, jendelanya saja diperbaiki, tidak usah rusak rumahnya. Inilah analogi lebih baik memperbaiki.

'Tapi, bagaimana saya kan sudah sering diselingkuhi?' Apakah harus melakukan seperti yang dilakukan oleh Kinan? Mencari tahu, mencari bukti, terus melabrak, dan sebagainya. Terus membikin, mempertemukan dengan cara luar biasa? Membuat chating, mengundang keduanya dan ketemu? Cara yang cerdas menurut saya.

Tapi, tunggu dulu! Ada teknik yang terbaik. Ingat jangan mengambil keputusan saat emosi. Jangan! Jangan sampai melakukan dosa untuk menyelesaikan dosa yang lain. Tidak akan ada habis-habisnya. Kalau ada yang dibunuh jadi hantu, kemudian hantu membunuh lagi itu orang, yang dibunuh jadi hantu lagi, nggak ada habis-habisnya.

Maka, hendaklah memperbaiki. Trauma itu harus dihadapi bukan dihindari. Tapi harus diselesaikan, harus diperbaiki, harus dicamkan. Kalau Anda tidak menyelesaikan sekarang di dunia, tunggu di akhirat akan berpesoalan. Kita di akhirat mau tenang-tenang masuk surga.

Ingat ya, berperkara itu kalah jadi abu, menang jadi arang. Jadi tidak ada selesainya. Kalau begitu ayo damailah. Kalau begitu, ayo ambil solusi apalagi ada anak. Aduh, perbaikilah rumah tangga itu.

Mohon maaf, bukan maksud menggurui. Ayo, maafkan pasangan. Supaya apa? Supaya memperbaiki diri. Karena kenapa? Bisa jadi bukan karena dia, tapi karena adanya kesempatan. Bisa jadi kesalahan ini karena kita tidak perhatian. Tidak dipuaskan matanya, hatinya, perutnya, tambah di bawah perutnya. Selesaikan.

Tidak selamanya kesalahan itu ditujukan kepada laki-laki. Bisa jadi juga pada perempuan itu sendiri. Karena kenapa? Mohon maaf, tidak puas, tidak melayani, tidak memberikan service dan sebagainya.



Simak Video "Ibunda Chairul Tanjung dalam Kenangan Ustaz Maulana "
[Gambas:Video 20detik]
(pus/nu2)