Bayangan Kostum Sirkus Karya Seniman Jepang Hiroshi Koike

Seni Sirkus Masa Kini (2)

Bayangan Kostum Sirkus Karya Seniman Jepang Hiroshi Koike

- detikHot
Jumat, 27 Sep 2013 10:10 WIB
Bayangan Kostum Sirkus Karya Seniman Jepang Hiroshi Koike
Hiroshi Koike
Jakarta - "Bayangkan kostum-kostum itu memiliki wujud tubuh di dalamnya," kata Hiroshi Koike kepada detikHOT di Galeri Salihara Sabtu (14/9/2013) lalu.

Bagi Koike, kostum dari setiap pertunjukan seni teater dan tari yang dipentaskan selama 30 tahun itu memiliki cerita tersendiri. Ada kostum yang 100 persen terbuat dari kertas. Namun, ada pula gaun kimono yang futuristik.

"Kostum busana panggung ini unik. Setiap kelompok teater belum tentu bisa memilikinya. Inilah yang menjadikan Pappa Tarahumara berhasil disukai oleh penonton seluruh dunia," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Pameran pembuka yang menjadi awal dari Bienal Sastra Salihara 2013, dengan 35 kostum sirkus yang dipamerkan mampu membuat siapa pun yang melihat berdecak kagum. Busana-busana panggung yang memiliki kisah tersebut digantung di langit-langit galeri.

"Mereka terlihat mengambang, biarkan setiap dari mereka (pengunjung) yang datang mampu mengartikannya sendiri," kata Hiroshi.

Tak hanya kostum, pria kelahiran Hitachi prefektur Ibaraki ini juga memamerkan beragam alat pendukung pertunjukkan. Seperti boneka bayi telanjang, boneka kain putih, masker rusa, topeng dalam berbagai rupa, dan seni instalasi tubuh berasal dari kawat.



Produksi yang dipamerkan pun melibatkan seniman-seniman terkenal dari Jepang dan Indonesia. Di antaranya seperti Kenji Yanobe, Kaoru Kasai, Hiroharu Hamai, outsect, Hiroyuki Moriwaki, I Wayan Tangguh, Makoto Matsushima dan Jompet Kuswidananto.

***

Di awal pameran, pengunjung bisa menemukan makna terpenting dari kostum-kostum tersebut. Bagi Hiroshi dalam setiap atraksi terdapat tiga elemen. Di antaranya, ruang, waktu dan tubuh.

"Di setiap pementasan saya selalu memulai dengan panggung kosong. Tak ada apa pun di sana, tak ada properti. Tak ada panggung tanpa manusia," ujarnya.

Setelah ada manusia dan objek, mereka mulai bergerak dan membuat waktu. "Saya pun mengisi setiap ruang dengan bayangan manusia, meski di dalamnya tak ada bayangan manusia. Itu sama saja dengan seni instalasi."

Sama halnya seperti pameran Circus yang diadakan bekerja sama dengan Salihara dan The Japan Foundation, Hiroshi ingin mengajak para pengunjung untuk merasakan adanya manusia dalam kostum tersebut.

Ketika memandang beragam karyanya, akan ada kisah mengenai kesedihan, keceriaan, kesepian, keangkuhan, dan kekayaan. Seni sirkus, kata dia, tak selalu menceritakan kebahagiaan semata.

"Karya ini semacam bayangan, meski Anda tak melihat segala bayangan manusia dalam kostum tersebut. Tapi saya harap, Anda semua bisa melihatnya dengan detil dan penuh perasaan suka cita," kata Presiden of Performing Art Institute (PAI), Jepang ini.



Pameran kostum Circus sejak 1982-2012 ini akan berlangsung hingga akhir bulan ini. Nantinya, bersama dengan Hiroshi Koike Bridge Project mereka akan menampilkan pementasan seni teater-tari atas penafsiran novel Kenji Mizayawa yang berjudul 'The Restaurant of Many Others' pada 19-20 Oktober mendatang.





(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads