Solo, Riwayat Pujangga, dan Sumpah Pemuda

Bayu Ardi Isnanto - detikHot
Rabu, 28 Okt 2020 19:54 WIB
Pembukaan MasDon Art Center di Solo
MasDon Art Center di kota Solo Foto: Bayu Ardi Isnanto/ detikcom
Solo -

Sumpah Pemuda menjadi momen bagi insan seni Kota Solo mengingat kembali perkembangan sastra Indonesia pada 'era baru' di masa itu. Kemunculan Algemene Middelbare School (AMS) atau sekolah budaya timur di Solo menarik garis lurus sejarah sastra Kota Bengawan.

Dalam pembukaan MasDon Art Center di Jalan Empu Gandring, Kemlayan, Serengan, Solo, Rabu (28/10/2020), dipamerkan arsip sejarah sastra. Tampak bahwa sastra atau kapujanggan ternyata telah mengakar kuat di Solo sejak nenek moyang.

Pendiri MasDon Art Center, Sardono W Kusumo, mengatakan pada tahun 1920-an menjadi momen luar biasa bagi para pemuda. Ketika dunia sedang gencar menggalakkan antikolonialisme, pemuda Indonesia turut membuat gerakan seperti Sumpah Pemuda 1928.

Pada waktu hampir bersamaan, tahun 1926, berdiri sekolah multikultural AMS di Solo. Dari situ, lahirlah para pemuda yang kemudian menjadi sastrawan ternama, seperti Tjan Tjoe Siem, Armijn Pane dan Amir Hamzah.

Pembukaan MasDon Art Center di SoloPembukaan MasDon Art Center di Solo Foto: Bayu Ardi Isnanto/ detikcom

"Pemuda saat itu sudah sadar banget, mereka lahir pada zaman baru saat itu, menolak penjajahan. Momen itu berdiri rintisan SMA, judulnya budaya timur. Sastra menjadi menu utama," kata Sardono usai pembukaan MasDon Art Center.

Pendirian AMS meneruskan sejarah panjang kapujanggan di Solo. Sebut saja nama Yosodipuro hingga Ronggowarsito yang terkenal sejak zaman Nusantara, juga berasal dari Solo.

"Solo dikenal bukan hanya raja-rajanya, tapi juga pujangganya, Yosodipuro, Pajangsoro yang melahirkan Ronggowarsito. Ronggowarsito punya murid Ki Padmosusastro," ujar dia.

"Lalu ada namanya Purbacaraka yang melahirkan Fakultas Sastra UGM. Dari kampus itu melahirkan WS Rendra, Sapardi Djoko Damono, Arswendo Atmowiloto. Kemudian muncul Wiji Thukul, Sosiawan Leak di masa sekarang," imbuhnya.

Menurutnya, seni berkaitan kuat dengan kemanusiaan dan kemerdekaan. Dengan belajar seni, manusia memiliki naluri tentang kebebasan.

"Seni bukan teknik, tapi belajar kembali tentang arus besar karya sastra, karya musik, keroncong, dan lainnya. Seni mengandung naluri yang membebaskan manusia dari sebuah keputusasaan menuju kemerdekaan," kata dia.

Pembukaan MasDon Art Center di SoloPembukaan MasDon Art Center di Solo Foto: Bayu Ardi Isnanto/ detikcom

Sementara itu, sejarawan Solo, Heri Priyatmoko, mengatakan hari ini bertepatan dengan 130 tahun berdirinya Museum Radya Pustaka. Dari ruang itulah para pujangga dahulu berkumpul dan mencipta karya sastra.

"Ini bukti bahwa Solo adalah sarang pujangga. Sebagai penegas Kota Kapujanggan, tanpa ragu Presiden Soekarno memilih halaman museum Radya Pustaka untuk didirikan patung Ronggowarsito," katanya usai menghadiri pembukaan MasDon Art Center.

Adapun pameran arsip sejarah sastra di MasDon Art Center dibuka dengan penampilan sejumlah seniman. Salah satunya ialah sastrawan Sosiawan Leak yang membawakan tiga buah puisi.

Pameran akan dibuka hingga akhir Desember 2020. Masyarakat umum dapat berkunjung namun dengan protokol kesehatan, yakni pembatasan jumlah pengunjung, memakai masker dan jaga jarak.



Simak Video "Langgar Aturan, Ratusan APK Bajo dan Gibran-Teguh Dicopot!"
[Gambas:Video 20detik]
(bai/tia)