detikHot

Cerita Pendek

Pandawa Lima

Sabtu, 02 Nov 2019 11:58 WIB Aris Kurniawan - detikHot
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Kejadian ini sudah dua puluh tahun berlalu. Kami telah lupa dan tak ingin mengingatnya, kecuali Maryoso. Saban bertemu denganku, atau dua temanku yang lain pada saat Lebaran atau perjumpaan-perjumpaan tak terduga, seusai ngobrol ke sana kemari, dia akan mengungkapkan kembali kejadian itu.

Seperti teman-temanku yang lain pula, aku sebenarnya sudah jengah, tapi tak sampai hati untuk meminta Maryoso tidak lagi membicarakan itu. Dia teman masa remaja kami yang hidupnya sejak dulu sampai sekarang paling berantakan. Kami khawatir perasaannya akan semakin remuk redam bila kami tak memberinya sedikit kegembiraan dengan mendengarkan omongannya yang paling ngelantur sekalipun. Jadi kami akan selalu pura-pura diam untuk menyimak kata-katanya.

Melihat aku diam dan dia mengira aku betah, Maryoso akan memanjang-manjangkan cerita tentang kejadian itu dengan menggebu dan meyakinkan seolah melihat sendiri kejadian itu. Bila sekali-kali ingin menghindarinya sekarang aku punya cara, yaitu menyetel telepon genggamku berbunyi supaya seolah-olah ada panggilan masuk.

Tak tega sebenarnya melihat dia melongo kecewa ketika aku meninggalkannya. Tapi ini terpaksa aku lakukan karena sebagai sales manager media online kenamaan aku tak punya waktu seleluasa Maryoso. Untuk mengurangi rasa salah aku kadang menyumpalkan uang ke genggamannya sekadar untuk beli rokok.

Kejadian dua puluh tahun lalu itu adalah hilangnya Effendi. Geng kami terdiri dari lima orang anggota: aku, Maryoso, Effendi, Carman, dan Suhada. Kami senang melakukan kegiatan apa pun secara bersama-sama. Itulah kenapa orang-orang menjuluki kami geng Pandawa Lima.

Aku tak tahu bagaimana mereka membandingkan kami dengan tokoh pewayangan yang legendaris itu, tapi yang jelas itu membuat kami bangga dan menolak bila ada anggota baru bergabung, karena nanti jadi Pandawa Enam, Pandawa Tujuh, dan seterusnya. Itu jelas tak ada dalam kisah pewayangan.

Maka apabila anggota geng berkurang satu, orang-orang akan bertanya, "Kok cuma empat, mana satunya?", temanku di luar geng Pandawa Lima ini seakan segan untuk bergabung, atau masuk menggantikan jika salah satu ada yang absen. Jangan bertanya kenapa bisa begitu, karena aku tak bisa menjelaskannya. Seperti sulitnya menjelaskan hilangnya Effendi di Taman Wisata Plangon kepada Maryoso.

Waktu itu kami pergi ke Taman Wisata Plangon dalam formasi lengkap. Hari itu kami membolos sekolah dan membuat janji bertemu di perempatan lampu merah. Kami mengadang dan numpang mobil pick up yang melaju ke arah tujuan kami dengan sedikit memaksa. Ide berkunjung ke lokasi wisata yang berisi monyet itu pertama kali dilontarkan oleh Maryoso. Itulah barangkali musabab sampai sekarang dia merasa yang paling bersalah atas hilangnya Effendi.

Waktu kami masuk ke taman wisata yang berlokasi di lereng Gunung Ciremai itu sekitar jam dua siang. Kami tak punya firasat apa-apa. Kami tertawa bersama-sama melihat tingkah lucu para monyet dan ledek-ledekan seperti biasa.

Effendi sebenarnya anak yang pemalu. Tapi bersama kami dia terlihat jadi pemberani, karena walaupun kami saling meledek, tapi kami saling membela dan memberi dukungan ketika salah satu anggota kami membutuhkannya. Maka kami pun akan lolos dari perpeloncoan kakak kelas. Benar kata ungkapan, harimau hanya akan memangsa domba yang sendirian.

Kami tengah terpingkal-pingkal melihat tingkah seekor monyet yang kami pakaikan baju, ketika Effendi tergopoh-gopoh meninggalkan kami. Dia bilang mau ke toilet yang berada di bawah dekat pintu masuk. Dia menolak saran kami untuk membuang air seninya di bawah pohon atau semak. Tapi dia tak pernah muncul-muncul lagi.

Sampai menjelang maghrib ketika petugas meminta kami untuk segera meninggalkan tempat wisata karena mau ditutup, Effendi tak juga menampakkan batang hidungnya maupun batang-batang yang lainnya. Setelah putus asa mencari dan menunggu dia, akhirnya kami pulang tanpa Effendi.

