Museum Anak Bajang Diresmikan di Sleman, Jadi Ruang Bersama untuk Seniman

Tia Agnes - detikHot
Senin, 27 Sep 2021 14:30 WIB
Peresmian Museum Anak Bajang
Peresmian Museum Anak Bajang digelar secara hibrid di Festival Anak Bajang Foto: Tia Agnes/ detikHOT
Jakarta -

Museum Anak Bajang yang berdiri di Omah Petroek, Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman diresmikan hari ini. Melalui Festival Anak Bajang yang dibuka hari ini, menghadirkan sejumlah acara salah satunya peresmian yang dibuka oleh Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid.

Hilmar Farid yang hadir di Omah Petroek bersama narasumber lainnya mengatakan novel Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata merupakan pembuka bagi karya sastra lain yang ditulisnya.

"Tempat ini (Museum Anak Bajang) luar biasa. Bayangan saya museum itu biasanya di gedung yang besar, dingin, sangat tertutup, dan asing," ucap Hilmar Farid saat mengisi acara di Festival Anak Bajang secara virtual, Senin (27/9/2021).

Tapi Museum Anak Bajang, kata dia, berubah menjadi museum yang intim, personal, hangat. "Dan juga merupakan akumulasi perjalanan Rama Sindhu yang begitu panjang," katanya.

Berbagai ruang pamer dan karya-karya yang dipajang, menurut Hilmar Farid, menjadi buah dari kebudayaan dan kontribusi Rama Sindhunata sebagai wartawan.

"Bukan budayawan yang mengaku-ngaku sebagai budayawan, kiprahnya jauh lebih besar," sambung Hilmar Farid.

Peresmian Museum Anak BajangPeresmian Museum Anak Bajang Foto: Tia Agnes/ detikHOT

Kepala Museum Anak Bajang, Rhoma Dwi Aria Yuliantri pun melanjutkan hadirnya museum di tengah kota Sleman, Yogyakarta, ingin menjadi ruang bersama bagi para seniman.

"Kami cuma ingin meneruskan kebaikan hati orang-orang sehingga mewujudkannya jadi habitat bersama. Kami memang mengkonsepkannya museum untuk komunitas," kata Rhoma.

Museum Anak Bajang yang hanya dikelilingi oleh pepohonan, diakui dia, sengaja tidak ada pagar pembatas. "Kami ingin menyatu dengan masyarakat," sambungnya.

Menurut penuturan Rhoma, Museum Anak Bajang tidak ingin memamerkan benda mati tapi ada komunitas yang ikut menghidupkan atau mewariskan benda tersebut ke generasi berikutnya.

"Kami mau menjadi museum bersama. Tempat ini juga menjadi lokasi historis yang bekerja sama dengan perguruan tinggi dan komunitas di Jakarta agar menjadi laboratorium bersama," kata Rhoma.

Hari ini, Festival Anak Bajang digelar secara hibrid untuk menegaskan di balik bencana pandemi ada simpul-simpul baru kehidupan. Ada solidaritas dan kejenakan yang tumbuh secara kunci untuk keluar dari semua persoalan.

Nama 'Anak Bajang' yang dipakai untuk festival dan museum diambil dari nama novel Sindhunata yang berjudul Anak Bajang Menggiring Angin yang terbit pada 1981. Anak Bajang adalah sosok pewayangan yang menjadi tokoh sebagai representasi buruk-rupanya dunia saat ini.

"Figur Anak Bajang adalah abstrak dan untuk diri kita sendiri, tapi juga mengkritik kita habis-habisan sebagai manusia. Makhluk yang tidak sempurna mencoba menghayati nilai-nilai untuk mencapai ke sana walaupun tidak pernah dicapai hidup ini," pungkas Sindhunata.



Simak Video "Korea Indonesia Film Festival 2021 Siap Digelar di Jakarta dan Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dal)