Belenggu
|
|
Banyak hal dalam film ini terkesan sedekar dimasukkan untuk mengejar efek eksotika dari sebuah dunia yang gila. Tapi, ini memang dunia baru Upi yang mungkin juga perlu dilihat dan dimaknai dengan cara yang baru pula.
Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya
|
|
Dalam 'Vakansi yang Janggal', Anggi kembali menggunakan latar Yogyakarta sebagai panggung, untuk memotret kehidupan masyarakat kelas bawah. Sama seperti yang tampak pada 'Asal Tak Ada Angin', kelas sosial dan hasrat seksualitas menjadi motif yang menggerakkan tokoh-tokoh dalam 'Vakansi yang Janggal'.
Laura & Marsha
|
|
Menonton film karya sutradara Dinna Jasanti ('Burung Burung Kertas', 2007) ini, kita seolah diajak melancong bersama Laura dan Marsha, traveling bareng-bareng ke Amsterdam (Belanda), Bruhl (Jerman), Innsbruck (Austria) , Venice, hingga ke Verona -- tempat kelahiran Romeo dan Juliet (Italia).
Rectoverso
|
|
Optatissimus
|
|
Film dibingkai dalam shot-shot kamera yang cantik hasil tataan Joseph Fofid ('Dealova', 'Rindu Kami Padamu'). Tangkapan kameranya memberi rasa tersendiri, dan dengan asyik mampu menerjemahkan makna-makna tersirat dari naskah cerita yang diilhami oleh kisah nyata ini. Bahkan bingkai gambarnya terkadang begitu puitis, menyatu dengan rangkaian narasi yang banyak diucapkan oleh Andreas di sepanjang durasi film.
Soekarno: Indonesia Merdeka
|
|
Sebelum pemutaran perdana, Hanung mengungkapkan bahwa dirinya mempertaruhkan segalanya untuk filmnya kali ini. Tampaknya, dia berhasil. 'Soekarno: Indonesia Merdeka' adalah karya megah yang sejauh ini menjadi puncak karier Hanung Bramantyo.
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
|
|
Tapi sayang, kemegahan yang sudah terbangun sejak awal, kurang klimaks saat adegan yang merepresentasikan judul film ini karena animasi yang kurang maksimal, pemilihan warna di awal film juga cukup mengganggu. Namun secara keseluruhan, 'Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck' bisa dibilang sebagai film terbaik tahun ini.
Sokola Rimba
|
|
Sutradara Riri Riza tak ingin sekedar bercerita soal kegiatan mengajar atau belajar anak-anak rimba saja. Seiring durasi film bergulir, kita pun lambat laun teralihkan kepada permasalahan-permasalahan lain seperti cerita tentang atasan Butet di LSM tempatnya bekerja yang menentang tindakannya, para penebang pohon liar, penolakan kepala suku adat yang meyakini bahwa tindakan Butet dapat membawa malapetaka, sampai kepada cerita tentang transmigran Jawa yang bersedia rumahnya dijadikan tempat belajar.
99 Cahaya di Langit Eropa
|
|
'99 Cahaya di Langit Eropa' menyuguhkan dua hal penting yang memang menjadi daya tarik dalam film ini. Pertama, perjalanan ke tempat-tempat yang mungkin belum diketahui penonton, bahwa peradaban Islam sempat berjaya di Eropa melalui peninggalan seni dan budaya yang masih tersisa hingga sekarang.
Yang kedua, interaksi Hanum dan suaminya Rangga (Abimana Aryasatya), serta Fatma pada karakter-karakter di sekitar mereka. Hidup sebagai muslim di negara sekuler, membuat Hanum, Rangga dan Fatma harus beradaptasi dengan kultur setempat, dan keterbatasan dalam menjalankan ibadah. Namun, bagaimana cara mereka menghadapi itu semua dengan sikap yang mencerminkan muslim sesungguhnya, itulah hal utama yang diusung.
Munculnya karakter Stefan (Nino Fernandez) sebagai free thinker yang sering 'menggugat' konsep Ketuhanan, membuat dialog-dialognya dengan Rangga menarik untuk disimak.
Sang Kiai
|
|
Halaman 2 dari 11











