Sepanjang jalan kami mengutuki dia karena mengira dia pulang lebih dulu meninggalkan kami. Sampai dua hari kemudian Effendi tak nongol juga. Kami berencana ke rumahnya sore nanti sepulang sekolah, tapi menjelang tengah hari bapaknya mendatangi sekolah kami dan menanyakan keberadaan Effendi kepada kami. Tentu saja kami menceritakan yang sebenarnya.

Ibunya yang datang belakangan langsung seperti orang sinting memarah-marahi kami yang membisu seperti seonggok cucian. Bapak Effendi mencoba menenangkan istrinya. Tapi usaha itu tak terlalu berhasil.

Bapak Effendi bersama wali kelas Effendi mengajak kami ke Plangon untuk menyusuri jejak anaknya.

"Cari dia sampai dapat, jangan kembali sebelum anakku ditemukan," raung ibunya menggemparkan sekolah kami.

Kami dibantu petugas Taman Wisata Plangon serta sejumlah polisi menyebar menyisir Taman Wisata Plangon mencari teman kami yang tak pernah ditemukan jejaknya sama sekali. Hilangnya Effendi di Plangon kemudian jadi berita yang disiarkan koran lokal radio-radio di kota kami. Lalu berkembanglah berbagai pendapat ke mana hilangnya Effendi. Ada yang bilang Effendi diculik raja monyet dan dijadikan budak monyet di kerajaan siluman monyet. Ada pula yang berpendapat Effendi digondol jin.

Tentu saja kami shock dan sedih sekali. Bukan hanya karena membayangkan Effendi dijadikan budak di kerajaan siluman monyet, tapi juga julukan geng kami bakal berubah menjadi Pandawa Empat. Kami sedih terutama karena geng kami tampaknya bakal bubar setelah kejadian ini.

Dan itu benar-benar terjadi. Tak ada lagi kegiatan yang kami lakukan bersama-sama kecuali saling diam setiap kami bertemu di kantin sekolah. Wajah kami menunduk tak ingin saling menyalahkan, untuk kemudian satu persatu meninggalkan kantin dengan mulut terkunci.

Bertahun-tahun kami dihantui pertanyaan ke mana sesungguhnya Effendi menghilang. Ketika beberapa bulan lagi kami menghadapi ujian kelulusan, Maryoso bicara kepada kami dengan lirih seperti berbisik bahwa Effendi sebenarnya tidak hilang. "Dia berubah wujud jadi monyet dan kini dia jadi penghuni Plangon."

Kami tak melihat wajah Maryoso dalam ekspresi bercanda seperti selama ini, tapi saat itu kami mulai was-was otak teman kami ini telah bergeser dan membuatnya keliru membedakan mitos dan kenyataan. "Pawang yang bertugas menjaga monyet di sana yang mengatakannya padaku," tambahnya.

Kami ingin marah kepada Maryoso, tapi rasanya sulit sekali. Malah perlahan-lahan kengerian menjalari perasaan kami. Memang ada cerita yang beredar di mulut ke mulut bahwa monyet yang menghuni Taman Wisata Plangon bukan monyet biasa, melainkan dulunya manusia yang dikutuk jadi monyet gara-gara berkhianat atau melakukan kesalahan besar kepada Pangeran Panjunan, penguasa Kesultanan Cirebon dahulu kala.

Ada juga yang bilang mereka dulunya orang yang memelihara pesugihan. Ketika mati rohnya tak diterima oleh Tuhan. Tapi yang paling menyedihkan adalah cerita bahwa monyet-monyet itu dulunya orang yang jadi tumbal tumbal pesugihan. Bagaimana tidak menyedihkan, sudahlah mati jadi tumbal, sesudah mati jadi monyet pula.

Sejak itu kami tetap saling membisu setiap bertemu. Tetapi tak urung suatu malam kami membuat janji berkumpul di suatu tempat yang sepi untuk mendengar cerita Maryoso lebih lanjut karena kami merasa penasaran. Karuan saja Maryoso makin semangat menceritakan bahwa Effendi jadi tumbal pesugihan orangtuanya sendiri.

"Kebetulan waktu itu jumlah monyet di Plangon berkurang satu, maka supaya tetap berjumlah 333, diambillah Effendi menjadi monyet," ujar Maryoso. Jumlah monyet di Plangon dipercaya sejak dulu 333 ekor, tidak bertambah tidak pula berkurang.

Menurut pawang monyet merangkap dukun di Plangon, begitulah Maryoso menyebut sumber pengetahuannya, orangtua Effendi terikat perjanjian dengan monyet jadi-jadian yang telah memberi mereka kekayaan untuk menyerahkan anaknya apabila mereka tidak bisa mendapatkan tumbal lain dalam waktu yang sudah disepakati.

Lagi-lagi kami tak membantah atau mengiyakan cerita Maryoso. Sejak Effendi hilang, Maryoso tampaknya jadi sering bergaul dengan dukun untuk menerawang keberadaan teman kami yang hilang itu.

