He's All That: Sebuah Makeover Yang Garing

Candra Aditya - detikHot
Minggu, 29 Agu 2021 16:31 WIB
Hes All That
Foto: Netflix
Jakarta -

Kalau Anda tumbuh di dekade 90-an, film remaja berjudul She's All That yang dimainkan oleh Freddie Prinze Jr. dan Rachel Leigh Cook bukanlah sebuah film yang asing. Film remaja yang satu itu mempunyai warisan budaya yang kuat, seperti salah satunya lagu Kiss Me yang dinyanyikan Sixpence None The Richer yang menjadi soundtrack film tersebut. Ketika Netflix memutuskan untuk me-makeover film tersebut agar generasi TikTok bisa menikmatinya, itu hanyalah masalah waktu.

Semua yang ada dalam He's All That mengikuti semua beat film pendahulunya. Penulis skripnya, R. Lee Fleming Jr., mengikuti semua flow skrip yang ditulisnya dua dekade silam dan memperbaharuinya dengan semua yang berbau kekinian dan menghilangkan semua hal yang bisa membuat film ini dicancel. Hal pertama yang diubah Fleming dalam film ini adalah karakter utamanya. Jika di film pendahulunya kita menyaksikan seorang cowok populer mencoba untuk menjadikan seorang siswi untuk menjadi prom queen, kali ini kita bertemu dengan Padgett Sawyer (Addison Rae), seorang influencer, yang mencoba untuk me-makeover Cameron akweller (Tanner Buchanan) sebagai prom king.

Seperti film aslinya, Padgett sebelumnya berpacaran dengan cowok populer. Jordan Van Draanen (Peyton Meyer) adalah seorang rapper ala-ala yang menjadi idola di sekolah. Ketika Padgett menemukan Jordan selingkuh di trailernya dan videonya marah-marah viral di sosmed, semua followernya meninggalkannya. Bukannya mendapatkan banjir simpati, Padgett malah terancam kehilangan uang untuk biaya kuliahnya. Sekarang Padgett pusing tujuh keliling.

Tentu saja Padgett berusaha keras untuk kembali mendapatkan status quo. Sahabatnya, Alden (Madison Pettis), mengusulkan Padgett untuk me-makeover cowok menyedihkan di sekolahnya untuk membuktikan ke dunia bahwa dia adalah influencer hebat. Tapi ternyata dengan berjalannya waktu, hatinya mulai bergetar untuk Cameron.

She's All That, sebagai sebuah film remaja, bukanlah film yang sempurna. Film tersebut masih terjebak dengan stereotip film remaja kebanyakan dan seperti eranya yang masih belum socially woke, She's All That masih punya tone sexist, ada unsur fat-phobia dan segala macamnya. Flemming menyingkirkan itu semua dan membuat He's All That jauh lebih sehat. Ini mungkin adalah progress terbaik dari film ini karena selain itu He's All That sangat menggelikan. Jokesnya tidak berhenti tentang apa yang Gen-Z lakukan (bersiaplah mendengar jokes tentang remaja jaman sekarang yang terlalu fokus dengan hape).

Mark Waters, sutradara Mean Girls, memang mendapatkan tugas yang berat. Dia harus membuat Addison Rae, bintang TikTok yang sangat terkenal ini, terlihat seperti bisa akting. Tentu saja hal ini susah dilakukan karena Addison Rae di film ini seperti tidak punya satu pun bakat akting dalam tulangnya. Percuma saja Fleming menulis skrip ini dengan dialog yang baik kalau Addison Rae mengucapkan semua dialognya seperti robot. Lihat adegan ketika Padgett tahu bahwa dia dikhianati sahabatnya. Adegan yang harusnya menjadi salah satu klimaks malah terasa seperti lelucon karena emosi Rae lebih datar dari penggaris. Chemistry-nya dengan Tanner Buchanan juga tipis sekali.

Untuk membuat film ini terasa makin shallow, Mark Waters mempersembahkan visual film ini seperti layaknya pemotretan majalah fashion. Lightingnya keras. Semua karakter remajanya memakai make-up tebal. Semua orang terlihat good looking. Tidak ada satu pun remaja jelek disini. Tapi mungkin itu tujuan utamanya. Mengingat pembuat filmnya memutuskan untuk me


He's All That dapat disaksikan di Netflix

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(dar/dar)