Misi John Carter sebenarnya sangat sederhana, mencari alat yang bisa membawanya kembali ke Bumi dan menjalani hidupnya seperti sedia kala. Tentu saja ada wanita cantik yang datang, yang merusak rencana manis itu. Tapi, Dejah Thoris (Lynn Collins) bukan hanya wanita cantik yang bisa membela dirinya dari serangan maut, namun juga seorang putri dari sebuah kerajaan bernama Helium.
Wanita cantik, apalagi putri, selalu menarik perhatian para penjahat. Masuklah Matai Shang (Mark Strong) dengan tenang sebagai bumbu penyedap. “Malaikat” kejam ini merencanakan pernikahan sang putri dengan Sab Than (Dominic West) agar ambisinya menguasai seluruh galaksi tercapai. Sayang, Shang tidak tahu bahwa John Carter sekarang akan menjadi mimpi buruknya untuk menghancurkan semua obsesinya menjadi raja bima sakti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disney pun akhirnya (mau tak mau) mencontoh 'Avatar' demi mewujudkan impian mereka untuk mendapatkan uang lebih banyak. Film dipersembahkan dalam bentuk 3D? Cek. Bercerita tentang seorang pria pribumi yang terdampar di planet antah-berantah? Cek. Banyak makhluk aneh nan eksotis sekaligus mampu membuat hati iba? Cek. Perempuan cantik yang akan mengubah nasibnya dan babak ketiga yang penuh dengan perang epik antarspesies? Cek dan cek.
Tapi, apakah copy paste 'John Carter' dari 'Avatar' berhasil? Ternyata tidak juga. 'John Carter' mengalami krisis identitas sebagai film aksi/petualangan di babak pertama. Pengenalan karakternya terlalu lama sehingga ketika sang jagoan mulai masuk ke bagian yang lumayan menarik, penonton sudah capek duluan. Tim penulis skenario (Andrew Stanton, Mark Andrews dan Michael Cab mengadaptasi dari buku legendaris karya Edgar Rice Burroughs) film ini memang mempersembahkan babak ketiga dengan lumayan seru, dan resolusinya juga lumayan melegakan, namun itu tidak cukup. Durasinya terlalu lama.
Andrew Stanton yang mengikuti jejak Brad Bird untuk menjadi sutradara film live-action sebenarnya sudah melakukan hal yang benar: production designer yang megah, efek visual yang canggih dan adegan action yang berkepanjangan. Tapi, berbeda dengan Brad Bird yang melakukan pekerjaannya dengan lebih mulus dalam 'Mission Impossible: Ghost Protocol', Andrew Stanton agak kaku dalam mengarahkan para pemainnya.
Hampir tidak ada satu pun pemain dalam 'John Carter' yang tampil meyakinkan. Taylor Kitsch tampil awesome (mengingat sepanjang film Kitsch memamerkan sixpack-nya) tapi begitu mengucapkan dialog, saya berharap dia melompat-lompat lagi. Chemistry-nya dengan Lynn Collins juga kurang total walaupun Collins sudah sangat oke dengan bentuk tubuhnya yang memang seperti dewi. Collins sepertinya dia akan menjadi the new hottest stuff di Hollywood. Pengganti Megan Fox mungkin?
Dan poin terakhir yang lumayan krusial tapi dilewatkan oleh Disney adalah 3D-nya. (Cerita) 'Avatar' mungkin memang basi, tapi 3D-nya berhasil membuat banyak orang menganga. Sementara 'John Carter' tidak berhasil memberikan pengalaman itu. 3D 'Hugo' jauh lebih keren ke mana-mana. Dan, mengingat-ingat bahwa the whole point tentang film ini adalah 3D-nya, bukan ceritanya, ini adalah kesalahan yang lumayan fatal buat Disney.
'John Carter' memang tidak seburuk 'Tron Legacy'. Tapi, saya memilih untuk menonton 'Hugo' yang lebih menghibur ketimbang pria yang tersesat di Mars yang membuat saya juga merasa tersesat saat berada dalam kegelapan teater.
Candra Aditya, penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.
(mmu/mmu)











