Pada hari perpisahan setelah menerima amplop yang berisi pengumuman kelulusan kami, Maryoso berkata lagi dengan cara sama, berbisik-bisik, "Aku sudah menemukan Effendi. Maksudku monyet yang dulunya Effendi," kata Maryoso melipatgandakan perasaan ngeri kami. Sulit dan seram sekali membayangkan melihat seekor monyet yang dulunya bagian dari anggota geng Pandawa Lima.

Aku menolak ketika Maryoso mengajak ke Plangon untuk melihat monyet Effendi. Tak tahu dengan Carman dan Suhada, apakah mau diajak atau tidak. Kami tak pernah membicarakannya lagi. Sibuk dengan dunia baru kami.

Aku, Carman, dan Suhada berlesatan ke kota yang berbeda untuk melanjutkan kuliah dan mengambil pilihan hidup masing-masing. Hanya Maryoso yang bertahan di kampung. Dia menikah dengan seorang dukun dan tinggal di desa istrinya di sebelah Taman Wisata Plangon.

Lama-lama Maryoso juga setengah menjadi dukun. Mungkin untuk mengimbangi karier istrinya yang melesat jadi dukun kampung terkenal. Tetapi tetap saja Maryoso tak mampu mengejar kesaktian ilmu perdukunan yang dimiliki istrinya. Itu membuat dia merasa tertekan. Namun tak berani menceraikan perempuan yang usianya sepuluh tahun lebih tua dari suaminya itu, kecuali kalau Maryoso berani menanggung risiko dikutuk jadi monyet dan menghuni Plangon.

Maryoso pernah sesumbar bahwa jika kesaktian ilmunya dan ilmu istrinya digabungkan jadi satu kekuatan akan mampu mencabut kutukan dan mengembalikan wujud Effendi menjadi manusia. "Tapi syaratnya harus pakai tumbal untuk menggantikan Effendi."

Sekarang kami hanya bisa memaklumi Maryoso yang tak mau menyerah dengan keyakinannya itu. Kami merasa tak perlu menceritakan ke mana sebenarnya Effendi menghilang. Dalam pikiran buruk kami, mengetahui ke mana sesungguhnya Effendi menghilang justru akan merusak kebahagiaan Maryoso.

***

Malam sebelum esoknya Effendi bersama kami pergi mengunjungi Plangon, dia mendengar bapak dan ibunya kembali adu mulut. Dan malam itu rupanya puncak pertengkaran mereka. Bapaknya berteriak menjatuhkan talak kepada ibunya. Mendengar suaminya menjatuhkan talak, perempuan itu menantang untuk segera mengurus perceraian mereka.

"Ratusan kali kamu mengucapkan itu. Tapi tak pernah punya nyali membuktikannya. Laki-laki pecundang!"

"Kamu memang sundal!"

"Sundal yang telah menghidupimu bertahun-tahun!"

Lalu terdengar entah gelas entah piring dibanting. Di dalam kamar Effendi mendengar semuanya. Dia sedih, marah, dan ingin menangis. Selain menahan perasaan itu, Effendi tak dapat melakukan apa-apa untuk menyelamatkan kedua orangtuanya dari perceraian. Mereka lebih mirip buaya dan kudanil yang tinggal di dalam satu penangkaran. Tak ada harapan untuk didamaikan.

Effendi berangkat ke Plangon bersama kami dengan membawa rencana yang dia sembunyikan dari kami. Ketika dia izin ke toilet, dia memang benar ke toilet. Tapi sekeluar dari dari bilik toilet dia muncul dengan baju yang berbeda dari waktu kami berangkat, dia mengadang angkot yang ke arah Terminal Harjamukti. Dari sana dia naik bus jurusan Kediri. Dia menuju pondok pesantren mengikuti sepupunya yang sudah lama mondok di sana.

Effendi mengabari keberadaan dirinya kepada orangtuanya setahun kemudian. Tetapi teman kami Maryoso dengan kepercayaannya bahwa Effendi berubah wujud menjadi monyet di Plangon tak dapat kami selamatkan. Mungkin untuk menghibur diri bahwa ada yang lebih buruk nasibnya ketimbang dirinya.

Maryoso benar, nasibnya lebih baik dari Effendi. Karena setelah mondok, Effendi bergabung dalam kelompok orang-orang yang menghujat apa pun yang berada di luar kelompoknya. Kabar terakhir dia jadi pelaku bom bunuh diri dan tewas ketika menjalankan operasinya menghancurkan rumah ibadah.

Belakangan Carman dan Suhada bercerita bahwa mereka pernah melihat monyet yang dipercaya Maryoso sebagai perwujudan Effendi. Lucunya, atau sialnya, kata mereka, monyet jelmaan Effendi di Plangon punya kelompok sendiri yang terdiri lima ekor monyet. Maryoso menamai kelompok monyet ini sebagai geng Pandawa Lima.

Aris Kurniawan lahir di Cirebon 24 Agustus 1976. Buku terbarunya berjudul Monyet Bercerita (Basabasi, 2019)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



Simak Video "Gerakan Relaksasi Beragama ala Penulis Feby Indirani"
[Gambas:Video 20detik]
(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com