Melihat Lukisan Mural Wayang di Muntilan yang Sarat Makna Filosofi

Eko Susanto - detikHot
Sabtu, 27 Feb 2021 16:51 WIB
Proses membuat lukisan mural wayang di Kampung Karangwatu, Desa Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.
Pengecatan lukisan mural dengan tokoh punakawan di Posyandu Dusun Karangwatu, Desa Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. (foto: Eko Susanto/detikcom)
Magelang -

Dinding sepanjang 43 meter di Kampung Karangwatu, Desa Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dilukis mural wayang. Alasanya dipilihnya lukisan wayang agar generasi penerus mengetahui cerita wayang sekaligus untuk nguri-uri budaya.

Adapun dinding yang dilukis tersebut persisnya berada di jalan masuk menuju Kampung Karangwatu. Untuk lukisan mural gambar wayang dan tema yang dipilih 'Laire Wisanggeni atau Lahirnya Wisanggeni'.

Pencetus lukisan wayang tersebut, Yulius Iswanto (49), yang sengaja memilih judul 'Lahirnya Wisanggeni'. Lakon tersebut mengandung pesan agar orang tidak mudah percaya dengan kabar yang belum tentu benar (hoaks).

Sedianya rencana membuat lukisan mural sejak Januari 2020 lalu, namun demikian baru terlaksana sekarang ini. Kemudian, sketsa wayang digambar Iswanto, sedangkan sungging atau pengecatan lainnya dibantu oleh warga setempat.

Proses membuat lukisan mural wayang di Kampung Karangwatu, Desa Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.Proses membuat lukisan mural wayang di Kampung Karangwatu, Desa Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Foto: Eko Susanto (detikcom)

"Rencana awal membuat mural wayang ini dulu sekitar setahun lalu dari 20 Januari 2020, ada keinginan untuk menggambar mural. Saya punya angan-angan seandainya nanti mau mewujudkan mural dinding, 'saya bikin dengan tema wayang karena punya misi tersendiri bagimana biar generasi seterusnya itu demen', kenal wayang," ujarnya saat ditemui di sela-sela menyelesaikan gambar mural tersebut, Rabu (24/2/2021).

Kemudian gambar mural tersebut mulai dibuat semenjak dua minggu yang lalu. Iswanto, kemudian membuat sketsa gambar wayang di dinding sepanjang 43 meter dengan ketinggian sekitar 3,5 meter. Adapun gambar wayang dibuat setiap adegan.

Setelah sketsa wayang jadi, kemudian pengecatan dibantu dengan warga lainnya. Pengerjaan ini dilakukan pada siang hingga malam hari secara bergotong-royong.

Proses membuat lukisan mural wayang di Kampung Karangwatu, Desa Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.Proses membuat lukisan mural wayang di Kampung Karangwatu, Desa Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Foto: Eko Susanto (detikcom)

"Sekitar dua minggu lalu, 'saya terbesit niat untuk mengawali sketsa wayang ini'. Berawal dari rembugan rekan-rekan muda sini, 'besok kalau seandainya saya mau mengawali pokoknya saya minta bantuan, mereka pada oke-oke'. Saya awalnya dengan sketsa sebelah sana (pojok), tema saya ambil tentang cerita wayang 'Wisanggeni Lahir atau Laire Wisanggeni'," ujar dia.

Iswanto yang alumni Jurusan Kriya Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1990 itu, menambahkan, alasan memilih judul tersebut karena ada pesan filosofi. Adapun pesan filosofinya agar jangan mudah percaya dengan kabar yang tentu benar.

"Ini ada pesan filosofinya juga 'kita biar tidak mudah terhasut dengan kabar-kabar yang belum tentu benar (hoaks)'. Itu kan yang menyebarkan hoaks Betari Durga," katanya.

Sekalipun Jurusan Kriya, namun Iswanto pernah belajar mendalang di Habirando milik Keraton Yogyakarta pada tahun 2004. Untuk itu, mengenai wayang serta tatah sungging sudah tidak asing lagi. Kemudian, catnya merupakan bantuan dari desa.

Proses membuat lukisan mural wayang di Kampung Karangwatu, Desa Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.Proses membuat lukisan mural wayang di Kampung Karangwatu, Desa Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Foto: Eko Susanto (detikcom)

Selain melukis di dinding tersebut, Iswanto juga melukis di lokasi posyandu. Adapun cerita yang diambil mengenai punakawan. Pihaknya berkeinginan menjadikan kampung mural wayang.

"Saya mengawali kegiatan ini, 'misi saya itu tadi mengenalkan wayang ke generasi lanjut, nguri-uri budaya'. Kemudian membuat rekan-rekan seneng nyungging, tahu tentang cerita wayang. 'Saya punya angan-angan kampung ini menjadi kampung mural wayang'," pungkasnya.

(aay/aay)