Spotlight

Theresia Agustina Sitompul Bawa Seni Grafis Lampaui Batas

Tia Agnes - detikHot
Selasa, 12 Apr 2022 17:30 WIB
Perupa Theresia Agustina Sitompul di Ruang Seni Anak Komisi UOB Museum MACAN
Theresia Agustina Sitompul saat ditemui detikcom di Museum MACAN Jakarta. Foto: Tia Agnes/ detikcom
Jakarta -

Perupa seni grafis asal Yogyakarta, Theresia Agustina Sitompul, eksis berkarya selama lebih dari dua dekade. Lewat berbagai teknik seni grafis yang dibuat, karya-karyanya mampu melampaui batas dan tak biasa.

Di ruang seni anak UOB Museum MACAN, perempuan yang akrab disapa Tere tengah memamerkan pameran tunggal berjudul Kembara Biru. Dalam karya tersebut, ia menampilkan teknik cetak karbon dan material karbon yang biasanya kita tahu ada dalam buku-buku invoice.

Menggunakan cetak karbon sudah dipakai Tere sejak 2011. Saat itu, dia mengakui keadaan yang membuatnya memakai material tersebut.

"Saya harus berkarya dan juga menjaga anakku. Akhirnya mencari solusi, karena saya kan orang seni grafis ya. Biasanya ketika membuat karya ada pengasaman dan itu tidak ramah untuk anak," terang Tere saat ditemui detikcom di Museum MACAN Jakarta, baru-baru ini.

Cetak karbon, lanjut dia, biasanya ditemukan ketika seorang penjahit membuat pola untuk busananya. Atau karbon yang ada di dalam buku-buku invoice.

Bermula dari satu kaos lalu berkembang ke material lainnya. Karbon pun menjadi cetak alternatif baginya ketika berkarya.

"Saya bisa mengerjakan itu di rumah sambil menjaga anak saya. Bukan karena spesifikasi, karena sebuah keadaan harus kreatif dan berkreasi. Sekarang malah lebih berkembang," katanya.

Evolusi menggunakan cetak karbon juga bisa digunakan untuk pencinta seni anak-anak. Menurut Tere, itu adalah hal sederhana yang bisa dipakai di mana pun.

Hal itulah yang juga coba diaplikasikan oleh tim edukasi Museum MACAN dengan membuat cetak karbon di ruang seni anak.

"Ini cetak sederhana ya. Gosok, tempel, lalu gosok lagi," balasnya.

"Di material sehari-hari juga sebenarnya seni grafis juga bisa diaplikasikan. Misalnya saja ubi, kentang, atau bonggol sawi dipotong-potong lalu dikasih tinta, dan cat. Dibuat pola repetitif yang sederhana. Itu jadi fun print," tambah Tere.

Dengan berbagai cara itu, seharusnya membuat karya seni itu sudah tidak ada batasnya.

"Karya itu sudah tidak ada batasnya, mau seni rupa, patung, atau grafis," tukasnya.

Simak artikel berikutnya.



Simak Video "Keren! 3 Seniman Video Mapping Indonesia Lolos Tokyo Light Festival"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/wes)