Review Memory: Ketika Pembunuh Bayaran Canggih Bermasalah dengan Ingatan

Candra Aditya - detikHot
Senin, 23 Mei 2022 08:43 WIB
Poster film Memory (2022) diperankan Liam Neeson.
(Foto: dok. STX Entertainment/Open Road Films) Memory adalah film aksi hiburan luar dalam. Film ini bisa jadi alternatif tontonan yang asyik, apalagi kalau Anda mengajak pecinta film Liam Neeson nobar.
Jakarta -

Liam Neeson bukanlah aktor yang buruk. Dia jauh lebih dari itu. Kalau Anda menonton film-filmnya, Anda akan tahu bahwa aktor yang satu ini mempunyai lebih dari sekadar bakat untuk bermain di layar lebar.

Tapi kalau pertanyaannya diganti apakah pilihan peran Liam Neeson akhir-akhir ini terlalu membosankan, mungkin jawabannya akan menjadi "iya". Meskipun Neeson bermain apik dalam berbagai jenis genre, tapi semenjak Taken, aktor yang satu ini terlalu nyaman untuk bermain sebagai pembunuh bayaran atau orang yang jago bela diri dengan sedikit masalah untuk membuat filmnya menjadi berbeda dari film action murah yang lain. Kadang relationship issue, kadang alkoholik. Dan yang membuat film-film ini terus dibuat (dan ditonton) adalah fakta bahwa Liam Neeson memainkan ini dengan begitu effortless, penonton dengan mudah masuk ke dalam dunianya.

Dalam Memory, film terbaru arahan Martin Campbell yang kemarin juga merilis The Protégé, Liam Neeson berperan sebagai Alex Lewis. Ia adalah seorang pembunuh bayaran yang sangat baik dalam pekerjaannya. Dia tidak mempunyai kompas moral, semua pekerjaan adalah pekerjaan. Satu-satunya pantangan baginya adalah membunuh anak kecil. Itu sebabnya ketika dia diutus untuk membunuh seorang gadis muda, ia memutuskan untuk mundur yang akhirnya membuatnya menjadi incaran mafia, polisi lokal, agen FBI bahkan sampai mata-mata tersembunyi.

Diadaptasi dari film Belgia berjudul The Memory of a Killer (yang merupakan adaptasi dari buku karya Jef Geeraerts), Memory memberikan sedikit edge untuk membedakan film ini dengan film Liam Neeson yang lain. Alex Lewis disini masih sama seperti karakter-karakter film sebelumnya: penyendiri, mempunyai kemampuan bela diri dan menyelesaikan aksinya lebih dari rata-rata meskipun usianya sudah tua dan sangat kompeten. Yang membuat Memory agak sedikit berbeda adalah kenyataan bahwa Alex Lewis bermasalah dengan ingatannya. Ingatannya mulai kabur dan sepertinya sebentar lagi demensia akan mengejarnya.

Apa yang Anda sukai (dan mungkin hal yang membuat Anda bosan) dari film-film Liam Neeson ada di sini. Plot yang ribet tapi tidak terlalu kompleks, adegan-adegan yang lumayan seru (terutama adegan pembunuhan di gym) serta konklusi yang jelas. Liam Neeson sekali lagi tampil meyakinkan sebagai Alex Lewis. Di umurnya yang sudah tak lagi muda, ia sanggup menandingi aktor-aktor muda dengan kemampuan fisiknya yang masih oke. Dan secara akting, Neeson mampu mengatakan banyak emosi hanya melalui matanya. Anda bisa melihat kelelahan di matanya ketika ia sedang menemui jalan buntu. Dan Anda bisa melihat kebingungan karena masalah ingatan ini dari tatapan wajahnya.

Yang juga menarik dalam Memory mungkin adalah bagaimana penulis skripnya, Dario Scardapane, mengajak penonton untuk melihat Alex Lewis. Sangat mudah untuk mendukung Liam Neeson karena aktor yang satu ini sangat kharismatik. Tapi dalam Memory, penulisnya menggambarkan Alex Lewis sebagai karakter yang memang membunuh untuk mencari uang. Alex Lewis bukan penjahat yang hatinya baik atau dia terpaksa melakukan ini. Dia memang bermatapencaharian sebagai pembunuh. Dan hal itu membuat Memory menjadi menarik karena sebagai penonton kita terlalu terbiasa untuk mendukung Liam Neeson. Di film ini, kita sedikit diajak untuk melihat apakah yang dilakukan Alex Lewis baik atau tidak. Hal ini membuat filmnya agak sedikit jujur.

Tapi sayangnya semua "bumbu spesial" itu hanya berakhir di sana. Memory tetaplah film Liam Neeson yang lumayan standar. Guy Pearce bermain lumayan asyik (yang lucunya juga pernah memainkan karakter dengan masalah memori dalam Memento-nya Nolan). Monica Bellucci yang kebagian peran sebagai penjahat bermain agak malas-malasan.

Campbell sebagai sutradara memasukkan hal-hal yang lumayan "panas" seperti soal bocah-bocah yang dikurung di imigrasi tapi itu tidak membuat Memory terasa political. Ini hanya sekedar hiasan untuk membuat film ini terasa agak lebih ada maknanya. Memory adalah film aksi hiburan luar dalam. Film ini bisa jadi alternatif tontonan yang asyik, apalagi kalau Anda mengajak pecinta film Liam Neeson nonton bersama.

Memory dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

---

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)