ADVERTISEMENT

Spotlight

Gending Pencabut Nyawa, Legenda Urban Kaki Gunung Merapi

Tia Agnes Astuti - detikHot
Selasa, 21 Jun 2022 14:08 WIB
Gending Pencabut Nyawa
Buku horor Gending Pencabut Nyawa yang ditulis Diosetta. Foto: Istimewa
Jakarta -

Gamelan adalah perpaduan musik tradisional dengan alunan nada yang mampu membuat pendengarnya merasa nyaman. Tapi bagaimana jika ada yang membawa kutukan?

Itulah yang terjadi dalam kisah Gending Pencabut Nyawa. Buku horor yang diterbitkan oleh Penerbit Gagasmedia bakal meramaikan industri buku Tanah Air dalam waktu dekat.

Gending yang berarti musik gamelan merupakan salah satu budaya Jawa yang kental ada. Kisah itu terinspirasi dari urban legend yang ada di sebuah desa di kaki Gunung Merapi, Jawa Tengah.

Alkisah, dahulu kala ada sebuah mitos tentang gending. Ada tiga gending yang biasa terdengar di kaki gunung tersebut. Satu adalah gending hajatan yang artinya ada hajatan di desa gaib.

Kedua, gending yang merupakan kutukan dan berada di salah satu kedalaman hutan. Ketiga, gending yang merupakan pemujaan dan bisa terdengar dari arah puncak gunung.

Diosetta, Penulis Buku Horor Gending Pencabut Nyawa yang diterbitkan oleh penerbit Gagasmedia.Diosetta, Penulis Buku Horor Gending Pencabut Nyawa yang diterbitkan oleh penerbit Gagasmedia. Foto: Rafida Fauzia/ detikcom

Cerita yang dituliskan dalam buku Gending Pencabut Nyawa berasal dari legenda urban kedua. Kejadiannya setiap malam kala bulan purnama. Ada satu orang yang keluar rumah malam-malam dan menari di tengah desa, layaknya kesurupan.

Perempuan itu masuk ke dalam hutan dan tidak ditemukan lagi jejaknya. Esok paginya, ia sudah meninggal.

Diosetta, nama pena dari penulis asal Solo yang gemar mendaki dan jalan-jalan itu mendapatkan cerita dari warga desa. Kepada detikcom, ia menceritakan mengenai mitos tersebut.

"Dulu tahun 1980-an sempat cerita, memang ada orang meninggal yang setelah mendengar gending gamelan itu besoknya meninggal. Memang terinspirasi dari kisah nyata dan satukan dengan budaya lokal," katanya.

Menurut penuturan Diosetta, di dalam hutan yang disebutnya dengan alas mayit terdapat area kutuban konon peninggalan zaman dahulu.

(Baca halaman berikutnya soal Gending Pencabut Nyawa)

"Gending alas mayit ini aktif lagi kutukannya karena ada seseorang yang ingin balas dendam ke warga desa," ungkapnya.

Gending Pencabut Nyawa pun sukses dibagikan Diosetta melalui akun Twitter pribadinya melalui Thread sejak tahun lalu. Dari cuitan panjang, ia merilisnya melalui platform Karyakarsa dan kini dibukukan.

"Dari situ, aku kembangin ceritanya. Ada satu kejadian yang membuat gending terdengar lagi tapi lalu masalah ini selesai. Kutukan itu selesai," ungkap Diosetta.

Tentunya, ia mengungkap ada bumbu-bumbu fiksi untuk meracik cerita lebih menarik lagi dalam Gending Pencabut Nyawa. Kini cerita itu bakal menjangkau pencinta horor lebih jauh lagi.

Diosetta, Penulis Buku Horor Gending Pencabut Nyawa yang diterbitkan oleh penerbit Gagasmedia.Diosetta, Penulis Buku Horor Gending Pencabut Nyawa yang diterbitkan oleh penerbit Gagasmedia. Foto: Rafida Fauzia/ detikcom

"Dari bab pertama, sudah ngena banget sih kalau dibaca. Sesuatu yang nggak disangka yang pernah terdengar di gunung-gunung sampai pernah ada kasus sampai merenggut nyawa manusia," tukasnya.

Bagaimana cerita mengenai urban legend tersebut dan proses kreatifnya? Baca berita berikutnya.



Simak Video "Update Terkini Kasus KDRT Rizky Billar Terhadap Lesti Kejora"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/nu2)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT