ADVERTISEMENT

Spotlight

Kenalan dengan Perupa Grafis Theresia Agustina Sitompul

Tia Agnes - detikHot
Selasa, 12 Apr 2022 16:20 WIB
Perupa Theresia Agustina Sitompul di Ruang Seni Anak Komisi UOB Museum MACAN
Theresia Agustina Sitompul di Kembara Biru, ruang seni anak UOB Museum MACAN, saat ditemui detikcom baru-baru ini. Foto: Tia Agnes/ detikcom
Jakarta -

Seni grafis menjadi salah satu medium yang tak kalah digemari para penggemarnya. Banyak karya seni grafis yang hadir menjadi merchandise dan digandrungi namun sayangnya tak banyak perupa seni grafis yang eksis berkarya sampai puluhan tahun.

Perupa asal Yogyakarta, Theresia Agustina Sitompul, selama lebih dari dua dekade berkarya dengan teknik seni grafis. Pendiri Studio Grafis Minggiran yang juga menjadi anggota perempuan satu-satunya tengah memajang pameran tunggal Kembara Biru di ruang seni anak Museum MACAN Jakarta.

Perempuan yang akrab disapa Tere mengatakan senang dengan seni grafis karena ada banyak kejutan di dalamnya.

"Ada banyak kejutan yang membuat saya harus mencari tahu lagi dan membuat saya terus-terusan belajar. Saya S1 Seni Grafis di ISI Yogyakarta, S2 juga sama. Banyak hal yang secara teknik belum selesai," ucap Tere saat berbincang dengan detikcom di ruang seni anak UOB Museum MACAN, baru-baru ini.

Sebagai seorang pengajar dan dosen, Tere mengatakan tak banyak perupa seni grafis yang eksis berkarier sampai sekarang. Ia menyebutkan hanya hitungan jari saja.

"Perupa grafis perempuan itungannya jari saja. Saya sebenarnya juga bikin karya seni instalasi dan patung, concern fokus juga ke grafis juga," katanya.

Perupa Theresia Agustina Sitompul di Ruang Seni Anak Komisi UOB Museum MACANPerupa Theresia Agustina Sitompul di Ruang Seni Anak Komisi UOB Museum MACAN Foto: Courtesy of Museum MACAN

Setiap kali membuat karya, Tere juga memakai berbagai teknik yang ada di seni grafis. Tapi menurutnya, entah seniman itu mengenyam pendidikan di Seni Rupa maupun Seni Grafis, atau patung, semuanya adalah proses berkesenian.

"Nggak perlu ngomongin seni grafis itu nomor satu atau nomor dua, yang penting berkarya saja. Saya mikirnya seni ya seni ya," tutur perempuan kelahiran 5 Agustus 1981, di Pasuruan, Jawa Timur.

Karya Tere pertama kali dipamerkan pada 2000 dalam pameran bersama di Sanggar Caping, UNNES, Semarang. Di 2004, karya Tere pertama kali dipamerkan di luar negeri pada pameran bersama Guest Country Lessedra 3rd Annual Mini Print di Sofia, Bulgaria.

Pada tahun yang sama, Tere mengadakan pameran tunggal untuk pertama kali dengan judul Yearning di Via-Via Cafe Yogyakarta. Dalam pamerannya Pada Tiap Rumah Hanya Ada Seorang Ibu pada 2014, menggunakan karbon sebagai pengganti tinta cetak untuk menghasilkan relief dari barang-barang miliknya.

Bagaimana cerita karya-karya Tere melampaui batas sampai menggunakan bahan karbon yang tak biasa?

Simak artikel berikutnya.



Simak Video "Museum Macan, Mengenang Masa Kecil Dengan Permainan Tradisional Masa Lalu, Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/wes)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT