Cerita Pendek

Di Seberang Pasar Sore

Tjak S Parlan - detikHot
Minggu, 21 Mar 2021 09:38 WIB
ilustrasi cerpen
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Nur Syamsu melambaikan tangan kepada Fahmi Idris yang sedang berjalan seraya menjinjing helm. Dari kejauhan, tubuh Fahmi Idris sesekali tampak lindap di antara para pengunjung pasar sore. Ketika sosoknya mendekat, Nur Syamsu terperangah-dia pikir dirinya telah melambai kepada seorang calon penumpang.

"Astaga, saya kira siapa tadi!" ujar Nur Syamsu. "Mau ke mana?"

Fahmi Idris menggeleng. Tanpa menghiraukan wajah Nur Syamsu yang diliputi keheranan, dia langsung mengempaskan pantatnya ke bangku semen halte yang lembab. Seorang laki-laki muda yang duduk bersebelahan dengannya tampak tidak peduli. Laki-laki muda itu mengenakan jaket warna terang bertudung dan sedang menggoyang-goyangkan kepalanya. Musik dangdut koplo terdengar sember dari speaker wireless yang terhubung dengan gawai milik laki-laki muda itu.

"Dari mana tadi?" tanya Nur Syamsu seraya menepuk bahu Fahmi Idris. "Bisa bagi rokok dulu? Sepi sekali hari ini."

Fahmi Idris merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebungkus rokok. Nur Syamsu mencomot sebatang dan langsung membakarnya. Laki-laki muda itu melakukan hal yang sama.

"Main comot saja kamu, Di!" tegur Nur Syamsu. "Sana, cari penumpang dulu! Malas sekali kamu!"

Adi Burhan-laki-laki muda itu-berdiri dan terbatuk-batuk. Segumpal cairan kental meluncur dari bibirnya yang kering. Ludah kental itu jatuh ke jalanan basah yang sedikit berlubang. Seorang laki-laki paruh baya yang berjalan menunduk, tidak sengaja menginjak ludah bercampur dahak itu. Laki-laki paruh baya itu tampak suntuk dengan barang bawaannya. Tangan kirinya menjinjing tas kresek berisi penuh. Sebuah tas furing berwarna kelabu dan gemuk terjepit di balik pangkal lengannya yang besar dan bergelambir.

Laki-laki paruh baya itu sedang menelepon seseorang; kepalanya miring ke kanan dan telinganya menempel ketat pada layar gawai yang disangganya dengan tangan kanannya.

"Repot sekali," gumam Nur Syamsu seraya menirukan gerak-gerik laki-laki paruh baya itu. "Kenapa tidak berhenti dulu, baru menelepon."

Adi Burhan serta-merta tergelak dan kembali terbatuk-batuk. "Coba kamu bantu bawakan barang bawaannya," ujarnya kemudian. "Lumayan jadi kuli panggul, sekali angkut bisa dapat lima ribu."

Nur Syamsu tidak menggubris selorohan Adi Burhan. Dia kembali memperhatikan laki-laki paruh baya itu. Gerimis turun lagi dan laki-laki paruh baya itu bergegas menuju emperan ruko yang terbengkalai. Ruko itu dulunya tempat menjual bahan-bahan bangunan. Namun, sejak gempa besar terakhir, tidak ada satu pun orang yang pernah melihat pintu ruko itu terbuka kembali.

"Kenapa kalian tidak mendatanginya saja?" ujar Fahmi Idris tiba-tiba.

"Saya yakin orang itu sudah ada penjemputnya," tanggap Adi Burhan. "Sia-sia saja menawarinya. Atau paling tidak, dia sudah memesan ojek online. Mana mungkin dia mau."

Adi Burhan duduk kembali dan menyandarkan badannya di dinding halte yang penuh coretan para vandal. Kedua tangannya sesekali teracung dan kepalanya bergoyang-goyang. Sejak dia bergabung dengan ojek pangkalan, suara musik lebih sering terdengar di halte itu-halte tua tidak terurus di seberang pasar sore yang kini menjadi pangkalan ojek.

"Sok tahu sekali kamu," celetuk Nur Syamsu. "Bilang saja kamu pemalas!"

Adi Burhan tersenyum tipis. Sepengisapan rokok kemudian, dia berdiri dan mengeloyor menghampiri laki-laki paruh baya itu. Nur Syamsu dan Fahmi Idris hanya memandanginya dari kejauhan.

"Saya bertaruh, apa yang dikatakannya itu benar," ujar Nur Syamsu.

"Kalian sama-sama sok tahu rupanya," tanggap Fahmi Idris.

"Kami punya pengalaman, Bos!"

"Begitu? Kalian sangat berpengalaman ya?"

"Hahaha, kamu tahu?" tanggap Nur Syamsu. "Sekali pun orang itu sudah memesan ojol, mereka juga tidak akan datang. Kami punya aturan masing-masing dan sudah sepakat, ojol hanya boleh mengantarkan saja ke tempat ini. Ya, kalau mau pakai ojol, pemesan harus keluar dari areal pasar ini."

