Sound of Metal: Ketika Dunia Menyepi

Candra Aditya - detikHot
Selasa, 05 Jan 2021 19:24 WIB
Sound of Metal
Sound of Metal tayang di Amazon / Foto: (Official Sound of Metal)
Jakarta -

Kadang muncul satu film dimana Anda tidak bisa melepaskan Anda dari permainan seorang aktor yang saking bagusnya ia melebur dengan peran yang ia mainkan. Ia bukan lagi Si Aktor tapi dia Menjadi Si Karakter. Hal inilah yang saya rasakan ketika menonton permainan Riz Ahmed dalam Sound of Metal, drama garapan Darius Marder dalam debut penyutradaraannya.

Dalam dua jam Anda akan menyaksikan permainan akting yang sangat meyakinkan dari Riz Ahmed, Anda akan percaya bahwa dia adalah Ruben.

Premis Sound of Metal sangat keren. Apa yang terjadi jika drummer band rock mendadak tuli? Sebuah premis yang langsung menggambarkan isi filmnya. Riz Ahmed berperan sebagai Ruben, si drummer band rock tersebut. Dalam openingnya kita diajak menyaksikan betapa hidup Ruben sangat sederhana. Dia sedang touring bersama band-nya yang hanya terdiri dua orang.

Blackgammon, nama band tersebut, hanya terdiri dari dia dan si vokalis sekaligus pacarnya, Lou (Olivia Cooke). Mereka main di bar-bar underground dan berkeliling Amerika dengan RV. Semuanya sederhana dan indah. Tapi kemudian Ruben bangun suatu pagi dan suara-suara yang dia dengar perlahan menghilang.

Suara datang dan pergi. Ruben mencoba untuk tenang. Tapi kemudian suara-suara ini menghilang lagi. Ruben memutuskan untuk pergi ke dokter dan memeriksakan telinganya. Yang dia dapat adalah berita buruk.

Telinganya tidak sama seperti dulu. Dan kata dokter, keadaan ini akan memburuk. Sebagai orang yang hidup dan bernafas untuk musik, Ruben tidak bisa menerima ini.

Sound of MetalRiz Ahmed dalam Sound of Metal Foto: (Official Sound of Metal)

Menyaksikan sang kekasih panik, Lou langsung mencari tahu bagaimana cara menghadapi masalah ini. Ruben adalah mantan pecandu. Sudah 4 tahun dia bersih dan sepertinya masalah ini akan membawa dia ke lembah hitam tersebut jika mereka tidak mencari solusi segera. Ruben akhirnya dibawa ke fasilitas di mana dia belajar untuk hidup tanpa suara. Tapi bisakah dia sungguh-sungguh menghadapi perubahan ini jika monster di dalam dirinya menolak kondisi ini?

Jika Anda merasa mood depresif dan penceritaan yang cukup realis membuat Anda deja vu, itu karena Sound of Metal awalnya datang dari sutradara dan penulis Derek Cianfrance yang terkenal dengan Blue Valentine dan The Place Beyond The Pines. Darius Marder bersama Abraham Marder kemudian mengembangkan sendiri cerita dari Cianfrance dan menjadi Sound of Metal. Hasilnya adalah dua jam character study yang sangat menarik.

Drama yang disajikan Marder sebenarnya tidak menggelegar terlepas dari premisnya yang memang sudah menonjol duluan. Adegan-adegan yang dirangkum Marder tidak eksploitatif atau memaksa penonton untuk langsung relate dengan masalah karakter utamanya. Tapi justru di balik keminimalisan pengadeganan yang dibuat oleh Marder, impactnya justru kuat.

Sebagai seorang sutradara Marder sangat fokus terhadap permainan aktor dan penggambaran environment-nya. Menyaksikan Sound of Metal adalah diundang ke dalam dunia yang cukup asing.

Penonton dipaksa untuk menerima vonis yang menyebalkan. Kamera Daniel Bouquet tidak macam-macam. Dia hadir untuk mengamati aktivitas karakter-karakternya. Tapi tentu saja karena film ini adalah tentang hilangnya suara maka sound design berperan sangat penting disini.

Dan sound design dalam Sound of Metal yang dirancang oleh Nicolas Becker sungguhlah brilian. Noise, suara-suara tidak nyaman, bahkan kadang sengaja adegan dibiarkan bisu atau mendadak suara muncul dengan keras secara tiba-tiba benar-benar dirancang agar penonton merasakan apa yang Ruben rasakan.

Sound design dalam Sound of Metal dibuat sedemikian rupa sehingga penonton langsung ada dalam tubuh Ruben. Dan inilah yang membuat sensasi menonton Sound of Metal sangat nyata.

Sound of MetalSound of Metal Foto: (Official Sound of Metal)

Rasanya seperti 3D. Betapa tidak enaknya jika salah satu indra kita benar-benar hilang. Hampir semua pemain dalam film ini memberikan penampilan yang natural. Olivia Cooke sebagai Lou berhasil mencuri perhatian bahkan dengan screen time-nya yang terbatas.

Saya bisa membayangkan sejarah relationship antara Lou dan Ruben bahkan ketika saya hanya diberi adegan yang terbatas. Aksi-reaksi yang diberikan Lou ketika tahu apa yang terjadi dengan Ruben sudah cukup untuk menginformasikan itu dan Cooke menjual adegan tersebut dengan 100%.

Tapi memang Sound of Metal adalah sebuah ajang pamer untuk Riz Ahmed. Aktor yang satu ini sudah sering malang melintang di berbagai film kece seperti Four Lions atau bahkan sebagai side kick Jake Gyllenhaal dalam Nightcrawler. Dalam Sound of Metal inilah Riz Ahmed benar-benar mencuri perhatian.

Sound of MetalSound of Metal Foto: (Official Sound of Metal)

Kalau pun plot yang disajikan Marder tidak mind-blowing, Ahmed meyakinkan penonton bahwa ini adalah kisah yang luar biasa dari aktingnya. Sound of Metal adalah sebuah pengalaman yang tidak terduga. Dengan ending yang paripurna, Sound of Metal menjadi salah satu film wajib yang harus Anda tonton.

Sound of Metal dapat disaksikan di Amazon Prime

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.



Simak Video "'The Invisible Man', Menegangkan dan Penuh Kejutan"
[Gambas:Video 20detik]
(doc/doc)