Direktur Artistik Rain Rosidi mengatakan parallel event tersebut mengkhususkan terhadap konflik yang terjadi di tengah warga. "Koflik itu bisa berupa soal sampah, irigasi, relasi antar tetangga, kesenian terkini yang berhadapan dengan seni traisi, penambangan sampai soal hunian baru," ujar Rain, dalam keterangannya kepada detikHOT, Senin (2/11/2015).
Baca Juga: Grup Musik Dialita 65 Hingga Senyawa Ramaikan Pembukaan Biennale Jogja XIII
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, komunitas Arsitektur UKDW, Print Studio and Kulon Progo Printmaking (Wates, Kulon Progo), Anang Saptoto dan Arsitektur UTY (Gunung Sempu, Kasihan, Bantul), Moansnake28 & Art As Therapy (Bausasran, Koya Jogja), dan Kelompok 3.
Simak: Gandeng Seniman Nigeria, Biennale Jogja XIII Resmi Dibuka!
Selain, rangkaian acara yang mengundang 8 komunitas seni, Panggung Literasi Selatan juga digelar pada 2-4 Oktober 2015. Festival selama tiga hari itu, mengajak 47 komunitas dalam desa maupun komunitas literasi terkini untuk menggelar kegiatan bersama.
Serta dua Festival Tanah di Giripeni, Wates Kulon Progo yang mengkolaborasikan pagelaran wiwitan dengan wayang sawah. Acara ini berlangsung pada 30 Oktober 2015 dan diinisiasi oleh kelompok kesini@an dan Gapoktan Giripeni.
(adt/ron)











































