Mamen (Adipati Dolken, 'Crazy Love', 'Sang Kiai'), mahasiswa yang malas-malasan menyelesaikan skripsinya, suatu hari nongkrong di perpustakaan nasional. Ia cowok ganteng bermuka indo tipe idola remaja dan mungkin ibu-ibu muda. Pada hari itu di sela-sela kegiatan nongkrongnya di perpustakaan, ia melihat Adriana (Eva Celia), langsung jatuh hati, dan mengejarnya. Namun, alih-alih mendapatkan PIN BB atau akun Twitter-nya, Mamen malah diberi teka-teki dan harus memecahkannya bila ingin bertemu kembali dengan si cewek misterius itu.
Rupanya hidup di era Twitter, ketika handphone Android murah-meriah dapat kita beli dengan harga ratusan ribu untuk memudahkan kita mengakses data di internet, tak berarti apa-apa bagi Mamen. Mendapatkan teka-teki "Jika karpet itu berganti dua kali, aku akan menjumpaimu di tempat dua ular saling berlilitan pada tongkatnya, saat proklamasi dibacakan..." Mamen pun minta bantuan Sobar (Kevin Julio, 'Menculik Miyabi', 'Kembalinya Nenek Gayung'), temannya yang juga merupakan seorang asisten dosen Sejarah untuk memecahkannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sialnya, film ini tak mampu meyakinkan dalam konteks reka percaya. Dari awal film ini bermula hingga end credit title muncul banyak plot hole (kelalaian atau inkonsistensi dalam bercerita yang bertentangan dengan logika) bertebaran di sana-sini. Mungkin tak akan jadi masalah bila porsinya sedikit, namun dalam 'Adriana' plot hole selalu hadir di setiap adegan, dan itu sangat mengganggu.
Biasanya plot hole akan sangat mudah ditemui dalam film-film yang plot ceritanya amat rumit seperti dalam film 'The Dark Knight Rises' karya Chris Nolan atau film 'Star Trek' garapan J.J. Abrams. Lumrah-lumrah saja. Namun, apa jadinya bila film dengan cerita sederhana tentang seorang cowok yang mengejar cinta namun harus bertualang keliling kota untuk mendapatkannya, begitu banyak dipenuhi plot hole?
Lihat, naif dan konyolnya usaha Mamen memecahkan teka-teki itu: dari menyamar jadi nenek-nenek hingga berkostum Bung Karno lalu jalan-jalan keliling Jakarta, dan tak bisa membedakan antara rumah pembakaran abu jenazah dengan kamar mayat rumah sakit! Dan, lihatlah adegan Mamen dan Sobar ketika di dalam lift lalu ada perempuan gendut masuk; lawakan tipikal yang lahir dari selera humor yang buruk, yang sudah kita ketahui dari film-film Nugros sebelumnya. Tanpa adegan-adegan itu semua, 'Adriana' mungkin masih dapat terselamatkan. Tapi, kita bahkan belum bicara tentang penokohan.
Lihat, misalnya tokoh yang diperankan oleh Agus Kuncoro, dan relasinya dengan Adriana. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan, semua dibikin serba mudah: tokoh Agus adalah guru SD ketika Adriana duduk di bangku SD, dan jadi dosen ketika Adriana sudah mahasiswa. Dengan begitu, mereka bisa terus bertemu, untuk memenuhi tuntutan cerita. Demikianlah, dengan "semaunya sendiri" film ini menjalin plotnya, termasuk membuat tokoh-tokohnya bisa hadir pada saat yang bersamaan di mana saja, untuk, sekali lagi, mengejar efek sensasi cerita.
Memadukan unsur sejarah dan kisah pencarian cinta ke dalam sebuah film remaja memang terdengar keren, namun ternyata tak sekeren eksekusinya. Fakta-fakta sejarah di balik pembangunan Monas, Patung 'Pizza' di Bunderan Senayan, maupun cerita di balik pembuatan Patung Pancoran dan lain sebagainya hanya jadi trivia saja. Simak misalnya bagaimana tokoh kita si Mamen dengan penuh perjuangan memecahkan teka-teki "ke arah mana patung pancoran menunjuk", namun tak ada misteri apa-apa di ujungnya. Teka-teki itu dimunculkan hanya semata agar film ini kemudian bisa menyisipkan cerita tentang bagaimana Soekarno membangun patung tersebut.
Cerita itu, tentu saja, mengharukan. Termasuk, sisipan cerita lainnya tentang Bung Hatta dan cita-citanya membeli sepatu Bally yang tak pernah kesampaian. Namun, trivia tinggal trivia, dijahit di sana-sini, tanpa pernah berhasil membentuk sebuah mozaik yang utuh. Tak ada, misalnya misteri besar semisal ala 'National Treasure', bawa di balik Deklarasi Kemerdekaan ternyata menyimpan peta harta karun.
Kalau info-info tentang siapa pembuat patung kereta kuda di Jalan Medan Merdeka Barat, dan siapa perancang Monas masih bisa bikin penonton terpesona, toh info-info itu tak bisa menyumbang keutuhan cerita. Dalam 'Adriana' segala petunjuk (teka-teki) yang mengarah kepada tempat-tempat monumental itu tak lain dan tak bukan hanya jadi spot belaka di mana teka-teki berikutnya diletakkan untuk ditemukan.
Membeberkan serba-serbi fakta sejarah bisa dilakukan oleh siapa pun yang setidaknya mau membaca buku atau 'googling' di internet. Bukan hal yang istimewa. Kecuali, sineas film ini memang tengah mengkritik penontonnya sendiri sebagai cerminan dari Mamen, tokoh utama film ini, yang bodoh dan tersesat di zamannya. Ah, tapi rasanya bukan itu. 'Adriana' tak lebih, dan jauh lebih baik, ketimbang film-film bertema kebanyakan itu, dengan bonus tebak-tebakan sejarah alas 'Cerdas-Cermat'. Jadi, ada berapa kuburan Belanda di Jakarta?
Shandy Gasella pengamat perfilman Indonesia
(mmu/mmu)











































