DetikHot

spotlight

Cablaka ala Otniel Tasman: Perkawinan Lengger dan Dangdut Koplo

Selasa, 14 Ags 2018 19:25 WIB  ·   Tia Agnes - detikHOT
Cablaka ala Otniel Tasman: Perkawinan Lengger dan Dangdut Koplo Cablaka ala Otniel Tasman: Perkawinan Lengger dan Dangdut Koplo Foto: Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya
Jakarta - Otniel Tasman makin membuktikan eksistensinya lewat pertunjukan tari 'Cablaka' yang baru saja dipentaskan di ajang Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2018. Di karya ini, koreografer muda ini mengkawinkan antara tari Lengger dan dangdut koplo.

Dari atas panggung ada dua penari perempuan, tiga penari laki-laki termasuk Otniel. Musik calung menghiasi selama pementasan berlangsung.

Baru setengah pementasan, penari perempuan berubah peran menjadi penyanyi dangdut. "Selamat malam semuanya? Gimana kabarnya? Apik tho?," ujarnya dengan logat kental Jawa.



Tanpa aba-aba, penari tersebut langsung menyanyikan lagu Via Vallen medley dengan lagu dangdut lainnya. Lagu 'Eling Eling' yang mengingatkan terhadap keagungan-Nya juga disisipkan.
Cablaka ala Otniel Tasman: Perkawinan Lengger dan Dangdut KoploCablaka ala Otniel Tasman: Perkawinan Lengger dan Dangdut Koplo Foto: Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya

Di adegan lainnya, para penari membawa pisang lalu memasukkan ke dalam tubuhnya seperti memiliki alat kelamin pria. Kondisinya kontras ketika di akhir pertunjukan, pisang-pisang tersebut malah dipatahkan.

Pentas selama hampir satu jam itu tetap mempertahankan struktur Lenggeran, musik calung, cengkok, dan karakteristik vokal Banyumasan. Gerak dan irama dangdut sengaja dihadirkan Otniel sampai menimbulkan kesan erotik.

Otniel berhasil membius penonton dengan pertunjukan terbarunya tersebut. Ditemui di Komunitas Salihara, ia menuturkan 'Cablaka' adalah istilah yang mewakili hidup masyarakat Banyumas.
Cablaka ala Otniel Tasman: Perkawinan Lengger dan Dangdut KoploCablaka ala Otniel Tasman: Perkawinan Lengger dan Dangdut Koplo Foto: Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya

"Sikap orang Banyumas itu terus terang, transparan, tegas, dan juga kuat. Di sini saya mengadopsi dari perkembangan Lengger. Dangdut koplo dan Lengger jadi hal baru," kata Otnie.

Fenomena dangdut koplo pun sengaja dihadirkan lulusan ISI Surakarta tersebut. Bahkan ia mempasrahkan diri pada penonton untuk menginterpretasikannya masing-masing. Otniel tak mau memberikan makna khusus.
Cablaka ala Otniel Tasman: Perkawinan Lengger dan Dangdut KoploCablaka ala Otniel Tasman: Perkawinan Lengger dan Dangdut Koplo Foto: Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya

"Saya tidak terlalu memberikan pesan yang khusus, saya memberikan ruang interpretasi dalam bentuk momen dan gerak badan yang bisa diartikan oleh penonton," tuturnya.

Termasuk simbol 'pisang' yang digunakan oleh Otniel. Ia menyebutkan pisang sebagai makna filosofi dalam budaya Jawa, meski maknanya bisa bergeser kepada simbol kenikmatan. "Ada ruang paradoks pisang yang ditampilkan oleh penonton."


(tia/tia)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed