Ini melanggar peraturan, bukan? Namun hal semacam ini terulang dan terbiarkan. Hingga pada satu titik, seniman Irwan Ahmett mampu memberi pemaknaan di luar arus utama.
Pria berusia 38 tahun ini, mengemas pemaknaan tersebut dalam karya bertajuk Urban Bender yang dipamerkan pada festival OK Video 2013. Benang merah dari karya seni yang dibuat oleh Irwan memang seringkali dekat dengan konteks urban dan partisipasi publik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan bahwa target pertama dari karyanya adalah untuk dirinya sendiri. Ia ingin mengukur elastisitas peraturan dan kepatuhan yang ada. Menjadikan ini tertawaan bagi diri sendiri. Namun, bonusnya adalah bila hal ini juga bisa dipahami untuk membentuk sebuah kesadaran pada masyakat.
Karya Urban Bender mengambil dua lokasi, yang pertama di Galeri Nasional, Jakarta Pusat. Di sana ia menempatkan sebuah set ruang bernuansa hitam, dengan sebuah meja yang mirip dengan mimbar di bagian tengah. Meja tersebut berisi sebuah buku catatan siap robek yang kosong dan stempel. Ini adalah petunjuk menuju lokasi kedua.
Disana, Irwan juga meletakkan dua buah televisi yang terpampang sejajar dengan sebuah salib berlampu di bagian tengah-atasnya. Pada lokasi pertama ia menayangkan video podcast berisi presentasi karyanya dan tayangan live streaming yang menanyangkan wajah pengunjung di lokasi ke dua.
Lokasi ke dua, Irwan memilih Pasar Kalibaru, Poncol-Senen, Jakarta Pusat. Disini ia bekerja sama dengan tukang service televisi. Ia pun menggunakan 12 televisi yang memutarkan video-video buatannya, yang dirancang untuk memperkuat argumennya.
"Karya-karya ku selalu terkait dengan publik, kalau di galeri, itu publik juga tapi terbatas. Pada saat itu ditarik keluar, hal itu benar-benar mengintervensi banyak hal," ujarnya. Ia juga menjelaskan bahwa ini merupakan platform yang akan ia gunakan selama beberapa tahun kedepan.
Yang memperkaya pengalamannya dengan menggarap karya ini, salah satunya adalah melihat reaksi publik yang awam dengan wacana seni kontemporer.
"Mereka lebih naif dalam melihat seni-seni yang kontemporer, karena tanpa ada wacana, juga pengetahuan yang cukup, ini dibenturkan. Kontras itu yang jadi menarik."
***
Ide pembuatan materi ini berawal ketika ia menjalani residensi selama dua bulan di Berlin, German. Disana ia melihat kota tersebut sangat kaya dengan peraturan yang ketat, sementara masyarakatnya banyak yang coba membengkokkan peraturan tersebut.
"Sehingga peraturannya mulai ada pergeseran bahkan pergesekkan, tapi mereka melakukan ini dengan kesadaran," jelas Irwan.
"Di Jakarta ini ada juga, tapi tanpa kesadaran, ini karena kebutuhan. Seperti misalnya jalan, dipakai untuk orang kawinan, pengajian, main bola, dan lainnya."
Dalam pemahamannya, untuk fungsi-fungsi semacam ini, publik memiliki penafsiran yang sangat independen tergantung apa yang mereka inginkan, dan ini masih mungkin dilakukan.
Keterkaitan karya dengan tema Muslihat yang diangkat oleh Ok Video festival tahun ini adalah bagaimana ia melihat masyarakat 'mengakal-akali', melakukan tindak muslihat terhadap regulasi resmi yang dibuat oleh sistem pemerintahan.
"Seperti joki 3 in 1, jadi peraturan seperti dibengkokkan saja. Ini muncul karena situasi. Aku melihat potensi disitu bagaimana melakukan muslihat-muslihat," kata Irwan.
Irwan sendiri menekankan, bahwa ia tidak mau menghakimi apa perilaku ini benar atau salah, karena setiap perilaku memiliki alasannya sendiri.
"Jakarta ini enggak bisa diselesaikan masalahnya dengan benar atau salah. Setiap masalah selalu ada dilema, solusi, karena peraturan itu kalah jauh sama attitude warganya, kalau di luar kebalikannya."
'Menyadari' kekacauan di kota ini, seperti apa yang coba ditelusuri Irwan, sebenarnya cukup berseberangan dengan apa yang selama ini ia lakukan pada setiap project seninya. "Dulu saya terobsesi untuk membuat Jakarta ini menjadi kota yang rapih."
Namun setelah ia melihat KRL menjadi tertib, ia merasa ada yang hilang, ada krisis interaksi. Semua orang bersosialisasi dengan gadget mereka.
"Ini enggak Indonesia banget, orang Indonesia kan yang becanda, teriak-teriak. Ke-chaos-annya itu, tapi ini tergantung gimana kita memandangnya," ujar Irwan.
Menurutnya, dengan mensterilkan kota, pihak yang diuntungkan adalah Negara dan korporasi. "Ketika gerbong sudah bersih, jadi tempat iklan."
Kekuatan untuk bisa membengkokkan berbagai macam peraturan, nilai dan moral masih menyisakan adanya kebenaran sejati yang universal dan diketahui oleh setiap orang.
Ini juga menjadi argumen mengapa ada salib terpampang pada karyanya. "Aku menemukan kontrol itu sudah seperti agama, bahkan lebih serem. Agama masih bisa memilih. Kontrol tidak memberikan pilihan."
(utw/utw)











































