Review The Power Of The Dog, Salah Satu Jagoan di Oscar Tahun Ini

Candra Aditya - detikHot
Minggu, 05 Des 2021 18:52 WIB
The Power of the Dog adalah sebuah film yang hanya bisa dilahirkan oleh sineas yang tahu benar apa yang ia buat (Candra Aditya, pengamat film). Film ini bisa ditonton di Netflix.
(Foto: dok. Netflix) The Power of the Dog adalah sebuah film yang hanya bisa dilahirkan oleh sineas yang tahu benar apa yang ia buat. Film ini bisa ditonton di Netflix.
Jakarta -

Jane Campion sudah berkarir dari dekade 80-an tapi sampai sekarang jumlah filmnya tidak sampai 10. Film panjang terakhir yang ia buat adalah Bright Star. Sepuluh tahun lebih dia absen membuat film panjang (meskipun dia sempat membuat series bersama Elisabeth Moss dengan judul Top of the Lake). Data-data ini tentu saja akan membuat penggemar Campion berbahagia karena artinya ketika ia merilis film baru, semuanya harus siap dengan gebrakan apa lagi yang ia buat. Dan film terbarunya, The Power of the Dog, secara singkat bisa saya bilang spektakuler.

The Power of the Dog memang bukan untuk semua orang. Tapi jika Anda berani untuk menyicipinya dan tenggelam bersama ceritanya, maka Anda harus siap-siap terperangah dengan semua kegilaan yang Campion tampilkan dalam film ini. Dengan pemain-pemain yang paripurna, skrip yang matang dan penyutradaraan yang sangat percaya diri, film ini adalah hadiah bagi pecinta film.

Latarnya di Montana tahun 1925. Penonton bertemu dengan Phil Burbank (Benedict Cumberbatch) dan saudaranya George Burbank (Jesse Plemons). Mereka adalah orang kaya, pemilik peternakan yang sangat besar. Dalam sebuah perjalanan mereka mampir untuk makan malam di sebuah diner milik janda bernama Rose (Kirsten Dunst). Konflik dimulai ketika Phil yang sangat macho dan gagah perkasa mengata-ngatai anak Rose bernama Peter (Kodi Smit-McPhee) yang dianggapnya terlalu lembek.

Sementara anak buah Phil mendukungnya untuk terus meneror Peter, George memiliki perasaan yang sangat berbeda. Dia melihat kerapuhan Rose dan menemukan ketenangan di sana. Tidak butuh waktu lama bagi George untuk jatuh cinta dengan Rose dan akhirnya menikahinya. Tentu saja ini menjadi sumber konflik karena begitu Rose pindah ke peternakan keluarga Burbank, Phil tidak buang-buang waktu untuk meneror Rose dan anaknya.

Diadaptasi dari buku karangan Thomas Savage, Campion mereka ulang The Power of the Dog menjadi sebuah slow burn drama yang sangat menggigit. Menontonnya memang butuh kesabaran karena seperti membangun rumah, Campion menata bata dengan perlahan dengan mengenalkan karakter-karakternya dengan baik sebelum dia mengajak penonton untuk masuk ke dalam konfliknya. Cara ini sangat efektif karena ketika Campion menggeser sedikit dinamika hubungan antar tokohnya, The Power of the Dog langsung berubah dari air sungai yang tenang, menjadi sebuah ombak yang ganas.

Paruh pertama The Power of the Dog memang lambat. Menyaksikan Rose yang diteror terus-terusan oleh Phil juga bukan pengalaman yang menyenangkan. Campion berhasil membuat teror yang Phil lakukan ke Rose sangat efektif meskipun tidak ada kekerasan secara fisik. Tapi secara psikologis, satu jam pertama The Power of the Dog lebih menyeramkan dari apapun yang serial Saw sajikan. Film ini langsung tancap gas begitu kita diajak untuk mengetahui rahasia masing-masing karakternya dan mulai dari sini The Power of the Dog berubah menjadi tontonan yang sangat seru.

Seperti halnya film-film Campion yang lain, The Power of the Dog adalah sebuah film yang diramaikan dengan permainan para aktornya yang tokcer. Benedict Cumberbatch mungkin bisa jadi mendapatkan Oscar melalui film ini. Sebagai Phil, ia berubah menjadi makhluk ganas yang menyeramkan. Di saat yang bersamaan ia bisa menunjukkan sisi lembutnya yang memang menjadi musuh karakternya. Bahkan hanya menggunkan banjo, Cumberbatch berhasil membuat saya merinding.

Ini bukan pertama kalinya Kirsten Dunst memainkan karakter depresif. Tapi dalam The Power of the Dog, kita diajak untuk melihat transisinya dari seorang Rose yang bertahan hidup menjadi seorang Rose yang tenggelam dalam alkohol karena ia tidak tahu bagaimana caranya coping dengan orang sedestruktif Phil. Peran ini sangat enak untuk dimainkan Dunst meskipun ia tidak punya banyak dialog. Dalam kediamannya ia bisa menampilkan rasa putus asanya dengan gemilang. Chemistry-nya dengan Jesse Plemons (yang merupakan pasangan aslinya di dunia nyata) juga sangat baik.

Dan tentu saja Kodi Smit-McPhee yang merupakan amunisi cadangan film ini. Ada alasan kenapa Campion memilih Smit-McPhee unuk bersanding dengan Cumberbatch. Tunggu sampai Anda melihat akhir filmnya dan Anda akan melihat bagaimana The Power of the Dog menggunakan kemampuan aktor ini dengan paripurna.

Dengan sinematografi yang megah dari Ari Wegner dan musik yang menggelegar dari Jonny Greenwood, The Power of the Dog adalah sebuah film yang hanya bisa dilahirkan oleh sineas yang tahu benar apa yang ia buat. Comeback Jane Campion ini sama sekali tidak mengecewakan. Jangan kaget kalau nanti saat Oscar memasukkan film ini ke daftar nominasi mereka. Film ini menawarkan salah satu ending terbaik yang saya lihat tahun ini. Singkatnya, The Power of the Dog adalah sebuah pencapaian sinema yang sempurna.

The Power of the Dog dapat disaksikan di Netflix.

---

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)