"Oh, saya kira sudah tidak ada yang seperti itu. Rebutan lahan!"

"Hidup ini keras, Bos!"

Fahmi Idris mengernyitkan dahi. Dia melolos sebatang rokok dan mulai membakarnya. "Ya, hidup ini memang keras," gumamnya setelah sepengisapan pertama.

Gerimis mereda sebentar. Adi Burhan masih mengobrol dengan laki-laki paruh baya itu. Dia tampak sedang menjelaskan sesuatu dengan serius. Sementara, laki-laki paruh baya itu lebih sering menunduk, memelototi layar gawai di tangannya.

"Kenapa tidak bergabung dengan ojol? Zaman sudah berubah."

Nur Syamsu menggeronyotkan mulutnya. Tangannya merogoh ponsel di saku celananya dan menunjukkannya kepada Fahmi Idris. "Belum bisa," ujarnya kemudian."Hape saya saja masih seperti ini."

"Banyak hape dijual murah sekarang. Hape android seken."

"Bukan itu saja masalahnya," tanggap Nur Syamsu. "Kamu lihat, sepeda motor saya juga masih jadul. Ketinggalan zaman."

"Memangnya penumpang akan pilih-pilih jenis kendaraan?"

"Jelas itu! Bagaimana pun sepeda motor saya akan kalah bersaing. Makanya, saya sedang mengumpulkan uang muka. Biar bisa punya sepeda motor seperti milikmu itu. Oh, kamu taruh di mana sepeda motormu?"

Fahmi Idris tidak mengatakan secara terperinci di mana dia telah menaruh sepeda motornya. Dia justru menyinggung tentang syarat apa saja yang harus dipenuhi ketika seseorang hendak mengajukan kredit sepeda motor. Menurutnya, proses pengajuan kredit itu bukan sebuah perkara yang rumit untuk saat ini. Bahkan seseorang tidak perlu memiliki uang yang banyak untuk sekadar membayar uang muka.

Dia juga meyakinkan kepada Nur Syamsu bahwa seorang pengemudi ojol tidak akan terlalu kesulitan membayar angsuran. Nur Syamsu mendengarkannya dengan antusias sebelum kemudian dia mengeluh.

"Hmm, tapi nyatanya tidak semuanya bisa berjalan lancar. Dia buktinya!" tanggap Nur Syamsu seraya menunjuk ke arah Adi Burhan.

"Ada apa dengan dia?"

"Sepeda motornya dicabut!"

"Oh, kapan?" ujar Fahmi Idris, wajahnya tampak begitu kaget.

Menurut Nur Syamsu, Adi Burhan belum lama bergabung dengan ojek pangkalan-belum genap sebulan. Sebuah perusahaan leasing telah memerintahkan dua orang debt collector untuk menarik sepeda motornya.

Setelah kejadian itu, kakak iparnya meminjaminya sepeda motor setiap sore. Adi Burhan tidak memiliki pilihan lain, selain memanfaatkan sepeda motor pinjaman itu untuk mencari penumpang.

"Dia terus-terusan menunggak," jelas Nur Syamsu. "Katanya, dia sedang banyak kebutuhan bulan-bulan itu. Penghasilannya dialihkan ke sana. Agak aneh menurut saya. Dia itu belum berkeluarga. Kebutuhan macam apa kira-kira. Bukannya saya berburuk sangka, masalahnya dia itu memang suka...."

"Maksudmu?"

"Begini!" Nur Syamsu menirukan gerakan seseorang yang sedang membanting kartu.

"Judi?" tanggap Fahmi Idris dengan suara tinggi. "Mampuslah kalau begitu!"

Nur Syamsu menempelkan telunjuk di bibirnya. Dia menunjuk dengan matanya ke arah Adi Burhan yang sedang berjalan dengan tenang ke pangkalan ojek itu. Wajah Adi Burhan tidak menggambarkan apa-apa selain kegagalan.

"Sudah saya duga," ujar Adi Burhan,"dia bilang ada yang mau menjemput. Tapi saya tidak percaya. Dia mau pergi ke Jalan Koperasi. Itu cukup jauh."

"Sudahlah," tanggap Nur Syamsu pendek.

Gerimis belum juga berhenti. Meskipun begitu, pengunjung pasar sore masih terus berdatangan. Pasar itu biasanya buka sejak pukul setengah tiga sore dan mulai tutup ketika Magrib tiba. Namun, pada hari-hari tertentu-menjelang perayaan hari-hari besar agama-pasar itu akan tetap buka hingga malam hari. Itu hari-hari yang menyenangkan bagi Nur Syamsu dan kawan-kawannya. Pemasukan mereka bertambah, meski tidak seberapa jika dibandingkan dengan sebelum bermunculannya aplikasi transportasi online dalam gawai kebanyakan orang.

Seorang ibu muda melintas di depan halte dengan tergesa-gesa. Kedua tangannya menenteng tas plastik berisi penuh. Nur Syamsu-yang matanya selalu awas-segera mendekati perempuan itu.

"Mari saya antar, Mbak," tawar Nur Syamsu. "Saya bawa jas hujan dan helm. Sini, belanjaannya biar saya yang bawa."

Perempuan itu tidak menggubris. Dia terus mengeloyor ke sebuah mobil pick up berwarna putih. Seorang laki-laki membukakan pintu pick up itu untuknya. Dalam sekejap, sosok perempuan itu menghilang dari pandangan. Mobil pick up itu merayap di jalanan becek, bunyi klaksonnya terdengar berkali-kali di antara derai gerimis dan orang-orang yang lalu lalang.

Mata Nur Syamsu tidak berhenti memindai ke sekitar. Seorang laki-laki paruh baya melambai-lambai kepadanya dari kejauhan. Nur Syamsu bergegas mendekatinya. Laki-laki paruh baya itu sedang berdiri di emperan sebuah ruko.

"Mungkin dia berubah pikiran," ujar Adi Burhan seraya mengamati gerak-gerik Nur Syamsu dan laki-laki paruh baya itu.

Tidak berapa lama kemudian, Nur Syamsu kembali ke pangkalan ojek. Dia langsung meminta Adi Burhan agar bersedia menerima tawaran laki-laki paruh baya itu. "Dia mau ke Jalan Koperasi," ujarnya. "Tiga puluh lima ribu!"

"Gila! Kemarin saya mengantar penumpang ke daerah sana lima puluh ribu, tidak bisa kurang. Pelit sekali orang itu!" Adi Burhan bersungut-sungut.

"Sudahlah, ambil saja!" ujar Nur Syamsu. "Lumayaan, ketimbang tidak ada sama sekali."

"Kamu saja yang ambil, aku harus mengantar anak kakakku pergi mengaji. Sudah jam berapa ini? Sebentar lagi Maghrib."

"Tapi kamu yang mendapatkannya tadi. Mestinya ini bagianmu."

Adi Burhan menggeleng. Dia bergeming di tempatnya. Nur Syamsu membuka jok sepeda motornya dan mengeluarkan sebuah jas hujan. Dia mengenakan jas hujan itu dengan terburu-buru, sebelum kemudian menyalakan mesin sepeda motornya.

"Bisa minta tolong helm-mu?" ujar Nur Syamsu seraya mengulurkan tangan.

"Saya pinjam dulu, ya?"

Fahmi Idris berdiri dan mengangsurkan sebuah helm kepada Nur Syamsu.

"Nanti langsung kembalikan saja ke rumah," ujarnya.

"Nanti saya antar. Sepeda motormu di bengkel ya?"

Fahmi Idris tidak menggubris pertanyaan Nur Syamsu. Dia memberikan isyarat agar Nur Syamsu segera pergi dari tempat itu. Setelah Nur Syamsu berlalu, Adi Burhan pun mulai berkemas. Dia membungkus speaker wireless harga ekonomis miliknya dengan plastik, lalu memasukkannya di bawah jok sepeda motor.

"Mau saya antar ke bengkel?" ujar Adi Burhan. "Siapa tahu sejalur. Sepeda motormu di bengkel kan?"

Fahmi Idris menggeleng, lalu berdiri dengan malas. "Menurutmu, apa sepeda motor yang sudah disita debt collector akan bisa kembali?"

Adi Burhan menatap Fahmi Idris dengan penuh keheranan. Tampaknya dia kurang senang dengan pertanyaan seperti itu. Namun, tanpa diduga-duga, Adi Burhan justru tergelak.

"Hahaha! Hampir setiap hari saya juga bertanya-tanya seperti itu. Dan jawabannya cuma satu: ditebus! Ternyata kita punya nasib sial yang sama hahaha!"

Fahmi Idris menyadari, itu mungkin jawaban yang paling mudah untuk diucapkan. Tawa Adi Burhan terus berderai-tawa yang terdengar begitu berisik dan menyakitkan di telinganya. Dia baru berhenti tertawa ketika kedua telinganya telah disumbat oleh sebuah earphone. Seraya menyalakan mesin sepeda motor, Adi Burhan pun mulai bersenandung.

Hidup terus berjalan/ Engkau t'lah kurelakan/ Pada Tuhan semua/ Kupasrahkan....

Lirik lagu itu tidak asing di telinga Fahmi Idris, tapi sore itu terdengar berbeda. Speaker wireless itu seolah mendekam di dalam kepalanya. Lalu dari sana, suara Adi Burhan terdengar begitu sember meneror gendang telinganya.

Ampenan, 5 Februari 2021

Tjak S. Parlan buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit berjudul Kota yang Berumur Panjang (Basabasi, 2017) dan Sebuah Rumah di Bawah Menara (Rua Aksara, 2020)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Artis 'Harry Potter' Helen McCrory Tutup Usia"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)