Omnibus, kumpulan beberapa film 'pendek' dalam satu film, rupanya telah menjadi pilihan yang populer bagi para filmmaker baru untuk memasuki dan memperkenalkan diri di industri perfilman di Tanah Air. Kali ini, layar bioskop memiliki '3SUM', sebuah omnibus yang sesuai dengan judulnya, terdiri atas 3 film. Masing-masing 'Insomnight' karya Witra Asliga, 'Rawa Kucing' karya Andri Cung dan 'Impromptu' karya William Chandra.
'3SUM' dibuka dengan penampilan Winky Wiryawan di film 'Insomnight' yang sebagian besar peristiwanya terjadi di kamar. Winky berperan sebagai pria yang gelisah tak bisa tidur setiap malam. Lalu, perlahan-lahan film ini memasuki ceritanya dengan teknik kilas-balik. Keping-keping kejadian dari masalalu muncul, berselang-seling dengan penampakan hantu.
Lalu, suguhan beralih ke drama ber-setting era 80-an di sebuah keluarga keturuan cina, dengan tokoh-tokoh yang secara fisik unik, dan perilakunya sangat kocak. Awalnya kita menebak-nebak, mereka itu siapa, perkumpulan apa? Yang tampak, di satu ruangan ada orang-ornag kain kartu, di ruangan lain ada seorang perempuan yang tak selesai-selesai berdandan. Sampai kemudian orang-orang datang dan pergi ke rumah itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, dengan rata-rata setiap film berdurasi 30 menit, ternyata tak membuat '3SUM' terasa mengalir dengan cepat. Pada 'Insomnight', alur terasa bertele-tele karena 'keberatan' dengan teknik kilas-balik yang digunakan. Lebih dari itu, adegan-adegan yang dikilas balik tersebut ternyata juga bukan momen-momen kunci yang membantu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada sang tokoh.
Masalah yang sama terjadi pada 'Impromptu' yang terasa kurang padu, bahkan 'bercabang', sehingga seolah-olah kita melihat ada "cerita lain" di balik misi utama pasangan jagoan yang menjadi tokoh utamanya. Dan, faktanya memang, gerombolan polisi gadungan tadi ternyata memang tak ada hubungannya dengan misi utama jagoan kita itu.
Dari teknik dan gaya bercerita, sebenarnya tampak bahwa para filmmaker baru kita ini kaya dalam referensi. Namun, kekayaan itu memang bisa menjebak, karena kemauan mereka yang cenderung ingin memasukkan banyak hal dan banyak unsur, yang kadang alasannya sekedar, "kayaknya begini keren nih", atau, "ya gue pengen aja kayak gini!"
'Rawa Kucing' tampaknya yang paling siap untuk menjadi tontonan yang utuh, berisi sekaligus menghibur. Tokoh-tokoh yang unik, diperkuat dengan nilai budaya etnik sebagai bingkai cerita, membuat film ini terkesan punya visi, dan tahu benar apa yang hendak disampaikan. Dengan pengecualian pada penyelesaian masalah yang terlalu mendadak tanpa dibangun dengan smooth, 'Rawa Kucing' sudah cukup bisa menjadi alasan bagi Anda untuk menonton omnibus ini. Tapi, bukan tidak mungkin Anda lebih menyukai film yang lainnya, atau malah ketiga-tiganya!
(mmu/mmu)











































