Puisi Kemerdekaan Ini Bisa Kamu Baca saat Momen 17 Agustus

Tia Agnes - detikHot
Senin, 16 Agu 2021 17:05 WIB
Bendera Merah Putih
Puisi kemerdekaan Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Momen kemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17 Agustus menjadi peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia. Di tengah situasi karena pandemi COVID-19, kamu bisa mengekspresikannya lewat puisi kemerdekaan.

Puisi-puisi itu bisa diunggah di media sosial pribadimu sebagai rasa suka cita kepada para pahlawan kita.

Berikut 3 puisi kemerdekaan yang bisa kamu unggah saat momen 17 Agustus esok hari karya ciptaan penyair dan sastrawan Tanah Air, di antaranya:

1. Hari Kemerdekaan (Sapardi Djoko Damono)

Akhirnya tak terlawan olehku
Tumpah di mataku, di mata semua sahabat-sahabatku
Ke hati kita semua
Bendera-bendeta dan bendera-bendera
Bendera kebangsaanku
Aku menyerah kepada kebanggaan lembut
Tergenggam satu hal dan kukenal

Tanah dimana kuerpijak berderak
Awan bertebaran saling memburu
Angin meniupkan kehangatan bertanah air
Semat getir yang menikam berkali
Makin samar
Mencapai puncak kepecahnya bunga api
Pecahya kehidupan kegirangan

Menjelang subuh aku sendiri
Jauh dari tumpahan keriangan di lembah
Memandangi tepian laut
Tetapi aku menggenggam yang lebih berharga
Dalam kelam kuat wajah kebangsaanku
Makin bercahaya makin bercahaya
Dan fajar mulai kemerahan

2. Karawang Bekasi (Chairil Anwar)

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat

Berilah kami arti
Berjagalah terus di garsi batas pernyataan dan impian

Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi


3. Jakarta 17 Agustus 45 Dinihari (Sitor Situmorang)

Sederhana dan murni
Impian remaja
Hikmah kehidupan
berNusa
berBangsa
berBahasa
Kewajaran napas
dan degub jantung
Keserasian beralam
dan bertujuan
Lama didambakan
menjadi kenyataan
wajar, bebas
seperti embun
seperti sinar matahari
menerangi bumi
di hari pagi
Kemanusiaan
Indonesia Merdeka
17 Agustus 1945



Simak Video "Gaya Para Menteri hingga Ketua DPR Bacakan Puisi"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/dar)