Review

Merawat Ingatan tentang Munir dari Panggung Monolog

Tia Agnes - detikHot
Minggu, 11 Okt 2020 12:56 WIB
Pentas Monolog Daring Aku, Istri Munir Persembahan Titimangsa Foundation
Foto: Antony Octovia, Titimangsa Foundation/ Instagram
Jakarta -

"Burung apa yang berkicau pada malam yang seperti sekarang ini? Burung malam tentunya yang matanya mampu menembus kegelapan malam. Burung pengintai yang mengincar, pemangsa yang memangsa makhluk-makhluk lain," ucap Happy Salma dalam pembuka monolog teater daring Aku, Istri Munir, sepanjang Sabtu (10/10/2020).

Tahun ini menjadi momen peringatan 16 tahun kematian aktivis HAM, Munir Said Thalib. Munir yang vokal memperjuangkan keadilan dibunuh pada 2004 saat berada dalam penerbangan menuju Belanda.

16 tahun berlalu, kasus kematian Munir masih belum menemui titik terang mengenai dalang utama. Titimangsa Foundation pun menggelar pentas monolog virtual berjudul Aku, Istri Munir.

Naskah yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma pernah dipentaskan di acara peringatan 11 tahun kematian Munir di 2005. Kini Happy Salma membawakan naskah monolog selama 30 menit.

Happy Salma yang dalam monolog menjadi istri Munir, Suciwati, berada dalam ruang kerja yang dipenuhi oleh potret Munir dan anak-anaknya. Ia mengenang kembali momen-momen saat Munir masih hidup, pulang tengah malam, dan menyambut keluarga dengan hangat.

Pada 1991 di hari Minggu, Suciwati berjumpa pertama kali dengan Munir di kantor LBH kota Malang, Jawa Timur. Suciwati kebagian tugas untuk mengadvokasi buruh perempuan dan Munir aktif melakukan kegiatan diskusi dengan mahasiswa.

Empat tahun berikutnya, mereka memutuskan untuk menikah. Tapi, Suciwati takut pernikahan akan menganggu cita-cita perjuangannya.

Pentas Monolog Daring Aku, Istri Munir Persembahan Titimangsa FoundationPentas Monolog Daring Aku, Istri Munir Persembahan Titimangsa Foundation Foto: Antony Octovia, Titimangsa Foundation/ Instagram

"Siapa yang mau menolak takdir? Tidak ada yang mampu melawannya," ucapnya.

Suciwati menyebutkan ada banyak sifat Munir yang dikagumi, tapi satu hal yang jelas, "Dia tidak gila kuasa."

Saat mendengar kabar kematian Munir, keluarga terkejut dan tak percaya. Seminggu setelah kematian Munir, Suciwati menerima teror.

Ada potongan kepala ayam, kaki, lengkap dengan kotorannya, dan secarik surat kaleng bertuliskan 'Jangan libatkan kami'. Teror itu dikirim ke rumah pribadi keluarga Munir dan kantor LBH.

Pentas Monolog Daring Aku, Istri Munir Persembahan Titimangsa FoundationPentas Monolog Daring Aku, Istri Munir Persembahan Titimangsa Foundation Foto: Antony Octovia, Titimangsa Foundation/ Instagram

16 tahun berlalu, ruh Munir selalu ada. Ketika perlawanan ada saat hak hidup orang terampas, Munir ada.

"Bersama kawan-kawan seperjuangan, kita masih membelamu, Munir. Ya, kami ada dan berlipat ganda," ucap Happy Salma mengakhiri monolog, kemarin.

Persembahan Spesial Titimangsa Foundation

Titimangsa Foundation sebagai penyelenggara pentas mengatakan monolog Aku, Istri Munir adalah upaya untuk merawat ingatan dan semangat tentang Munir.

"Ini adalah upaya kami untuk merawat ingatan. Munir tidak sekadar nama, tapi juga menjadi salah satu simbol perjuangan melawan impunitas," tutur Happy Salma selaku produser sekaligus pemain dalam monolog.

Happy Salma pun mengajak masyarakat agar saling berpegangan tangan, menggemakan suara-suara yang selama ini diabaikan. "Dengan segala keterbatasan, proses pentas ini dapat terlaksana dengan baik dan harapannya semoga dapat diterima oleh masyarakat luas." tukas Happy Salma.

(tia/aay)