Review The Woman King: Hiburan yang Penuh Makna

ADVERTISEMENT

Review The Woman King: Hiburan yang Penuh Makna

Candra Aditya - detikHot
Rabu, 12 Okt 2022 20:30 WIB
The Woman King (2022)
Foto: dok. Sony Pictures
Jakarta -

Film adalah medium yang sangat powerful. Tidak heran film sering kali digunakan sebagai bahan propaganda karena daya pengaruhnya yang kuat. Dalam kasus The Woman King, film terbaru Gina Prince-Bythewood, film ini berhasil menceritakan sesuatu yang tidak pernah saya tahu sebelumnya. Sekumpulan prajurit perempuan dari tanah Afrika yang tidak kalah perkasanya dengan superhero fiksi milik Marvel.

Dalam The Woman King, kita diajak untuk pergi ke Kerajaan Dahomey di Afrika Barat pada tahun 1823. Nawi (Thuso Mbedu) adalah perwakilan mata penonton karena melalui dia penonton diajak untuk mengenal siapa itu Agojie dan apa fungsi mereka di Kerajaan Dahomey. Nawi sendiri (yang baru berumur 19 tahun) dibawa oleh ayahnya ke istana karena dia menolak dikawinkan dengan laki-laki tua yang ringan tangan.

Izogie (Lashana Lynch), salah satu anggota Agojie yang kuat, menerima Nawi dengan tangan terbuka. Meski caranya tidak ramah, Izogie mengajarkan Nawi bagaimana caranya lulus untuk menjadi pejuang Agojie. Pemimpin Agojie, Nanisca (Viola Davis), tidak seramah temannya meskipun ia memberikan petuah yang tepat sasaran. Perjalanan Nawi menjadi pejuang Agojie menjadi krusial dan berbahaya ketika musuh mereka merencanakan serangan.

The Woman King adalah sebuah film yang dipikirkan dengan matang oleh sutradaranya. Sebagai film yang menampilkan pemeran utama perempuan dengan semangat feminisme yang sangat tinggi, Gina Prince-Blythewood membuka film ini dengan sebuah trik yang menarik. Gambar yang muncul pertama bukanlah para ksatria Agojie melainkan laki-laki yang terlihat kekar dan kuat berkumpul mengitari api unggun. Kalau Anda tidak tahu ini film apa, mudah sekali untuk berpikir bahwa merekalah tokoh utama film ini. Tapi kemudian Prince-Blythewood membuka tirai dan memperlihatkan betapa jagoannya si tokoh utama kita tanpa perlu berkata-kata. Menyaksikan bagaimana ganas dan efektifnya pejuang Agojie bekerja, penonton langsung dibekali informasi yang penting bahwa mereka ini adalah sosok penting dan betapa hebatnya jika ada orang yang masuk ke dalam anggota mereka.

Secara plot The Woman King mungkin tidak sebaik treatment penyutradaraannya meskipun ada beberapa bagian yang menarik. Ditulis oleh Dana Stevens, The Woman King tidak ada bedanya dengan kebanyakan film-film aksi lain serupa. Plotnya hampir bisa ditebak. Hampir semua apa yang dilakukan karakternya bisa Anda terka karena film ini mengikuti formula yang sudah berhasil dilakukan oleh film-film sejenis.

The Woman King terasa spesial ketika dia membicarakan sesuatu yang spesifik seperti hubungan orang tua-anak atau bagaimana ketika karakter utamanya menghadapi trauma. The Woman King terasa memukau ketika dia mengenalkan hal-hal yang tidak pernah kita lihat di film-film lain. Saya tidak tahu betapa otentik sejarah yang diambil oleh film ini tapi ini pertama kalinya saya melihat film tentang kerajaan di Afrika pada abad 19 dari perspektif orang sana, bukan dari penjajah. Dan karena inilah cerita The Woman King yang formulaic bukan menjadi masalah.

Dari jajaran pemain, sudah dipastikan hampir semuanya mendapatkan waktu untuk bersinar meskipun hanya ada tiga nama yang terasa menggetarkan. Lashana Lynch yang muncul dalam Captain Marvel (dan akan muncul di The Marvels nanti) sangat mudah menarik simpati penonton dengan gayanya yang effortless. Dia berhasil mengimbuhkan sesuatu yang ringan sehingga ada beberapa momen komedi yang berhasil disampaikan tanpa ia terlalu banyak berusaha. Pendatang baru Thuso Mbedu mencengangkan saya karena tidak hanya ia bisa mengimbangi Viola Davis tapi ia mempunyai screen presence yang sangat besar. Hampir semua momen Nawi menjadi penting karenanya.

The Woman King (2022)The Woman King (2022) Foto: dok. Sony Pictures

Sebenarnya di poin ini tidak mengherankan kalau Viola Davis tampil memukau. Sebagai pemenang Oscar, Emmy dan Tony (dua kali!), Viola Davis memerankan Nanisca dengan tiga dimensional. Tanpa berkata-kata, penonton akan tahu bahwa perempuan ini memiliki trauma di balik matanya. Dalam kasus The Woman King, Viola Davis berhasil meyakinkan saya bahwa dia dari lahir memang sudah ditakdirkan sebagai warrior. Menyaksikan Viola Davis menghujamkan senjata ke musuh ternyata sama serunya ketika melihat Viola Davis menangis bercucuran air mata.

Dari segi teknis, production design The Woman King patut diberi pujian karena ia berhasil mempersembahkan sebuah dunia yang meyakinkan. Penonton bisa melihat betapa seriusnya kru film ini bekerja dari detail lokasi, detail senjata sampai detail pakaian yang dikenakan oleh para pemainnya. Meskipun durasinya agak panjang (135 menit), The Woman King tidak menyia-nyiakan waktu sama sekali. Ia menggunakan waktunya dengan baik sehingga semua momen tampil mengalir dengan enak.

The Woman King mungkin hanyalah sebuah sekadar hiburan. Kalau saya saja merasa senang melihat Hollywood akhirnya bisa membuat film dengan jagoan perempuan sebagai tokoh sentralnya dengan setting yang "susah dijual", saya tidak bisa membayangkan betapa gembiranya orang-orang yang merasa terwakili oleh film ini. Singkatnya, The Woman King adalah kemenangan bagi kita semua.

The Woman King dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

---

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT