Jadikan Merapi Masih Tersenyum: Teaterikal Korban Merapi

Jadikan Merapi Masih Tersenyum: Teaterikal Korban Merapi

- detikHot
Minggu, 19 Jun 2011 15:22 WIB
Jadikan Merapi Masih Tersenyum: Teaterikal Korban Merapi
Magelang - Arswendo Atmowiloto untuk pertama kali mementaskan aksi teaterikal bersama Komunitas Wit Talok. Aksi itu pun melibatkan puluhan anak korban erupsi dan lahar dingin Merapi.

Seniman, budayawan sekaligus sutradara gaek itu menggelar aksinya di Studio Mendut Jl. Dr Sugiono, Kabupaten Magelang, Sabtu (18/06/2011) malam.

Aksi teatrikal bertajuk 'Jadikan Merapi Masih Tersenyum' yang berdurasi 30 menit itu merupakan rangkaian 'Jalan Budaya' yang terinspirasi dari keterpurukan kondisi Indonesia akibat bencana serta masalah-masalah sosial yang terjadi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tontonan sederhana dan menarik dari sisi artistik ini bercerita pada awal pementasan tentang suasana kehidupan anak-anak Lereng Gunung Merapi yang terletak antara Porpinsi Jateng dan Yogyakarta.

Canda tawa, riuh damai dengan artistik yang naturalis seperti munculnya ulat kemudian menjadi kupu-kupu di akhir pementasan, megahnya gunung Merapi yang diperankan belasan dari puluhan anak ini. Serta terkesan dan tercermin suasana damai dilereng gunung.

Namun, kedamaian mereka terusik ketika bencana erupsi Merapi melanda. Belasan anak-anak panik dan merasa resah ke perjalanan pengungsian bencana erupsi Merapi.

Bantuan dari berbagai daerah berdatangan, namun bantuan berupa pakaian dan makanan itu tidak bisa menghilangkan trauma mereka selama dipengungsian. Bahkan, tak sedikit anak-anak berebutan demi mendapatkan sepotong kain.

Belum habis trauma mereka terhadap bencana erupsi, bencana lahar dingin pun kembali mengguncang. Ratusan rumah roboh juga hanyut terbawa terjangan material lahar dingin seperti batu, kayu dan pasir bercampur lumpur.

"Jadikan aku air yang mampu menjadikan dermaga. Jadikan aku biologi supaya bias mencerdaskan. Jadikan aku kain sutra yang indah dan membalut tubuh. Jadikan aku dokter biar selamatkan yang sakit. Jadikan aku petani yang bias menanam benih," pekik puluhan anak-anak Merapi.

Anak-anak Merapi pun tetap bersemangat dan tetap bangkit untuk bersekolah dan melakukan kegiatan mereka masing-masing. Seperti bermain, bersendagurau walau fasilitas di pengungsian sangat minim.

Diiringi dengan improviasai antara music solo organ, gamelan dan pukulan kenthongan bambu, penonton yang hanyut suasana menggugah anak-anak untuk bersemangat dalam pementasan. Suasana yang mencekam mengalir menjadi sorak gembira dan bersemangat seperti semangat anak Merapi menghadapi bencana.

Pentas pun diakhiri dengan pekikan mereka secara manis dan bersemangat, "Jadikan Aku Merapi Masih Tersenyum. Amin," pekik puluhan anak-anak.

Suasana hiruk pikuk bercampur haru terjadi di akhir pementasan puluhan anak memeluk dan menyalami Arswendo saat beranjak dari kursinya. Sambil diiringi nyanyian berkebun layaknya menjadi nyanyian kebanggan mereka sebagai penghuni lereng Merapi yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan bercocok tanam.

Arswendo usai pementasan menyatakan pementasan ini terwujud murni dari mereka. Dirinya hanya sebagai motivator semangat mereka, perasaan mereka untuk tetap berkarya dengan cara yang sederhana namun membanggakan bagi orang tua dan bangsanya.

"Saya hanya memberikan mereka rangking dan irama mereka. Latihan mereka yang menentukan sendiri. Bahkan mereka minta latihan mereka ditambah sampai enam kali. Mengharukan luar biasa dibawa untuk dikomunikasikan dengan lain. Mereka sebagai contoh anak-anak yang masih bisa tegar dengan kondisi Merapi yang seperti itu saat bencana," tegas Arswendo.

Arswendo menjelaskan rangkaian Jalan Budaya ini akan tetap masih berlangsung. Menurut rencana dirinya bersama Komunitas Wit Talok akan road show di beberapa lokasi bencana di Indonesia.

"Kenapa saya memilih Muntilan, Magelang untuk yang pertama kalinya? Ada kesan dan kenangan saya di Magelang. Walaupun saya pernah membuat film di sini dan filmnya tidak laku. Yang pasti dimana pun tempat saya tetap tidak ingin meninggalkan patron saya melibatkan anak-anak sebagai lakon dalam drama saya. Seperti anda lihat di drama 'Keluarga Cemara'. Anak-anak menjadi peran penting bagi saya," tutur Arswendo.

Usai Magelang, rencananya pada 25 Juni 2011 nanti Arswendo bersama Komunitas Wit Talok juga akan menggelar pementasan anak-anak warga korban Lumpur Lapindo dan anak-anak di Pulau Nias yang baru saja dilanda gempa dan tsunami.

"Setelah pementasan road show nanti, saya juga akan mengkompilasi dan merangkai seluruh pementasan dari Merapi Magelang, Lumpur Lapindo Sidoarjo, Gempa Tsunami Nias dan daerah lain untuk dipentaskan di Jakarta. Anak-anak ini akan saya bawa ke Jakarta supaya dia bangga dan merasa berguna. Yang akan saya jadikan satu pentas bertajuk 'Anak-anak Indonesia'. Dengan durasi tidak lebih dari satu jam pementasan lamanya. Tunggu tanggal mainya kapan," tegas Arswendo.

Arswendo juga berharap, jalan budaya ini menjadi dialog antara anak-anak korban bencana dengan seluruh rakyat Indonesia terutama pemerintah. Untuk anak-anak sendiri kendati mereka hidup dan dibesarkan di daerah rawan bencana mereka tetap masih bias berkarya dan menyumbangkan sesuatu bagi bangsanya.

(nu2/nu2)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads