Nonton Virtual Papermoon Puppet Theatre dengan Mata dan Hati

Tia Agnes - detikHot
Rabu, 05 Agu 2020 12:42 WIB
Pertunjukan Papermoon Puppet Theatre A Bucket of Bettler Digelar Virtual pada 1-2 Agustus 2020
Papermoon Puppet Theatre tampilkan pentas virtual A Bucket of Beetles Foto: Papermoon Puppet Theatre/ Istimewa
Jakarta -

Pandemi COVID-19 membuat Papermoon Puppet Theatre tetap berkarya. Gedung pertunjukan dan ruang kesenian yang ditutup sementara waktu karena Corona tak membuat tim Papermoon Puppet Theatre berdiam diri.

Papermoon Puppet Theatre dan tim Patjarmerah sebagai penyelenggara menggelar seni pertunjukan non-verbal virtual yang berjudul A Bucket of Beetles pada 1-2 Agustus 2020. Sejak awal pengumuman tiket dijual, para pencinta seni antusias membeli tiketnya sampai sold out.

detikcom turut menyaksikan A Bucket of Beetles di jam terakhir pertunjukan pada Minggu (2/8) pukul 20.00 WIB yang ditonton sekitar 220 orang.

Di awal pertunjukan, pendiri Patjarmerah, Windy Ariestanty, meminta para penonton tidak merekam jalannya acara. "Mari menonton produksi ini dengan mata dan hati, karena kami bekerja sangat keras untuk menggelar pertunjukan ini," tuturnya.

A Bucket of Beetles dibuka dengan suasana hutan yang dipenuhi oleh berbagai binatang. Di teras depan rumah, seorang anak laki-laki bernama Wehea sedang tertidur.

Pertunjukan Papermoon Puppet Theatre A Bucket of Bettler Digelar Virtual pada 1-2 Agustus 2020Pertunjukan Papermoon Puppet Theatre A Bucket of Bettler Digelar Virtual pada 1-2 Agustus 2020 Foto: Papermoon Puppet Theatre/ Istimewa

Suatu hari, ia melihat ada seekor kumbang istimewa. Demi kumbang tersebut, Wehea menempuh perjalanan panjang demi bertemu kumbang badak pencari cahaya yang menjadi penyelamat hidupnya.

Suasana hutan yang asri berubah menjadi kelabu ketika orang-orang yang membawa headlamp memasukinya. Mereka menebang pohon, membakar, menghancurkan hutan, dan menggantinya dengan perkebunan salah satunya sawit.

Wehea berusaha menyelamatkan makhluk terkecil di hutan yang selama ini menjadi temannya. Selama dua jam pertunjukan, penonton disuguhi oleh pemandangan pertunjukan non-verbal sinematik Papermoon Puppet Theatre yang berbeda dari biasanya.

Pertunjukan Papermoon Puppet Theatre A Bucket of Bettler Digelar Virtual pada 1-2 Agustus 2020Pertunjukan Papermoon Puppet Theatre A Bucket of Bettler Digelar Virtual pada 1-2 Agustus 2020 Foto: Papermoon Puppet Theatre/ Istimewa

Ada banyak detail yang disorot kamera, misalnya ranting pohon yang jatuh, dedaunan, detail kumbang badak, serangga, kecoa, dan makhluk terkecil dalam hutan lainnya. Rumah Wehea yang hanya terdiri batang-batang pohon dari material sekitar studio Papermoon Puppet Theatre dihadirkan dengan sempurna.

"Semua material pertunjukan diambil dari area sekitar studio, kami nggak boleh membeli apa pun, itu komitmen kami dari awal. Studio kami kebetulan berada di tengah hutan kecil," tutur Maria Tri Sulistyani atau akrab disapa Ria, saat backstage tur A Bucket of Beetles, akhir pekan lalu.

(Lanjut ke halaman kedua...)

Pertunjukan Papermoon Puppet Theatre A Bucket of Bettler Digelar Virtual pada 1-2 Agustus 2020Pertunjukan Papermoon Puppet Theatre A Bucket of Bettler Digelar Virtual pada 1-2 Agustus 2020 Foto: Papermoon Puppet Theatre/ Istimewa

Berbicara dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris, Ria menjelaskan tur belakang panggung dengan antusias. Ria menuturkan ide pementasan virtual ini bermula dari keinginan membawa pengalaman berbeda dari teater konvensional.

"Karena kayak ini mengambil sorot kamera sangat dekat, kami benar-benar membuat set dan visual detail. Detail sangat berpengaruh dari pertunjukan ini," sambung Ria.


Cerita dari Anak Lelaki Berusia 5 Tahun

Pertunjukan A Bucket of Beetles diadaptasi dari cerita penuturan seorang anak laki-laki berusia 5 tahun bernama Lunang Pramusesa. Ria menceritakan anaknya itu terobsesi dengan kumbang badak sejak Desember 2019.

Pertunjukan Papermoon Puppet Theatre A Bucket of Bettler Digelar Virtual pada 1-2 Agustus 2020Pertunjukan Papermoon Puppet Theatre A Bucket of Bettler Digelar Virtual pada 1-2 Agustus 2020 Foto: Papermoon Puppet Theatre/ Istimewa

"Lunang terobsesi dengan kumbang dan bertanya 'jika aku ingin bikin pentas cerita tentang kumbang dibawakan kali ini bagaimana?' Kami minta Lunang untuk bercerita dan mengeluarkan ide-idenya termasuk seperti apa bentuk serangga dan kumbang badaknya," kenang Ria.

Akhir cerita dari pertunjukan A Bucket of Beetles pun dibuat oleh Lunang. Ria mengatakan sejak ide mencuat akhir 2019, Papermoon Puppet Theatre memulai prosesnya di Jepang.

Pertunjukan Papermoon Puppet Theatre A Bucket of Bettler Digelar Virtual pada 1-2 Agustus 2020Pertunjukan Papermoon Puppet Theatre A Bucket of Bettler Digelar Virtual pada 1-2 Agustus 2020 Foto: Papermoon Puppet Theatre/ Istimewa

"Cerita soal kebakaran hutan dan ending soal Wehea akan cari hutan baru itu juga dibuat oleh Lunang," ucap Ria secara daring.

Papermoon Puppet Theatre sukses mementaskan A Bucket of Beetles saat pandemi COVID-19 secara virtual. Para penonton yang antusias menonton tak hanya berasal dari Indonesia saja, tapi Philadelphia dan Seattle Amerika Serikat, Jepang, Filipina, Korea Selatan, Jerman, hingga Belanda.

(tia/dar)