Gagasan itulah yang coba diciptakan oleh seniman asal Bandung kepada warga binaan yang mengikuti proyek seni berjudul 'Panoptic'. Prilla mengajak beberapa warga binaan agar membuat cetakan kaki yang caranya sangat mudah. Dengan menggunakan material sobekan kertas, serta lem yang terbuat dari garam, air, dan tepung, mereka mencetak sendiri kakinya.
Hasil cetakan kaki yang sudah kering dari setiap blok warga binaan, saat detikHOT mengunjungi Rutan, tengah disusun oleh Prilla. Dia menghitung ada sekitar belasan sampai 20 cetakan kaki yang berhasil dibuat mereka. "Ini tinggal dilukis dan diwarnai, terserah mereka mau diapain dan dibikin apa," ucap Prilla kepada detikHOT di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur, Selasa (11/10/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Prilla punya harapan besar terhadap gagasan karya seni yang diciptakannya. Tak hanya sebagai karya seni penuh makna, tapi dia berharap gagasannya bisa dijangkau oleh masyarakat luas.
"Nantinya bukan saja cetakan kaki yang dibawa ke TIM atau ke luar Rutan, tapi pikiran mereka juga bisa tersampaikan. Ini bukan hanya simbol identitas perempuan, tapi lebih dari itu," katanya.
Evi, salah satu warga binaan, tengah melukis gambar teratai di cetakan kakinya. Garis-garis merah digambarkan lalu sisi cetakan lainnya diberikan warna biru, sehingga terlihat cetakan kaki menjadi warna hijau. "Aku suka bikin teratai, di kaos oblong juga aku bikin teratai," ujarnya tersenyum.
Baca Juga: Keong Radio, Ekspresi Warga Rutan Jadi Pemain Drama Radio
![]() |
Pekan ini, Prilla bersama dengan warga binaan tengah menyelesaikan tahap pelukisan cetakan kaki. Masih ada belasan cetakan lainnya yang masih polos dan belum diapa-apakan. "Masih ada hari Kamis, mereka bisa selesaikan lagi," tutur seniman pernah mengikuti program residensi di Maraya Art Center, Sarjah (2013) dan Fukuoka Asian Art Museum (2014).
Kepala Rutan Pondok Bambu, Ika Yusanti, mendukung proyek seni perempuan yang dilakukan oleh Dewan Kesenian Jakarta. "Kehadiran DKJ memang sangat menginspirasi dan membantu kami tapi saya juga berpesan kepada semua pihak, kalau warga binaan bukan sekadar objek tapi juga subyek," pungkasnya.
Dua catatan harian seniman bisa dibaca di sini: http://proyekseni.com/panoptic/mantra-akhir-pekan dan http://proyekseni.com/panoptic/warga-binaan-dan-realitas-kepatuhan.
(tia/mmu)













































