DetikHot

art

Mengapa Kita Membenci Babi?

Sabtu, 04 Nov 2017 10:25 WIB  ·   Daruz Armedian - detikHOT
Mengapa Kita Membenci Babi? Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Mengapa kita membenci babi? Satu pertanyaan kau utarakan sambil membuka jendela. Matamu menatap ke luar sana. Petang. Hujan pelan. Kau pasti sedang mengingat kejadian kemarin dan kejadian-kejadian sebelumnya. Orang-orang membunuh babi. Mereka menusuknya dengan tombak atau benda tajam lain hingga koyak. Sampai hewan itu mengerang, dari mulutnya muncul suara yang amat memilukan. Lalu, pertanyaanmu, haruskah aku menjawabnya?

Aku di belakangmu, duduk di kursi tua, mungkin seumuran penjajahan Belanda, membaca buku. Di atasku lampu ukuran mini dengan cahaya yang tak terlalu terang, tapi cukup membuat huruf-huruf di buku ini kelihatan dan cukup membuatku bisa melihat dengan jelas punggungmu.

Aku memandangi punggungmu dan kau tentu saja, dengan pertanyaan itu, tak perlu mengalihkan tatapan dari hujan.

Ya, mestinya kita tak perlu membencinya, kataku. Aku menutup buku dan diam-diam mengingat sesuatu hal yang berkaitan dengan pertanyaanmu itu.

Aku kecil hidup di kampung terpencil. Kampung berdempetan hutan yang masih membiarkan babi-babi hidup makmur dan berkeliaran. Kampung yang entah kenapa, di sana, di paling ujung, terbangun sebuah surau. Surau yang menyediakan kentongan dan bedug. Surau yang selalu memberi petuah-petuah lewat mulut orang tua, berjenggot putih, berambut putih, dan berpeci putih. Dari mulut itulah, aku sering mendengar alasan kenapa kita harus membenci babi.

Kalau sore tiba (seperti waktu saat ini), aku siap-siap mengambil sarung dan peci— yang aku sendiri tidak pernah mempertanyakan kenapa peci itu lusuh dan kusam sekali. Tak ada yang kukerjakan selain itu. Sebab di rumah, selalu membosankan, melihat pertengkaran antara ibu dan bapakku. Sepanjang perjalanan ke tempat mengaji, aku sering melihat kira-kira lebih sepuluh ekor babi. Jinak atau tidak jinak. Babi-babi itu ada yang milik orang dan ada yang milik jalanan.

Tak ada yang kutakutkan dari babi-babi itu, sebab mereka tidak mengganggu. Bahkan aku pernah menyentuhnya. Babi-babi itu lucu. Apalagi yang masih kecil. Tetapi, semenjak ngaji di surau, aku dibuat bingung. Kenapa babi tidak boleh disentuh, apalagi dimakan. Padahal, kata teman-temanku, daging babi sama saja dengan daging sapi. Sama-sama enak dimakan.

Begitulah ceritanya kenapa aku jadi tidak suka babi. Otakku seperti kena doktrin. Kakek tua itu mengatakan, kalau kita menyentuh babi, maka wajib membasuh anggota badan dengan air sebanyak tujuh kali dan salah satunya diberi pasir atau debu. Karena babi itu najis. Dan bahkan bukan sembarang najis. Najis mugholadhoh. Najis paling tinggi tingkatannya di atas najis-najis yang lain. Dagingnya haram dimakan. Dan sesuatu yang haram kalau dimakan, akan membuat kita berdosa. Dosa membuat orang masuk neraka. Neraka itu penuh dengan bara api dan penyiksaan. Aku takut berdosa. Aku takut masuk neraka.

