ADVERTISEMENT

Stranger Things Season 4 (Volume 2): Awal dari Akhir Kelam

Candra Aditya - detikHot
Minggu, 03 Jul 2022 19:29 WIB
Stranger Things 4 Volume 2
Foto: dok. Netflix
Jakarta -

Bisa jadi keputusan Netflix untuk membagi musim keempat Stranger Things hanya gimmick belaka. Tapi kemudian The Duffer Brothers, kreator dan juga penulis sekaligus sutradara dua episode terakhirnya, mengatakan bahwa alasan tersebut diambil karena dua episode terakhir musim keempat ini lebih intense dan terasa seperti film. Dengan durasi satu jam setengah dan dua jam setengah, ternyata perkataan The Duffer Brothers ternyata bukan isapan jempol belaka. Tapi apakah hasilnya memuaskan?

Kalau kamu sudah menonton bagian pertama dari musim keempat Stranger Things, kamu pasti tahu kalau tujuh episode sebelumnya kita melihat beberapa storyline. Ada Eleven (Millie Bobby Brown) yang sekarang ditawan kembali oleh Papa-nya (Matthew Modine). Ada Murray (Brett Gelman) dan Joyce (Winona Ryder) yang setelah berhasil ketemu dengan Hopper (David Harbour) berusaha untuk kabur dari Rusia. Ada Mike (Finn Wolfhard), Will (Noah Schnapp), Jonathan (Charlie Heaton) serta anak baru bernama Argyle (Eduardo Franco) yang mencoba melacak dimana Eleven. Dan terakhir, geng Hawkins yang terdiri dari Dustin (Gaten Matarazzo), Lucas (Caleb McLaughlin), Max (Sadie Sink), Nancy (Natalia Dyer), Steve (Joe Keery), Robin (Maya Hawke) dan pendatang baru Eddie (Joseph Quinn) yang di akhir bagian pertama merencanakan untuk membunuh Vecna (Jamie Campbell Bower).

Kalau Netflix mau, durasi kurang lebih empat jam untuk dua episode terakhir ini sebenarnya bisa dipecah menjadi empat episode. Tapi sepertinya Duffer Brothers menginginkan efek yang dramatis. Hasil akhirnya ternyata adalah sebuah konklusi yang memuaskan sekaligus mengecewakan pada saat yang bersamaan.

Salah satu bagian terbaik dari musim keempat Stranger Things adalah pembuat serial ini akhirnya memberikan kita penjahat yang benar-benar baik. Tidak hanya motivasinya jelas, kita akhirnya melihat wujudnya dengan baik. Vecna bukan sekedar monster yang tidak mempunyai perasaan. Mengenal Vecna lebih dekat membuat Stranger Things menjadi lebih seru karena Eleven terlihat langsung ke dalamnya. Tapi sayangnya cliffhanger di bagian pertamanya terlalu sensasional sehingga konklusi yang ada di musim keempat ini terasa hanya seperti "icip-icip" karena yang lebih epik akan disimpan di musim terakhirnya.

Selain itu, keputusan Duffer Brothers untuk mengedit empat jam konten yang ada dengan menjadi dua durasi membuat beberapa storyline terasa tidak seimbang. Ada bagian yang menurut saya kelamaan (seperti bagaimana Eleven mencoba kabur dari Papa Brenner). Atau bagian Joyce dan Hopper yang rasanya seperti pisah sekali dengan plot utama yang berhubungan dengan Vecna. Meskipun akhirnya penonton dihadiahi adegan menyenangkan antara keduanya (yang membuat fans sejati akan berteriak-teriak) tapi pada akhirnya rasanya tetap tidak sepadan dengan dua storyline lain.

Sementara itu, bagian paling memuaskan di bagian kedua ini adalah bagaimana Duffer Brothers menyatukan semua storyline yang ia pecah menjadi satu. Geng Mike, Will dan Jonathan menjadi punya fungsi yang jelas ketika kita melihat bagian kedua ini. Argyle yang tadinya saya kira hanya menjadi comic relief ternyata menjadi punya peran penting disini. Melihat bagaimana Eleven akhirnya mencari cara untuk bisa menolong teman-temannya di Hawkins meskipun dia jauh, juga merupakan salah satu sekuens yang menyenangkan untuk dilihat.

Pada akhirnya bagian Eleven melawan Vecna head to head bukan menjadi bagian yang paling spektakuler di bagian kedua ini meskipun adegannya sama sekali tidak mengecewakan. Stranger Things selalu menawan ketika ia terlihat mempertaruhkan sesuatu yang nyata. Dan itulah sebabnya bagian Eleven menyelamatkan Max dan bagian Dustin dan Eddie menjadi bagian paling emosional, paling menguras emosi di bagian kedua ini.
Kalau soal Max, kita sudah tahu dengan semua yang dia alami di musim ketiganya. Dan bagaimana musim keempat ini kita melihat Max yang mencoba menjauh karena dia masih dihinggapi rasa bersalah atas kematian kakaknya. Hubungannya dengan Lucas juga membuat dinamika pertemanan ini semakin menarik. Melihat Eleven memasuki memori Max dan melihat bagaimana ia berjuang sekuat tenaga untuk melawan Vecna adalah salah satu momen paling bikin jantung berdebar-debar di bagian dua ini.

Eddie sementara itu menjadi sebuah anomali karena ia adalah karakter baru yang ternyata langsung mencuri perhatian. Joseph Quinn sungguh beruntung karena tidak hanya ia memiliki karakter baru yang berdaging tapi ia memiliki motivasi dan arc paling kuat dibandingkan yang lain. Dan Quinn tidak menyia-nyiakan kesempatan ini karena ia memainkan Eddie dengan sangat baik. Ia tampil sungguh effortless. Ia masuk ke dunia Stranger Things dengan mudah sehingga meskipun saya baru melihatnya di musim keempat ini, rasanya Eddie seperti sudah ada dari dulu-dulu.

Stranger Things berhasil menjadi semua fenomena karena ini adalah sebuah produk ensemble cast yang baik. Di bagian kedua ini saya perlu mengucapkan selamat kepada trio Joe Keery, Natalia Dyer dan Maya Hawke yang telah menjadi trio terbaik sepanjang musim. Noah Schnapp juga perlu mendapatkan ucapan selamat karena ia mendapatkan kesempatan untuk pamer aktingnya yang baik. Dan tentu saja Joseph Quinn tidak akan bersinar tanpa bantuan Gaten Matarazzo yang merupakan lawan akting yang baik.

Stranger Things akhirnya ditutup dengan sebuah konklusi yang kelam. Sekarang semua orang tahu benar bahaya yang mendatangi Hawkins. Vecna mungkin kalah sekarang, tapi saya yakin di musim terakhirnya dia tidak akan mau diam saja dikalahkan oleh sekumpulan remaja.

Stranger Things dapat disaksikan di Netflix.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



Simak Video "Mengunjungi Dunia Upside Down Stranger Things di Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(dar/dar)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT