detikHot

art

Hebat! Proyek Kolaborasi Teater Garasi Raih Beasiswa Ibsen dari Norwegia

Senin, 23 Sep 2019 10:35 WIB Tia Agnes - detikHot
Foto: Tomomi Yokosuka/ Istimewa Foto: Tomomi Yokosuka/ Istimewa
Jakarta - Sukses menggelar pertunjukan di Flores Timur, proyek kolaborasi inter-Asia Teater Garasi yang berjudul 'Multitude of Peer Gynts' sukses mendapat beasiswa Ibsen 2019. Diinisiasi oleh Yudi Ahmad Tajudin dan Ugoran Prasad, proyek kolaborasi mereka disetujui bersama 4 proyek seni lainnya.

Beasiswa Ibsen 2019 menjaring 149 proyek seni dari 60 negara di seluruh dunia. 'Multitude of Peer Gynts' mendapat hibah kompetitif bersama dengan proyek lain yang berasal dari India, Prancis, Lebanon, dan Tiongkok.

Menurut tim juri Ibsen, proyek kolaborasi dianggap sangat menjanjikan dalam penggunaan pendekatan silang budaya.

"Proyek ini juga ambisi para seniman yang terlibat dalam melihat sang petualang global legendaris karya Ibsen, 'Peer Gynt' sebagai kerangka kisah-kisah pergerakan (mobility), perlintasbatasan, perjalanan tanpa rencana (drifting), dan ketakberumahan (homelesness)," tulis siaran pers yang diterima detikcom, Senin (23/9).


Hebat! Proyek Kolaborasi Teater Garasi Raih Beasiswa Ibsen dari NorwegiaFoto: Tomomi Yokosuka/ Istimewa


Anugerah yang didirikan Kementerian Kebudayaan Noewegia itu setiap dua tahun menggelar Festival Ibsen di Norwegia. Mereka kerap memberikan hibah kompetitif untuk proyek teater dan seni yang inovatif dari seluruh dunia.

Proyek kolaborasi ini menggandeng 5 seniman ternama dari Asia. Yakni Takao Kawaguchi (performance artist-penari-koreografer), Yasuhiro Morinaga (seniman bunyi-komponis) dan Micari Fukui (aktor-performer) dari Jepang, Venuri Perera (koreografer-penari) dari Sri Lanka, dan Nguyen Manh Hung (perupa) dari Vietnam.

Mereka juga berkolaborasi dengan seniman-seniman Teater Garasi, serta seniman-seniman lain di kota-kota tempat proyek ini dipentaskan. Seperti seniman Flores Timur dan seniman-seniman dari Shizuoka Performing Arts Center-Jepang.

"Proyek kesenian ini membalik kebiasaan selama ini; Indonesia dibaca dunia dan dikisahkan melalui sudut pandang orang luar. Dalam kolaborasi ini justru seniman Indonesia dan Asia membaca perkembangan dunia melalui tafsir ulang sebuah kanon Eropa, 'Peer Gynt' karya Henrik Ibsen," TUKAS Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud, Hilmar Farid.

Photo Gallery
Halaman
1 Tampilkan Semua

(tia/doc)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com