Gereja Maria de Fatima, Gereja Di Rumah Juragan Tionghoa

Arsitektur Gereja Tua di Jakarta (1)

Gereja Maria de Fatima, Gereja Di Rumah Juragan Tionghoa

- detikHot
Selasa, 24 Des 2013 08:18 WIB
Gereja Maria de Fatima, Gereja Di Rumah Juragan Tionghoa
Gereja Maria de Fatima tampak depan, simak wuwungan yang khas bergaya Tiongkok. (Tia Agnes Astuti/detikHOT)
Jakarta - Gereja tak hanya dipakai sebagai rumah ibadat bagi umat Kristiani saja. Namun, di balik itu semua bangunan gereja-gereja tua di Jakarta menyimpan saksi bisu atas sejarah pembangunan ibukota negara ini.

Sekaligus menyimpan pelbagai sejarah berkembangnya agama Kristen, Protestan maupun Katolik. Sayangnya, semua gereja yang didirikan sebelum abad ke-19 di wilayah Kota, yang saat itu menjadi pusat pemerintahan, sudah tak ada lagi.

Kali ini, menjelang hari raya Natal, detikHOT merangkum beberapa gereja-gereja tua yang ada di Jakarta. Bangunan ini tak hanya dilihat dari nilai bersejarah dan arsitektur saja, tapi juga budaya dari gereja tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Di antaranya gereja Portugis yang tertua, gereja di rumah juragan Tionghoa sampai Anglikan di seberang Tugu Tani, Jakarta Pusat. Mau tahu? Berikut di antaranya:

***

Jika Anda berada di kawasan Glodok, mampirkan ke kawasan Petak Sembilan. Di belakang Klenteng Jin-de Yuan berdiri sebuah rumah besar. Kedua sisi pekarangannya diapit oleh dua gedung panjang yang lebih rendah.

Dari depan gerbang, bangunan tersebut bertulisKan 'Gereja Maria de Fatima'. Dari luar saja, tampak warna merah, kuning emas, dan hijau daun yang mendominasi khas bangunan Cina.

Pengurus harian gereja, Idris, 45 tahun mengatakan gereja ini awalnya adalah milik pedagang Tionghoa yang kaya dan berpangkat 'Kapitan'. "Dari depan gerbang, sampai ke belakang, itu semua adalah rumah dan pekarangannya," katanya kepada detikHOT Jumat pekan lalu (20/13/2013).

Idris menceritakan bangunan ini awal dibangun pada abad ke-19. Dari depan bangunan, terlihat dua buah patung singa betina dan jantan yang bermakna penjaga rumah.



Bagian atapnya pun, tampak jelas kedua ujung wuwungan yang mencuat. Serta adanya lambang Salib di tengahnya. Gentengnya pun masih asli dipakai seperti sedia kala.

"Sekilas memang ini tidak seperti gereja, tapi kalau dilihat lebih dekat dan masuk ke dalam, ini memang gereja," kata Idris.

Pria yang dahulunya menjadi penjaga di SMA Katolik Ricci ini mengatakan tadinya gereja ini terdiri dari dua rumah kapitan Cina. Ketika memasuki ke dalamnya, terlihat ada dua bagian penyanggah.




Pertama, kata Idris, yakni bangunan utama tampak tiang penyanggah kayu. Kedua, adalah bagian mimbar atau letak patung Bunda Maria.

"Di tengahnya itu adalah ruang kosong sebagai tempat sembahyang bersama. Setelah dibeli oleh gereja, dikasih atap, dan dijadikan satu bangunan," katanya.

Gereja ini dilindungi Undang-Undang sebagai cagar budaya di tahun 1972. Gereja Maria de Fatima yang dibuka untuk publik pada 1955 silam hingga kini tetap menjaga gaya bangunan khas Fukien atau Tiongkok Selatan.


















(tia/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads