ADVERTISEMENT

Review Russian Doll Season 2: Perjalanan Lintas Waktu yang Personal

Candra Aditya - detikHot
Selasa, 03 Mei 2022 18:02 WIB
Russian Doll 2
(Foto: dok. Netflix) Musim kedua Russian Doll adalah sebuah tontonan yang tidak bisa Anda lewatkan. Saya hanya bisa berharap agar Netflix segera mengumumkan musim ketiga.
Jakarta -

Russian Doll, sebuah serial komedi karya Natasha Lyonne, Leslye Headland, dan Amy Poehler rilis pertama kali tahun 2019 silam. Ini merupakan sebuah sajian komedi yang aneh. Humornya bukan jenis humor yang akan bisa diterima oleh kebanyakan orang. Tapi kalau Anda menikmati humornya yang sangat kering, Anda akan sangat mencintai serial ini. Salah satu hal yang paling Saya sangat kagumi dari Russian Doll adalah bagaimana ia menggunakan sebuah konsep yang akhir-akhir ini menjadi sangat populer (time-loop) untuk menceritakan sesuatu yang nyata, sesuatu yang penting.

Seperti halnya musim pertama yang lebih enak kalau dinikmati tanpa tahu cerita dan apa-apanya, musim kedua Russian Doll menceritakan apa yang terjadi kalau Anda sudah berhasil keluar dari time-loop menyebalkan yang Nadia (Natasha Lyonne) alami di musim pertamanya. Setelah dia mati berulang-ulang di hari ulang tahunnya yang ke-36, Nadia akhirnya bertemu dengan Alan (Charlie Barnett) yang membuatnya sedikit agak lega karena itu artinya dia bukan satu-satunya orang yang dikutuk.

Kemudian Nadia menemukan "sesuatu yang lebih buruk dari kematian". Dia menemukan perjalanan kereta bawah tanah yang membuatnya bingung setengah mati. Ketika dia naik subway, dia terkejut saat menemukan dirinya sampai di tempat tujuan tapi bertahun-tahun sebelumnya. Lebih tepatnya Nadia menemukan dirinya ada di New York tahun 1982. Seolah-olah ini hanya ujung dari kejutan yang akan dia temui hari itu, Nadia tersadar bahwa dia ada di New York tahun 1982 dan berada di tubuh ibunya ketika sedang mengandung dirinya sendiri.

Russian Doll tahu benar bahwa kemudi serial ini adalah Nadia. Setelah musim pertamanya kita diperkenalkan dengan karakternya dengan sangat baik, tidak mengherankan penulis serial ini memutuskan untuk mengeksplor hal lain tentang Nadia di musim keduanya. Di musim lalu kita mengenal Nadia sebagai sosok orang bodo amat yang penuh dengan trauma berkepanjangan, hampir semuanya berhubungan dengan ibunya. Memutuskan untuk membuat Nadia langsung punya koneksi (dan juga kendali) atas trauma tersebut membuat musim kedua Russian Doll terasa sangat menggelegar meskipun rasa serunya agak jauh berkurang jika dibandingkan dengan musim pertamanya.

Tentu saja musim kedua Russian Doll tidak akan semenohok ini kalau Lyonne tidak memerankan Nadia dengan sangat baik. Sekali lagi dia mengambil mikrofon dan berdiri di spotlight dengan sangat effortless. Anda bisa melihat apa yang sedang ia pikirkan hanya lewat ekspresi mukanya yang kaya. Bagaimana dia berusaha keras untuk memperbaiki masa lalu agar masa kininya menjadi baik ditampilkan dengan begitu meyakinkan.

Tapi Lyonne kali ini tidak sendirian untuk menjadi pemeran utama. Karena plot-nya yang memang membahas masa lalu, Chloe Sevigny yang kebagian jatah berperan sebagai ibu Nadia juga berbagi panggung dengan Lyonne dengan sangat baik. Chemistry mereka benar-benar luar biasa. Di akhir perjalanan, Anda mungkin akan menemukan diri Anda terharu dengan usaha Nadia sepanjang tujuh episode.

Meskipun musim kedua ini tidak "seseru" musim pertamanya, tapi musim kedua Russian Doll ini tetap gila dan kreatif seperti musim pertamanya yang menggunakan konsep time-loop dengan brilian. Di musim keduanya, Russian Doll tetap makin menggila begitu Anda loncat ke episode berikutnya dan begitu Anda sampai di episode terakhir, penonton hanya akan bisa menganga. Pembuat Russian Doll berhasil tidak hanya melengkapi potongan teka-teki soal masa lalu Nadia dengan baik tapi mereka berhasil membuat kisah tentang trauma, rasa berkabung dan nasib dengan begitu indah tapi tidak pernah malu-malu untuk menunjukkan realitanya.

Estetik Russian Doll musim kedua juga upgrade karena sekarang mereka bermain-main dengan waktu. Tidak hanya lokasinya sekarang jauh lebih beragam, tapi kita juga melihat kostum-kostum yang sungguh berbeda dengan visual yang jelas-jelas terinspirasi dari film-film 1970an yang cakep-cakep. Ditambah dengan soundtrack yang begitu keren, musim kedua Russian Doll adalah sebuah tontonan yang tidak bisa Anda lewatkan. Dengan ending yang begitu bikin penasaran, saya hanya bisa berharap agar Netflix segera mengumumkan kapan musim ketiganya akan tayang. Karena untuk saat ini, urusan Nadia masih belum selesai.

Russian Doll dapat disaksikan di Netflix.

---

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT