ADVERTISEMENT

Review Kimi: Thriller Singkat, Padat, Bukan Kaleng-kaleng

Candra Aditya - detikHot
Minggu, 27 Feb 2022 18:29 WIB
Kimi
(Foto: dok. HBO) Kimi adalah sebuah thriller padat yang sangat recommended kalau Anda butuh tontonan seru untuk akhir pekan panjang ini!
Jakarta -

Angela Childs (Zoe Kravitz) adalah seorang pegawai perusahaan Amydala yang tugasnya adalah memonitor data dari smart speaker bernama Kimi (seperti Alexa). Seperti jutaan orang lainnya, Angela terjebak di apartemennya karena pandemi COVID-19. Tapi tidak seperti jutaan orang tersebut, Angela benar-benar tidak keluar rumah. Stres pandemi dan juga trauma yang dialaminya beberapa waktu sebelumnya membuatnya mengidap penyakit psikologis bernama agoraphobia (ketakutan berlebihan saat berada di ruang terbuka atau tempat umum). Ya, mirip karakter Amy Adams di The Woman In The Window.

Meskipun "terjebak" dalam apartemennya, Angela berusaha untuk hidup normal dengan jadwal yang tetap meskipun semua rutin ini terlalu konsisten. Dia olahraga (sambil mendengarkan Billie Eilish), dia bekerja dan kadang berkencan singkat dengan teman kencannya di apartemen. Kemudian suatu hari Angela mendengarkan sesuatu yang sangat mengganggunya yang membuat semua rutinitas ini buyar. Seketika hidupnya pun langsung jungkir balik.

Kalau ada pembuat film yang selama pandemi justru semakin rajin membuat film itu adalah Steven Soderbergh. Setelah mengajak Meryl Streep untuk nongkrong di kapal pesiar dalam Let Them All Talk (bisa disaksikan di HBO Go), tahun lalu ia juga merilis sebuah thriller kriminal yang mood-nya seperti thriller jaman dulu dengan judul No Sudden Move (salah satu pemainnya adalah Julia Fox yang saat ini masih jadi perbincangan karena baru saja putus dari Kanye West). Yang hebat (atau menyebalkan?) dari karya-karyanya ini, Soderbergh belum gagal. Dua film tersebut tidak hanya berkualitas tapi juga luar biasa menghibur. Let Them All Talk dengan pendekatan improvisasi membuat drama komedi yang ada di dalamnya menjadi tidak biasa dan No Sudden Move (juga bisa disaksikan di HBO Go) tidak hanya menggigit tapi juga menyajikan salah satu ending yang brilian. Kejeniusan Soderbergh dalam membungkus cerita ternyata juga masih berlanjut dalam Kimi.

Berkolaborasi dengan penulis skrip David Koepp, Kimi adalah sebuah thriller yang sangat padat tapi isinya sangat berisi. Durasinya mungkin hanya 89 menit tapi Soderbergh dan Koepp mengisinya dengan lapisan cerita dan background karakter yang sangat jelas sehingga saya sebagai penonton bisa langsung relate dengan karakter utamanya. Kalau rasa klaustropobik yang Anda akan rasakan dalam Kimi mirip seperti Panic Room hal tersebut bukan kebetulan karena Koepp juga penulis skrip film garapan David Fincher tersebut. Bedanya, dalam Kimi, klaustropobik tersebut rasanya berlapis-lapis. Ada rasa familier karena kita semua mengenal bagaimana rasanya lockdown di tengah pandemi, kemudian penjelasan detail mengenai penyakit karakter utama dan terakhir tentu saja urgensi thriller yang membuat semuanya menjadi sesak.

Yang saya sangat sukai dari Kimi adalah bagaimana Soderbergh merekam Kimi dengan sangat jelas dan sangat realistis. Seperti halnya Contagion, Side Effects, atau bahkan Unsane, film ini sangat nyata meskipun ia membahas sesuatu yang kesannya futuristik. Jangan khawatir kalau Kimi akan berubah menjadi sci-fi karena Soderbegh tidak pernah tertarik untuk membahas soal teknologinya. Yang ia ungkap disini justru tentang orang-orangnya, dan terutama tentang korporasi di balik teknologi ini.

Zoe Kravitz memang sudah tidak perlu diragukan lagi kemampuan aktingnya. Aktris yang satu ini semakin ke sini semakin membuktikan bahwa dia bukan produk nepotisme mengingat bapak-ibu kandungnya adalah orang terkenal. Dalam Kimi, penonton mendapatkan kesempatan untuk berkenalan dengan Angela dengan cara yang subtle tapi sangat efektif. Lihat bagaimana Kravitz menunjukkan kemonotonan rutinitasnya hari-hari. Wajahnya yang sangat ekspresif membuat saya sebagai penonton merasa bahwa Angela mengalami banyak hal meskipun Soderbergh tidak menjelaskan secara verbal.

Ada sensasi yang sangat memuaskan menyaksikan seorang aktor yang tahu benar karakter yang ia mainkan luar dalam. Di dalam Kimi, Kravitz tidak hanya meyakinkan saya bahwa dia adalah seorang pegawai tech tapi juga berhasil menaikkan tempo ketegangan ketika film memaksanya untuk beraksi. Kalau setengah jam pertama adalah perkenalan dan setengah jam kedua adalah teror maka setengah jam terakhir adalah peperangan. Tidak ada adegan gebuk-gebukan heboh seperti yang akan kita saksikan nanti di film The Batman yang tayang minggu depan, tapi sensasinya tetap saja menegangkan.

Sekali lagi Soderbergh bekerja triple di film ini. Ia juga menjadi sinematografer dan editor untuk film ini (menggunakan nama alias Peter Andrews sebagai sinematografer dan Mary Ann Bernard sebagai editor). Dan bisa diprediksi secara visual ia sangat stylish dan secara editing dia sangat lincah. Ditambah dengan musik yang sangat top dari Cliff Martinez, Kimi adalah sebuah thriller padat yang sangat saya rekomendasikan. Kalau Anda butuh tontonan seru untuk akhir pekan panjang ini, aksi Angela mencari tahu siapa yang menjerit di rekaman Kimi bisa menjadi pilihan.

Kimi dapat disaksikan di HBO Go.

--

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT