Minari: Potret Kisah Keluarga Imigran Yang Menyentuh

Candra Aditya - detikHot
Kamis, 22 Apr 2021 06:30 WIB
Film Minari
Foto: Dok. Instagram Minari
Jakarta -

Dari awal Minari dibuka, saya sudah bisa merasakan bahwa ini adalah sebuah kisah keluarga yang mengharu biru. Gerakan kamera dari Lachlan Milne yang lembut, diikuti dengan musik dari Emile Mosseri yang terasa seperti konser untuk meninabobokan bayi membuat adegan perpindahan keluarga baru ke Arkansas ini terasa sentimentil. Saya bisa merasakan itu padahal film baru saja dimulai. Itulah awal tanda-tanda magis dari penulis dan sutradara Lee Isaac Chung. Tidak heran jika film ini diganjar dengan berbagai banyak penghargaan dan siap untuk berkompetisi di ajang prestisius Oscar minggu depan.

Minari adalah sebuah film sederhana yang bercerita tentang Jacob (Steven Yeun) yang memaksa keluarganya pindah dari California ke Arkansas untuk hidup dengan layak. Tentu saja definisi hidup dengan layak ini berbeda dengan apa yang dimengerti istrinya, Monica (Han Ye-ri). Menurut Monica, hidup mereka sebelumnya di California baik-baik saja. Mereka punya teman, anak-anak mereka bersosialisasi dengan baik dan dekat dengan rumah sakit. Ini krusial karena anak bungsu mereka, David (Alan Kim), jantungnya bermasalah.

Tapi definisi hidup dengan layak menurut Jacob lebih dari sekedar bekerja untuk orang lain dengan memilah-milah jenis kelamin ayam. Jacob merasa bahwa sebagai generasi pertama imigran, dia harus bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi kedua anaknya, David dan Anne (Noel Kate Cho). Jacob ingin punya ladang yang besar dan nantinya mungkin akan menjadi bisnis mereka yang stabil.

Perbedaan pendapat inilah salah satu pondasi yang akan mengajak penonton bergelut dengan emosinya sendiri. Tentu saja baik Monica atau pun Jacob benar. Keduanya hanya ingin yang terbaik bagi kedua anaknya. Dan itulah yang menjadi Minari sebuah tontonan yang sangat kuat dan menyentuh. Menyaksikan satu keluarga ini berusaha keras untuk memulai hidup baru di sebuah tanah yang asing dengan rintangan yang abstrak, yang tentu saja membuat mereka ketar-ketir setiap hari.

Minari adalah sebuah nafas baru yang menyenangkan. Ia tidak terlalu dramatis seperti kebanyakan film Asia (baca: Korea) yang akan siap mengeksploitasi air mata penonton. Tapi ia juga bukan produksi Hollywood kebanyakan yang memberikan kemudahan dengan editing yang sensasional dan tempo yang cepat. Cara Lee Isaac Chung mengajak penonton untuk pelan-pelan menyelami Keluarga Yi dengan mengikuti aktivitas anggota keluarganya masing-masing ternyata justru efektif untuk membuat saya dekat dengan mereka. Ini penting karena di tengah-tengah film, saya sebagai penonton sudah lekat dengan mereka sehingga saya benar-benar menginginkan hal yang terbaik kepada nasib karakter-karakternya.

Secara teknis, Minari memang tidak luar biasa. Tapi menyaksikan film ini di layar lebar membuat saya tersadar bahwa ternyata kesederhanaan film ini membuat film ini terdengar dengan begitu lantang. Seperti yang saya sebutkan di paragraf pertama, kamera dan musik film ini bergerak begitu lembut. Tapi begitu film ini berjalan, saya semakin tenggelam di dalamnya. Baik kamera dan musik dalam film ini Minari bergerak dengan begitu lembut sehingga saya benar-benar terbuai dengan adegan yang ada di dalamnya. Adegan-adegan dramatis direkam dengan intim, tanpa begitu banyak movement. Dan hasilnya menusuk sekali.

Meskipun cerita film ini sangat sederhana tapi tidak dengan pergumulan batin yang dirasakan karakternya. Seperti kebanyakan keluarga Asia yang memendam perasaan dan baru akan melontarkan semua emosi itu jika sudah sampai di titik didih, kebanyakan karakter dewasa dalam Minari memendam perasaan. Bagi Jacob adalah obsesinya untuk berhasil dan sedikit keraguan akan keputusannya memboyong keluarganya ke Arkansas. Apakah ini keputusan yang terbaik? Bagaimana jika apa yang dikatakan Monica benar? Bagi Monica adalah rasa ingin melindungi keluarganya dari rasa sakit. Monica tahu apa yang akan terjadi jika rencana ini gagal. Lalu apa yang terjadi jika sewaktu-waktu anak bungsu mereka kumat sakitnya?

Kemudian tentu saja ada karakter nenek bernama Soon-Ja (Youn Yuh-jung) yang sekilas terlihat sebagai comic relief tapi porsinya jauh lebih dari itu. Sosoknya seperti mentari yang menyinari ladang Jacob. Nenek adalah harapan. Nenek adalah pembuktian. Nenek juga merupakan pengorbanan. Apa yang terjadi jika orang yang harus mereka lindungi ternyata malah menjadi korban?

Salah satu alasan kenapa Minari bisa menjadi sebuah drama yang berhasil adalah karena pembuat film ini berhasil menemukan aktor-aktor yang tepat untuk memerankan karakter-karakter ini. Steven Yeun dan Youn Yuh-jung yang mendapatkan nominasi Oscar atas akting mereka memang sudah tidak bisa diragukan lagi kualitasnya. Mereka benar-benar berhasil merasuk ke dalam karakter-karakter ini dengan meyakinkan.

Tapi jeniusnya, Minari tidak terbatas pada mereka. Han Ye-ri sebagai Monica lebih dari luar biasa memerankan karakter ini. Anda bisa melihat berbagai ekspresi emosi hanya dalam satu tatapan matanya saja. Lihat bagaimana ketika Monica mencuci rambut Jacob setelah Jacob kewalahan bekerja seharian di ladang. Lihat bagaimana ekspresi wajahnya ketika Jacob mengatakan bahwa dia bisa meninggalkannya bersama kedua anak mereka kalau rencana Jacob gagal. Han Ye-ri seperti halnya Yeun dan Yuh-jun layak mendapatkan nominasi Oscar.

Dari pemeran anak mereka, Noel Kate Cho meyakinkan sekali sebagai kakak sulung yang bertanggung jawab. Tapi memang fokus mata penonton akan ke karakter David yang diperankan dengan sangat effortless oleh Alan Kim. Alan Kim begitu menggemaskan tampil sejak menit pertama film ini diputar. Dengan karakter yang begitu kuat, Alan Kim menggenggam David dengan erat dan tak melepaskannya sampai film selesai.

Menurut sebuah interview, Lee Isaac Chung berkata bahwa dia tadinya berniat pensiun dan menjadikan film ini sebagai film terakhirnya. Tak disangka ternyata Minari berakhir sebagai karya yang membawanya ke level baru yang dia tidak sangka-sangka. Melihat hasilnya, tidak mengherankan jika Lee Isaac Chung mendapatkan nominasi atas skripnya yang personal dan penyutradaraannya yang sangat kuat. Minari adalah sebuah simfoni sederhana yang menghangatkan. Film ini seperti sebuah pelukan yang hangat yang tidak akan hilang efeknya bahkan setelah Anda pergi dari bioskop. Jika Anda ingin menyaksikan tontonan yang menghangatkan jiwa Anda, Minari bisa ditonton bersama anggota keluarga Anda dan bersiaplah untuk menelan magisnya.

Minari dapat disaksikan di jaringa CGV, Cinepolis, Flix dan lain-lain.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



Simak Video "K-Talk Ep 76: Minari Jadi Pembuktian Korean Wave Masih Landa Amerika"
[Gambas:Video 20detik]
(srs/srs)