Aku mengulang perkataan kepadamu, ya, mestinya kita tidak perlu membenci babi.
“
Babi tidak pernah berdosa. Tetapi kenapa mereka berbondong-bondong memburunya, membunuhnya?” Kau menghadapku. Memunggungi jendela. Jendela yang masih memperlihatkan keadaan bahwa di luar hujan turun pelan-pelan.
“
Menurutmu, kenapa?” balasku balik bertanya.
“
Orang-orang itu memandang babi dengan sebelah mata. Agama mereka memang melarang menyentuh dan memakan babi, tetapi tidak menyuruh untuk membunuhnya. Babi sama halnya dengan hewan lain. Sama seperti kita juga. Butuh hidup nyaman. Butuh ketentraman. Aku tak pernah membayangkan, betapa mengerikannya hidup di tengah-tengah ancaman.” Kau semakin serius.
“
Dulu aku pernah membenci babi. Tapi, tak pernah memburu, apalagi membunuhnya.”

Ya. Aku pernah membenci babi, namun tak pernah membunuhnya. Waktu itu, waktu semasih mengaji dan sudah tahu kalau babi najis menurut agamaku, seekor babi kecil masuk ke halaman rumahku dan menginjak-injak bunga di sana. Dengan sengaja aku melempar batu dan ternyata tepat mengenai kepalanya. Hewan itu sempoyongan dan akhirnya ambruk. Aku merasa kasihan ketika mendekatinya dan melihat matanya terpejam, napasnya terengah-engah. Kubopong ia ke dalam rumah, kubiarkan tubuhnya tergeletak di tanah.

Pipiku tiba-tiba basah ketika memandangi matanya yang terpejam mengeluarkan air mata. Betapa menyakitkan menjadi babi ini, pikirku. Sampai lama aku menunggu akhirnya babi itu bangun, meski dengan sempoyongan, ia keluar rumah lalu entah menuju ke mana lagi. Semenjak itu aku berjanji, tak ada yang mesti dibenci dari babi.
“
Akhir-akhir ini banyak orang memburu babi. Mereka membunuhnya dengan sadis.” Dan benar dugaanku, kau mengingat hari-hari itu. Di dekat sungai belakang rumah kita, orang-orang membunuh babi. Di samping bendungan, orang-orang membunuh babi. Dan di mana pun berada, babi-babi akan diburu dan dibunuh. Di jalan-jalan sempit atau di semak-semak. Hingga kini, di sini jarang sekali ditemui babi.
“
Kata mereka, sekarang banyak babi ngepet. Babi ngepet mencuri harta orang. Tetapi, buktinya ketika babi itu dibunuh, matinya tetap berbentuk babi. Apakah mereka tidak ingat kalau di kampung ini memang mulanya banyak babi?” Akhirnya, kau bercerita bahwa kampungmu ini, memang sudah terbiasa dengan babi. Sama seperti di kampungku dulu. Aku masih ingat ketika kita menikah, babi-babi berkeliaran dan orang-orang membiarkan. Aku masih ingat ketika masih menjadi pengantin baru di sini, di rumahmu. Babi-babi berkeliaran, dan orang-orang membiarkan begitu saja. Toh, mereka tidak mengganggu siapa-siapa.
“
Mungkin mereka terpengaruhi tayangan film babi ngepet di televisi.” Kataku santai. Sejenak, aku berdiri dan mendekatimu. Di luar, hujan sudah reda. Dan di jendela ini, aku ingin kau tak perlu memikirkan hal-hal yang aneh. Mending kita bercinta.
“
Apa kamu percaya, di sini ada babi ngepet

“Tidak, Sayang. Tidak. Orang-orang memang sentimentil.” Aku merengkuh tubuhmu. Kau membiarkan tanganku memeluk pinggangmu. “Tapi aku percaya, kalau cinta akan membuat kita bahagia selamanya meski hidup dalam rumah yang sederhana ini.”
“
Ih, gombal.” Kau mencubit hidungku.

