detikHot

Spotlight

Dicap 'Ngawur', Arahmaiani Belajar dari Pengalaman ke Mancanegara

Selasa, 27 Nov 2018 14:40 WIB Tia Agnes - detikHot
Dicap Ngawur, Arahmaiani Belajar dari Pengalaman ke Mancanegara Foto: Tia Agnes/ detikHOT Dicap 'Ngawur', Arahmaiani Belajar dari Pengalaman ke Mancanegara Foto: Tia Agnes/ detikHOT
Jakarta - Kiprah Arahmaiani sebagai seniman tak bisa lepas dari dunia seni rupa dan performans. Karya-karyanya kerap dicap 'ngawur' dan tak sesuai dengan kaidah pembelajaran seni rupa pada umumnya.

Di balik cap tersebut, Arahmaiani belajar dari perjalanannya berkeliling ke berbagai negara. Ia dikenal sebagai seniman pengembara, seseorang yang nomad maupun istilah masyarakat dunia (citizen global).

Pengalaman berkeliling dan menemukan esensi dari kreativitas, yang dituangkan Arahmaiani ke dalam karya-karyanya.



"Saya nggak takut menjadi 'ngawur', memang awalnya banyak yang nanya apa sih, karena nggak biasa. Tapi sesudah dunia seni makin berkembang, ada banyak anak muda yang bikin karya serupa," tuturnya kepada detikHOT.

Dicap Seniman 'Ngawur', Arahmaiani Belajar dari Pengalaman ke MancanegaraDicap 'Ngawur', Arahmaiani Belajar dari Pengalaman ke Mancanegara Foto: Tia Agnes/ detikHOT


Ia menceritakan selepas dari lukisan 'Lingga-Yoni' yang kontroversi sampai membuat darah Arahmaiani dihalalkan oleh sekelompok tertentu, ia sempat pindah ke Yogyakarta dan Bali. Kemudian menyambangi Australia.

Arahmaiani pun menjelajahh ke Jerman, Belanda, Tibet, dan negara Asia Tenggara lainnya. Saat berada di Thailand sebulan jelang runtuhnya Soeharto, ia kembali ke Indonesia.

"Tahun '98 kita tahu Indonesia ada krisis moneter, saya lihat di televisi orang-orang antre beli beras dan minyak. Hidupku di luar negeri masih aman-aman saja, tapi melihat gitu kan aku mau pulang. Akhirnya jual lukisan 'Lingga-Yoni' itu ke temanku," ceritanya.



Ketika balik ke Indonesia seakan kebetulan, Soeharto jatuh bertepatan dengan hari ulang tahunnya. "Aku tuh kayak dapat hadiah 'istimewa' dari Yang Maha Kuasa," kata Arahmaiani.

Dicap Seniman 'Ngawur', Arahmaiani Belajar dari Pengalaman ke MancanegaraDicap 'Ngawur', Arahmaiani Belajar dari Pengalaman ke Mancanegara Foto: Tia Agnes/ detikHOT


Setelah Reformasi, ia pun tetap bolak-balik ke beberapa negara. Selama musim panas, ia akan mengajar di Universitas Passau Jerman, lalu pergi ke Tibet untuk mengajar sampai 3 bulan berikutnya.

Di Tibet, perjalanan mengajarnya sudah dilakoni selama 8 tahun berturut-turut. Di sana pula, dia mengerjakan banyak hal sama penduduk. Di antaranya menanam pohon, mengajar seni, mengelola sampah, menghidupkan pertanian organik, mengatur air, dan banyak hal lainnya.

"Tibet itu penting untuk benua Asia dan dunia, makanya saya siap berkorban tidak ada yang menggaji maupun membayar. Tapi nggak apa-apa ya kan buat kepentingan orang banyak. Ini sudah selama 8 tahun, doakan terus berlanjut," kisahnya sembari tersenyum.

Selain di Jerman dan Tibet, kini studio Arahmaiani berada di Yogyakarta. Di negeri Gudeg itu pula, ia berkarya dan berkontribusi bersama kelompok seniman-seniman lainnya.

Simak artikel berikutnya.



(tia/doc)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed