10 Film Ter-HOT Sepanjang 2013

Hot Top Ten

10 Film Ter-HOT Sepanjang 2013

Adhie Ichsan - detikHot
Selasa, 31 Des 2013 12:59 WIB
10 Film Ter-HOT Sepanjang 2013
Jakarta - Film-film yang tayang di akhir tahun 2013 mampu berbicara banyak di box office Indonesia. Selain karena disukai penonton film-film itu juga memiliki cerita yang menarik. Namun, ada juga film yang digarap dengan baik tetapi tidak mendapat respons yang bagus di bioskop. Berikut 10 film ter-HOT tahun ini versi detikHOT:

Belenggu

'Belenggu' adalah dunia yang baru dari sutradara Upi, yang sebelumnya kita kenal lewat film-film seperti 'Realita Cinta dan Rock n Roll', 'Radit dan Jani', serta 'Serigala Terakhir'. Tanpa makian-makian kasar dari tokoh-tokohnya seperti dalam film-film Upi sebelumnya, film ini memasuki dirinya belakang, dari mimpi Elang (Abimana Aryasatya).

Banyak hal dalam film ini terkesan sedekar dimasukkan untuk mengejar efek eksotika dari sebuah dunia yang gila. Tapi, ini memang dunia baru Upi yang mungkin juga perlu dilihat dan dimaknai dengan cara yang baru pula.

Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya

'Vakansi yang Janggal' berkisah tentang Ning (Christy Mahanani) yang baru saja keluar dari tempat kerjanya di toko baju loak, dan pindah ke toko mebel. Sementara sang suami, Jarot (Joned Suryatmoko) kalut dengan hari-harinya sebagai pengangguran yang mencari identitas sebagai suami, Ning justru 'bersenang-senang' dengan sopir toko mebel tersebut, Mur (Muhammad Abe Bassyin).

Dalam 'Vakansi yang Janggal', Anggi kembali menggunakan latar Yogyakarta sebagai panggung, untuk memotret kehidupan masyarakat kelas bawah. Sama seperti yang tampak pada 'Asal Tak Ada Angin', kelas sosial dan hasrat seksualitas menjadi motif yang menggerakkan tokoh-tokoh dalam 'Vakansi yang Janggal'.

Laura & Marsha

'Laura & Marsha' dibuka oleh perjalanan sebuah kartu pos bergambar koloseum hingga sampai ke tangan Laura. Kartu pos itu menjadi alasan bagi Laura untuk mau melancong ke Eropa, alasan yang tak pernah ia ceritakan kepada Marsha, juga kepada penonton hingga menjelang akhir film.

Menonton film karya sutradara Dinna Jasanti ('Burung Burung Kertas', 2007) ini, kita seolah diajak melancong bersama Laura dan Marsha, traveling bareng-bareng ke Amsterdam (Belanda), Bruhl (Jerman), Innsbruck (Austria) , Venice, hingga ke Verona -- tempat kelahiran Romeo dan Juliet (Italia).

Rectoverso

'Rectoverso' adalah karya eksperimental Dewi Lestari yang menggabungkan 11 lagu dan 11 cerita pendek dalam satu kesatuan. Rangkaian itu menceritakan tentang kisah percintaan yang bertepuk sebelah tangan. Film tersebut memiliki lima bagian cerita berbeda, dengan benang merah yang sama.

Optatissimus

Rio Dewanto lewat sejumlah wawancara dengan media boleh saja berkilah dengan menyatakan bahwa film yang dibintanginya ini bukanlah film rohani. Namun, apa yang tersaji di layar lewat simbol-simbol agama yang tak terbantahkan berkata langsung tanpa perlu pemaknaan ulang. Film rohani atau bukan, 'Optatissimus' -- yang terjemahannya berarti "doa pertama" -- bolehlah juga dimaknai sebagai film pertama dari Dirmawan Hatta yang cukup mengesankan, lewat cara yang tak banyak dilakukan oleh sutradara lain.

Film dibingkai dalam shot-shot kamera yang cantik hasil tataan Joseph Fofid ('Dealova', 'Rindu Kami Padamu'). Tangkapan kameranya memberi rasa tersendiri, dan dengan asyik mampu menerjemahkan makna-makna tersirat dari naskah cerita yang diilhami oleh kisah nyata ini. Bahkan bingkai gambarnya terkadang begitu puitis, menyatu dengan rangkaian narasi yang banyak diucapkan oleh Andreas di sepanjang durasi film.

Soekarno: Indonesia Merdeka

Apresiasi patut diberikan pada Ario Bayu yang tak tenggelam pada sosok besar Soekarno. Pidato dan ekspresinya menggugah dan mampu membawa kharisma Bung Karno dengan cukup baik. Keseriusan Hanung dalam membuat set lokasi dan menggunakan banyaknya pemain figuran, juga pantas diberikan dua jempol.

Sebelum pemutaran perdana, Hanung mengungkapkan bahwa dirinya mempertaruhkan segalanya untuk filmnya kali ini. Tampaknya, dia berhasil. 'Soekarno: Indonesia Merdeka' adalah karya megah yang sejauh ini menjadi puncak karier Hanung Bramantyo.

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Membangun plot dengan lambat di awal, 'Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck' tetap menunjukkan daya tariknya lewat visual dan caranya bertutur. Durasi 2 jam 45 menit pun tak terasa saat kita tenggelam dalam cerita.

Tapi sayang, kemegahan yang sudah terbangun sejak awal, kurang klimaks saat adegan yang merepresentasikan judul film ini karena animasi yang kurang maksimal, pemilihan warna di awal film juga cukup mengganggu. Namun secara keseluruhan, 'Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck' bisa dibilang sebagai film terbaik tahun ini.

Sokola Rimba

Cerita dalam film terinspirasi dari jurnal yang ditulis Butet Manurung saat mengajar di pedalaman hutan untuk anak-anak. Butet yang diperankan Prisia Nasution adalah perintis dan pelaku pendidikan alternatif bagi masyarakat terasing dan terpencil di Indonesia.

Sutradara Riri Riza tak ingin sekedar bercerita soal kegiatan mengajar atau belajar anak-anak rimba saja. Seiring durasi film bergulir, kita pun lambat laun teralihkan kepada permasalahan-permasalahan lain seperti cerita tentang atasan Butet di LSM tempatnya bekerja yang menentang tindakannya, para penebang pohon liar, penolakan kepala suku adat yang meyakini bahwa tindakan Butet dapat membawa malapetaka, sampai kepada cerita tentang transmigran Jawa yang bersedia rumahnya dijadikan tempat belajar.

99 Cahaya di Langit Eropa

'99 Cahaya di Langit Eropa' menjadi pembuktian bagi Maxima Pictures yang mulai bertransformasi sejak didirikan pada 2004 silam. Film ini juga sesuai dengan harapan penulis novelnya, Hanum Rais dan Rangga Almahendra yang ingin syiar melalui film.

'99 Cahaya di Langit Eropa' menyuguhkan dua hal penting yang memang menjadi daya tarik dalam film ini. Pertama, perjalanan ke tempat-tempat yang mungkin belum diketahui penonton, bahwa peradaban Islam sempat berjaya di Eropa melalui peninggalan seni dan budaya yang masih tersisa hingga sekarang.

Yang kedua, interaksi Hanum dan suaminya Rangga (Abimana Aryasatya), serta Fatma pada karakter-karakter di sekitar mereka. Hidup sebagai muslim di negara sekuler, membuat Hanum, Rangga dan Fatma harus beradaptasi dengan kultur setempat, dan keterbatasan dalam menjalankan ibadah. Namun, bagaimana cara mereka menghadapi itu semua dengan sikap yang mencerminkan muslim sesungguhnya, itulah hal utama yang diusung.

Munculnya karakter Stefan (Nino Fernandez) sebagai free thinker yang sering 'menggugat' konsep Ketuhanan, membuat dialog-dialognya dengan Rangga menarik untuk disimak.

Sang Kiai

'Sang Kiai' mengangkat kisah seorang pejuang kemerdekaan sekaligus salah satu pendiri Nahdlatul Ulama dari Jombang, Jawa Timur yaitu KH Hasyim Asyari yang diperankan oleh Ikranagara. Selain memenangkan Film Terbaik FFI 2013, film arahan sutradara Rako Prijanto ini juga akan menjadi perwakilan Indonesia untuk dikirimkan ke ajang Academy Awards 2014 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik di Oscar 2014.
Halaman 2 dari 11
(ich/ich)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads