Spotlight

Istimewanya Komunitas Hysteria di Tengah Laju Teknologi

Tia Agnes - detikHot
Selasa, 24 Nov 2020 15:38 WIB
Komunitas Hysteria Asal Semarang, Jawa Tengah
Komunitas Hysteria Foto: Media Art Globale/ Komunitas Hysteria
Jakarta -

Seniman-seniman Tanah Air mulai banyak yang memanfaatkan teknologi sebagai medium untuk berkarya. Khususnya di masa pandemi yang serba terbatas pertemuan fisik.

Komunitas Hysteria asal Semarang, Jawa Tengah, pun unjuk gigi lewat festival seni berbasis teknologi yang bernama, Media Art Globale 2020. Ini bukan pertama kalinya kolektif multidisplin memajang karya di pameran seni teknologi.

Direktur Hysteria, Adin, menuturkan saat ini semua orang membicarakan soal kecanggihan teknologi khususnya di new media art.

"Kami merasa Mbak Mona (kurator Media Art Globale) menemukan anomali di Hysteria yang masih mengumpulkan gambar, mural, dan mungkin saja dianggap kuno. Ini anak-anak muda ngapain urusin teknik lama, peduli dengan kegiatan-kegiatan lokal," tutur Adin ketika diwawancara detikcom.

Adin menceritakan salah satu acara yang digelar Hysteria adalah 'Sedekah Bumi' dan terasa seperti anomali ketika semua orang berada dalam laju modern dan digital.

Proyek komunitas Hysteria lainnya adalah memproduksi zine dan dicetak terbatas dengan mesin yang dimiliki komunitas tersebut.

Komunitas Hysteria Asal Semarang, Jawa TengahKomunitas Hysteria Asal Semarang, Jawa Tengah Foto: Media Art Globale/ Komunitas Hysteria

"Jadi kami kayak ngasih wacana berbeda, ada praktik begini yang msh eksis di Indonesia," lanjut Dosen Antropologi di Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang, Jawa Tengah.

Ke depannya, setelah memamerkan poster-poster yang menjadi arsip itu Hysteria akan melanjutkannya.

"Dulu kami bikin pameran tahunan, setelah tahun 2016 dan 2017 hanya mengarsipkannya saja. Ini semacam proyek atau kebijakan berbasis data. Faktanya orang-orang mengatur kebijakan kan berdasarkan politik ya. Tapi ini kami mau mengumpulkan berdasarkan sejarah," kata Adin.

Komunitas Hysteria menjadi laboratorium bersama para seniman multidisplin terbentuk perdana pada 11 September 2004. Setahun berikutnya, Hysteria berubah menjadi kelompok dan mendeklarasikan diri sebagai laboratorium atau hub di 2011.

Bermula dari zine yang diproduksi terbatas, Hysteria kini punya beragam acara dan terjun langsung ke masyarakat di sekitarnya. Di sela-sela pameran virtual Media Art Globale 2020 yang berlangsung virtual, Hysteria unjuk gigi kepada kalangan internasional.



Simak Video "Pandemi Tak Menghalangi Pendidikan, Ini Pesan Rektor Universitas di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(tia/doc)