The School For Good and Evil: Fantasi Remaja yang Mudah Dilupakan

ADVERTISEMENT

The School For Good and Evil: Fantasi Remaja yang Mudah Dilupakan

Candra Aditya - detikHot
Minggu, 23 Okt 2022 18:01 WIB
The School for Good and Evil
The School For Good and Evil (Foto: dok. Netflix)
Jakarta -

Dengan prolog yang lumayan menyita waktu, The School For Good and Evil adalah sebuah jenis fantasi remaja yang mungkin bisa menjadi idola kalau film ini dirilis lima belas tahun yang lalu. Film ini tidak menawarkan sesuatu yang baru dan dengan durasi yang lumayan panjang (dua jam setengah), film ini terasa seperti carbon copy dari film-film sejenis (Anda mungkin akan deja vu dengan serial Harry Potter saat menontonnya).

Tokoh utamanya adalah Sophie (Sophia Anne Caruso) dan Agatha (Sofia Wylie), dua sahabat yang tinggal di sebuah desa bernama Gavaldon yang kebetulan memiliki kehidupan sosial yang sama: mereka sama-sama dijauhi oleh orang-orang. Setelah menemukan buku dongeng dan mengetahui bahwa ternyata ada sekolah yang didekasikan untuk si baik dan si jahat, Sophie mencoba untuk daftar. Keduanya akhirnya diterima di sekolah.

Tentu saja ada twist. Sophie ternyata ditempatkan di School for Evil (Never) dan Agatha ditempatkan di School for Good (Ever). Keduanya merasa salah tempat. Tambahkan cowok ganteng yang merupakan pangeran, hirarki sosial sekolah, dosen-dosen nyentrik (dimainkan oleh para bintang Hollywood kelas A) dan juga kelas-kelas yang unik, maka Anda bisa membayangkan kemana The School For Good and Evil berjalan.

Paul Feig (yang juga mengadaptasi film ini bersama David Magee) mungkin jago membuat film komedi (Bridesmaids terbukti menjadi salah satu komedi yang seiring berjalannya waktu makin terasa kemegahannya) tapi ini teritori asing. A Simple Favor adalah eksperimen yang menarik tapi bahkan murder mystery yang dibintangi Anna Kendrick dan Blake Lively tersebut masih berpegangan dengan genre komedi sebagai cadangan bahan bakar.

The School for Good and EvilThe School for Good and Evil Foto: dok. Netflix

Dari segi visual The School For Good and Evil lumayan meyakinkan meskipun film ini lagi-lagi terjerembab dalam tren Hollywood yang terlalu berfokus kepada visual efek. Bukannya CGI yang ada di film ini buruk tapi begitu banyak film sejenis terlalu bergantung kepada CGI sehingga tidak ada lagi yang namanya movie magic. Bandingkan dengan film-film fantasi zaman dulu yang sanggup mengkawinkan antara production design yang baik dan CGI (trilogi Pirates of the Caribbean misalnya, atau Lord of the Rings). Ketergantungan The School For Good and Evil terhadap CGI akan terasa sekali.

Secara penampilan, para pemain film ini bermain dengan lumayan apik. Kedua pemeran utamanya memiliki chemistry yang baik dan memerankan karakter masing-masing dengan meyakinkan. Sayangnya pemeran dewasanya terasa seperti tempelan semata. Charlize Theron terasa seperti buang-buang waktu. Laurence Fishburne juga sama. Michelle Yeoh bahkan hilang dalam satu kedipan. Kerry Washington mungkin agak mending karena dia jarang memainkan karakter yang aneh. Tapi nama seperti Rachel Bloom atau Rob Delaney bahkan tidak mendapatkan satu halaman dialog.

The School For Good and Evil memang bukan film yang sangat buruk. Saya masih bisa menikmatinya meskipun saya bisa menebak beat by beat film ini. Yang membuat film ini terasa seperti sia-sia hanyalah fakta bahwa pembuatnya belum berhasil membuat dunia yang terasa baru. Tidak ada yang original di dunia ini tapi setidaknya The School For Good and Evil bisa membuat penontonnya merasa bahwa arketipal yang klasik ini bisa terasa baru lagi.

Durasi yang terlalu lama juga tidak membantu. Ada perbedaan besar antara menonton film dua jam setengah di bioskop dan di rumah. Di bioskop Anda tidak bisa kemana-mana. Di rumah, Anda bisa mengganti tontonan lain (yang tentu saja menawarkan alternatif yang tak terhingga) kalau Anda mulai bosan. The School For Good and Evil mengakhiri filmnya dengan janji bahwa mungkin ia akan muncul lagi dengan seri berikutnya. Tapi entah kenapa saya merasa bahwa pernyataan tersebut sudah basi bahkan sebelum pembuatnya bisa menepati janjinya.

The School For Good and Evil dapat disaksikan di Netflix.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



Simak Video "Cara Netflix Cegah Pengguna Berbagi Password"
[Gambas:Video 20detik]
(dar/dar)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT