Selamat Hari Sastra Indonesia, Mari Rayakan dengan Novel Abdoel Moeis

Tia Agnes - detikHot
Jumat, 03 Jul 2020 14:56 WIB
Kaca mata kutu buku. dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Foto: Dikhy Sasra Selamat Hari Sastra Indonesia, Mari Rayakan dengan Novel Abdoel Moeis
Jakarta -

Hari ini menjadi momen istimewa bagi dunia sastra Tanah Air. Tanggal 3 Juli diperingati sebagai Hari Sastra Indonesia.

Sastrawan Abdoel Moeis yang lahir pada 3 Juli 1883, tanggal kelahirannya ditetapkan sebagai Hari Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang melegenda di Indonesia masih dikenal sampai menjadi bahan ajar.

Balai Pustaka
menuliskan sejarah Hari Sastra Indonesia, awalnya dari acara kumpul sastrawan yang digelar di SMAN 2 Bukittingi pada Maret 2013.

Lokasi penyelenggaraan dahulunya bernama Sekolah Radja atau Kweekschool, tempat berseminya sastra modern Indonesia dan lahirnya sastrawan Pujangga Baru.



"Generasi muda perlu sekali mengetahui dan membaca karya para sastrawan Indonesia tersebut dan karya sastrawan masa sekarang dan masa akan datang," tulis Kepala Balai Pustaka, Achmad Fachrodji, di akun Instagram, seperti dilihat detikcom.

Sosok Abdoel Moeis dinilai berjasa di Indonesia. Ia merupakan pahlawan nasional pertama dari kalangan sastrawan yang diangkat Presiden Soekarno pada 30 Agustus 1959.

Penetapan tanggal dilakukan oleh Wakil Menteri Kebudayaan dari Kemendikbud, Wiendu Nuryanti. Saat itu, ia bersama para sastrawan yang hadir memilih sosok yang representif untuk penetapan Hari Sastra Indonesia.

Sastrawan yang hadir di antaranya adalah Taufiq Ismail, Raudha Thaib, Harris Effendi Thahar, Darman Moenir, dan Rusli Marzuki Saria.

Karya-karya Abdoel Moeis yang dikenal sampai sekarang di antaranya adalah novel Salah Asuhan (1928), Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950), dan sejumlah terjemahan novel sastra dunia lainnya.

[Gambas:Instagram]





Salah satu novel fenomenalnya adalah Salah Asuhan. Terbit dalam bahasa Melayu pada 1928, novel Salah Asuhan juga rilis dalam bahasa Inggris yang berjudul Never the Twain pada 2010.

Salah Asuhan mengisahkan tentang pemuda Minangkabau yang sedang mengenyam pendidikan dan lingkungan yang menganut nilai-nilai Barat. Pendidikan Barat membuat pemuda itu tak bisa membaur dengan bangsanya dan juga kaum Barat.

Hanafi dijodohkan dengan Rapiah. Tapi bercerai karena memilih untuk jatuh cinta pada perempuan Indo-Prancis, Corrie du Busse. Kehidupan rumah tangganya tak harmonis.

Keduanya pun bercerai. Hanafi yang melajang kembali, hidup dalam penyesalan.

Putra Minangkabau ini menghembuskan napas terakhir di Bandung pada 17 Juni 1959. Namanya terus dikenang sampai sekarang sebagai pesohor dan sastrawan nasional.



Simak Video "Sapardi Djoko Damono Ingin Puisi Kian Populer Lewat Musikalisasi Puisi"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dar)