Di tengah-tengah itu, kau mengatakan teringat sesuatu. Kau ada janji dengan Bu Sayu, si penjual tempe gembus. Ketika itu, aku juga teringat sesuatu. Nanti malam adalah bagianku menjaga kampung di pos ronda bersama Ngalimin, Tejo, Wardiman.

Akhirnya, sebelum kita sama-sama pergi dari rumah ini, kau menerima ajakanku bercinta. Di dalam kamar yang sederhana. Di atas kasur yang mulai kusam. Tetapi, kebahagiaan akan tetap menjadi kebahagiaan. Tanpa pandang waktu dan lingkungan. …

***

Hati-hati ya, kataku ketika kau pamit ke rumah Bu Sayu. Ya, begitulah kau menjalani hidup denganku. Kau sekarang ikut membantu Bu Sayu membuat tempe di malam hari, dan paginya baru dijual ke pasar. Hasilnya dibagi dua. Semua itu untuk membantu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Aku cuma petani pemilik sawah sepetak yang menunggu panen dengan tabah. Dan ketika panen gagal, aku hanya bisa pasrah.

Kau juga. Awas, jangan sampai ikut-ikutan membunuh babi. Dosa besar.” Katamu mengancam. Tetapi dengan wajah yang tetap lucu dan menggemaskan.

Mendengar perkataan tentang babi, spontan aku mengatakan, “eh, atau mau aku antar?”

Kau menggeleng. Tidak perlu. Tak ada babi yang mengganggu.

Ketika kau pergi dan menutup pintu, aku kembali resah seperti malam-malam biasanya. Semua harga-harga naik. Mulai dari bahan makanan, pupuk, dan barang-barang lainnya. Ekonomi makin sulit. Aku mondar-mandir di dalam rumah. Memikirkan pekerjaan yang menghasilkan uang. Tidak semestinya kau yang bekerja seperti itu. Sebagai lelaki, jelas aku yang malu.

Aku melihat jam, masih pukul tujuh. Jam delapan adalah waktunya berangkat ke pos ronda. Sambil menunggu, aku membaca buku. Sebagai sarjana, tentu hal itu tidak perlu dibahas. Membaca buku adalah kewajiban sehari-hari meski toh pekerjaanku sekarang ini bertani. Kulihat kembali jam, ternyata waktu terasa lebih lambat dari biasanya. Sampai pada suatu waktu yang mungkin telah ditentukan, mataku ngantuk sengantuk-ngantuknya. Tak bisa kutahan. Tidur menjadi pilihan.

Aku terjaga jam satu dini hari karena kaget mendengar teriakan orang-orang. Jelas, aku mulai menebak, orang-orang itu membunuh babi lagi, seperti malam-malam biasanya. Entah kenapa, aku menjadi geram. Apalagi aku masih ingat betul penjelasan istriku. Babi juga makhluk yang perlu rasa aman.

Terpaksa aku keluar rumah, karena keramaian itu semakin menjadi-jadi. Ketika membuka pintu dan melihat sekeliling, kutemukan kerumunan orang di bawah rimbun pohon bambu yang tidak jauh dari rumahku. Dengan keadaan masih ngantuk, aku berusaha ikut nimbrung.

Benar dugaanku. Seekor babi mati mengenaskan. Kenapa kalian membunuh babi? Tanyaku dalam hati. Seperti bertanya pada diri sendiri.

Lalu, sesuatu terjadi di luar nalar pikiranku. Babi itu berubah menjadi manusia. Dan, aku tak bisa berkata apa-apa ketika melihat manusia itu berubah menjadi dirimu. Darah mengucur dari kepalamu. Orang-orang bergantian menatapmu dan kemudian menatapku. Dengan mata yang tajam, mereka seperti ingin menombakku. Di keadaan seperti itu, masih terngiang pertanyaanmu, mengapa kita membenci babi?

Daruz Armedian lahir di Tuban. Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga. Pernah memenangi lomba cerpen tingkat remaja yang dilaksanakan Balai Bahasa DIY tahun 2016

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed