Teater Garasi Ciptakan Gedung Pertunjukan di Ruang Virtual

Tia Agnes - detikHot
Jumat, 06 Nov 2020 11:45 WIB
Teater Garasi Performance Instute Buat Ruang Pertunjukan Virtual
Teater Garasi Performance Institute Foto: Teater Garasi/ Istimewa
Jakarta -

Pandemi COVID-19 mengubah pola hidup sampai format berkarya bagi para seniman. Teater Garasi asal Yogyakarta pun mencoba membuat panggung sampai gedung pertunjukan di ruang virtual selama sebulan dari 31 Oktober sampai 30 November 2020.

Lewat Teater Garasi Performance Institute, pementasan UrFear: Huhu & Multitude of Peer Gynts, sebuah stus web interaktif dibangun. Ruang virtual itu digunakan sebagai gedung pentas sekaligus arena festival.

Sutradara UrFear, Yudi Ahmad Tajudin, menuturkan tadinya ia menira pandemi akan berakhir pada Oktober lalu hingga menunda pentas.

"Kami kira sudah bisa melakukan pementasan dengan format yang lazim yaitu penonton yang berkumpul. Ternyata pandemi lebih lama bahkan sampai sekarang belum selesai," tuturnya.

Teater Garasi Performance Instute Buat Ruang Pertunjukan VirtualTeater Garasi Performance Instute Buat Ruang Pertunjukan Virtual Foto: Teater Garasi/ Istimewa

Jika pertunjukan tanpa penonton, lanjut Yudi, esensinya akan hilang. Tapi ketika pandemi belum juga berakhir, Teater Garasi pun beradaptasi membuat format terbaru.

Teater Garasi berkolaborasi dengan seniman pembangun situs web Wok The Rock untuk membuat ruang virtual. Selama dua bulan, situs web interaktif tersebut dibuat sambil para seniman melakukan proses pematangan.

"Saya senang faktor IT bukan hanya dianggap pendukung tapi elemen kolaborasi. Ini pengalaman baru yang mengasyikan buat saya," timpal Wok.

Situs wwww.urfearmpg.net kini sudah dibuka dan bisa ditonton sampai 30 November 2020. Sebagian pementasan bersifat interaktif dan membutuhkan penonton untuk membangun cerita.

Teater Garasi Performance Instute Buat Ruang Pertunjukan VirtualTeater Garasi Performance Instute Buat Ruang Pertunjukan Virtual Foto: Teater Garasi/ Istimewa

Seniman yang berpartisipasi dalam proyek ini di antaranya adalah Abdi Karya lewat lecture performance, Andreas Ari Dwinanto yang melibatkan interaksi penonton, dan Arsita Iswardhani lewat pertunjukan panjang selama 4 jam lamanya.

Kemudian ada pertunjukan tari yang dibawakan oleh Darlane Litaay asal Papua. Gunawan Maryanto menggelar pertunjukan interaktif langsung atau live, M Nur Qomarudin pentas dengan teater gim interaktif, Micari asal Jepang unjuk gigi lewat video, seniman teater Flore Timur melalui teater, Venuri Perera asal Sri Lanka, hingga Yasuhiro Moringga asal Jepang dan Nya Ina Raseuki.

Rangkaian proyek Multitude of Peer Gynts berlangsung sejak 2018 dan merupakan salah salah satu pemenang penghargaan tingkat dunia Ibsen Scholarship 2019.



Simak Video "Uniknya Seni Pertunjukan Gabungan, Jakarta."
[Gambas:Video 20detik]
(tia/doc)