'Seni Bukan Kriminal, Setop Represi dan Diskriminasi'

Tia Agnes - detikHot
Rabu, 18 Agu 2021 12:28 WIB
Mural Kritikan Anagard di Yogyakarta
Mural Anagard di Yogyakarta bagian selatan Foto: Anagard/ Pribadi
Jakarta -

Indonesia baru saja merayakan kemerdekaan yang ke-76 tahun kemarin. Tapi rakyat Indonesia tak merasakan kemerdekaan yang seutuhnya karena peristiwa penghapusan mural dan kriminalisasi terhadap para seniman yang membuatnya.

Hal tersebut diungkap oleh Anagard yang berdomisili di Yogyakarta. Seniman yang melanglang buana membuat mural di Indonesia dan mancanegara itu mengatakan karya-karyanya kerap merespons kondisi sosial, politik, dan yang terjadi di sekitarnya.

"Karya saya membicarakan gimana represinya pemerintah pada masyarakat. Banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi dan aku juga ngomongin soal diskriminasi pandemi COVID-19, ujar Anagard ketika dihubungi detikcom," Rabu 18/8/2021.

Anagard membuat mural di bagian selatan Yogyakarta yang menggambarkan seorang pria berpakaian kostum warna oranye. Di bagian kepala, terdapat penutup wajah layaknya seniman bakal membuat mural. Tangan karakter itu terangkat seakan mengatakan kata 'stop'.

Pria itu memajang tulisan 'Stop represi, diskriminasi'. Mural yang berada di pintu kayu dan bangunan rumah kecil itu juga terdapat tulisan, 'Art is not a crime'.

"Kalimat 'art is not a crime' memang menjurus ke peristiwa penghapus mural yang marak terjadi. Sebenarnya bahasa seniman itu lebih aman buat mengkritik yang mulai represif," katanya.

Setelah peristiwa penghapusan beberapa mural di beberapa lokasi Tanah Air, Anagard mengaku bersama kawan-kawan seniman lainnya akan tetap bergerak untuk berkarya.

Dengan cara bergerak dan berkarya tersebut, lanjut dia, adalah upaya untuk terus merdeka.

"Kalau bukan kita siapa lagi, bukan merdeka namanya kalau tidak semangat. Semangat itu yang membangun," lanjutnya.

Anagard juga berpendapat seni itu bukan hanya sebagai ruang dekoratif.

"Seni itu tajam apalagi yang dibuat seniman jalanan yang ada di ruang terbuka. Karena dia (karya di ruang publik) adalah jalur menarik untuk menyalurkan ekspresinya itu," tambah Anagard.

Sebelumnya, ada beberapa mural yang dihapus oleh aparat. Mural teranyar adalah gambar sosok pria yang digambarkan mirip dengan Presiden Jokowi dan matanya ditutupi oleh tulisan 404: Not Found yang berada di kawasan Batuceper, kota Tangerang, Banten.

Mural lainnya yang dihapus berada di Bangil, kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Mural bergambar karakter dua ekor hewan yang menyerupai kucing itu dibubuhi tulisan 'Dipaksa Sehat di Negeri yang Sakit'.

Ada juga mural bertuliskan Tuhan Aku Lapar yang terpampang di Jalan Raya Arya Santika, Tigaraksa, kabupaten Tangerang yang viral di media sosial pada 24 Juli 2021. Mural itu pun dihapus oleh aparat.



Simak Video "Lomba Mural Gejayan Memanggil, Dicari yang Paling Cepat Dihapus Aparat!"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/nu2)