Aktivitas naskah drama radio menjadi salah satu pembelajaran di proyek seni tujuh perupa perempuan 'Panoptic'. Sejak pertengahan bulan lalu, Venti bersama beberapa warga binaan belajar tentang tata cara siaran, membuat naskah, menjadi penyiar radio, dan aktivitas lainnya. Project bernama 'Keong Radio' pun muncul. Mengapa dinamakan 'keong'?
Sambil berkelakar, Ena mengatakan istilah 'keong' ada makna tersendiri. "Ya, kalau lagi kayak gini (di luar blok), keongnya lagi disuruh keluar. Nanti keong masuk lagi, disuruh ditutup," ujarnya tertawa ketika mengobrol dengan detikHOT, Selasa (11/10/2016) lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() Dok.Dewan Kesenian Jakarta |
Meski terkesan sindiran, kata 'keong' pula yang menjadi nama bagi siaran radio di proyek 'Panoptic'. Saat detikHOT menyambangi Rutan Pondok Bambu atas undangan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), hanya Ena yang sedang merekam drama radio yang nantinya akan diputar di kantin yang ada di blok Rutan.
Kurator Angga Wijaya mengatakan pendekatan platform yang digunakan oleh para perupa merupakan salah satu cara. "Di sini hanya ada paduan suara dan seni tari, jadi kami berpikir kegiatan apa lagi sih yang belum diajarkan kepada warga binaan yang sekiranya mereka juga tertarik. Siaran radio jadi salah satu media ekspresi, aspirasi dan berkesenian bagi mereka," ungkap Angga.
Ena pun mengaku senang dengan pelatihan siaran radio bagi warga binaan. Dirinya tidak tahu jika dia mampu menjadi penyiar dan bisa tampil percaya diri.
"Pas hari Minggu kemarin di acara Rutan, aku sama Christa jadi MC. Nggak nyangka bisa ngomong di depan banyak orang, padahal kayaknya suara aku kayak gini aja. Cempreng, tapi senang ternyata bisa, Hehehe...," tutup Ena.
Seperti apa proyek seni tujuh seniman bersama warga binaan Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur? Simak artikel berikutnya!
(tia/mmu)












































