Bottlesmoker, Merangkai Musik untuk Tanaman

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Senin, 28 Sep 2020 19:24 WIB
Konser Plantasia Bottlesmoker.
Bottlesmoker. Foto: Istimewa
Jakarta -

Musik rupanya tidak hanya dapat menggerakan hati dan perasaan manusia, namun juga tumbuhan. Hal itu ditangkap oleh Bottlesmoker yang mengadakan konser khusus untuk tanaman bernama Plantasia pada Juli 2020 lalu.

Ide mengadakan konser untuk tanaman muncul seiring berjalannya waktu saat duo asal Bandung yang beranggotakan Anggung Suherman atau Angkuy dan Ryan Adzani atau Nobie tengah melakukan riset untuk lagu-lagu di album Puraka yang akan mereka rilis.

Sudah sejak awal, Bottlesmoker menginginkan album Puraka memiliki benang merah yang berceritakan tentang hubungan antara manusia dan alam.

"Aku tuh ketika punya anak agak khawatir dengan masa depan dia. Nanti dia gedenya gimana? Apakah masih aman kah dunia ini? Ada faktor ingin melakukan sesuatu antara manusia dengan yang ada di bumi ini," tutur Angkuy mengenai album Puraka itu.

"Karena aku backgroundnya di musik, setidaknya bisa menunjukan kegelisahan lewat musik," sambung dia.

Di tengah perjalanannya melakukan riset untuk menulis materi lagu di album Puraka, Bottlesmoker justru menemukan buku berjudul Hallucinogenic Plants yang ditulis oleh Richard Evans Schultes.

Dari situ, Angkuy dan Nobie mulai tertarik akan tanaman dan riset-riset yang berkaitan dengan sonic bloom yang merupakan teknologi pengembangan tanaman menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi.

Menurut penuturan Angkuy, hal itu mirip dengan kepercayaan masyarakat Sunda (Jawa Barat) yang memercayai bahwa padi merupakan penjelmaan dari Dewi Sri. Sehingga ketika panen, petani harus melakukan ritual yang didalamnya terdapat nyanyian.

Ketertarikan Bottlesmoker pada tanaman akhirnya mempertemukan mereka dengan Plantica ID, sebuah inkubator tanaman.

"Sampai akhirnya aku tertarik untuk wawancara orang-orang tentang tanaman karena dia punya inkubator tanaman namanya Plantica itu. Akhirnya kita belajar banyak dari Plantica ini, akhirnya kami belajar banyak juga tentang energi bumi, tentang harmonisasi bunyi," urai Angkuy.

Selain pertemuannya dengan Plantica ID, Bottlesmoker juga mengaku terinspirasi dari album berjudul Mother Earth's Plantasia dari Mort Garson.

Konser Plantasia

Akhirnya tercetuslah ide untuk membuat konser khusus untuk tanaman yang dinamai Plantasia. Jelang konser, mereka melakukan persiapan sekaligus riset selama kurang lebih satu bulan.

"Kita memang membuat musik khusus yang mungkin nggak akan nyaman buat manusia tapi sangat efektif untuk tanaman," tutur dia.

Musik yang dimainkan di konser Plantasia terbilang spesifik. Salah satunya adalah musik klasik yang menurut Angkuy efektif mempengaruhi psikologi tumbuhan.

"Musik klasik itu yang paling attach-nya ke psikologis si tanaman itu bisa bikin mood (tanaman) lebih happy. Nah kami masukin unsur itu, unsur string juga sama, itu ke mood-nya jadi happy. Nah ketika dia happy kalau dia punya daun hijau, warnanya jadi lebih hijau," jelas dia.

Selain itu adapula frekuensi 5000 Hz yang apabila dibunyikan di waktu yang tepat, gelombang suara itu dapat membuka stomata dengan lebih optimal sehingga akan membantu pertumbuhan tanaman.

Akan tetapi hal itu hanya efektif bila dilakukan sebelum pukul 10.00 WIB atau setelah 15.00 WIB. "Karena kalau di luar waktu itu, si tanaman sedang berusaha menyeimbangkan tubuhnya dari udara yang panas," kata Angkuy.

Selain itu ada pula musik repetitif yang berguna untuk membuat kuncup tanaman berkembang dengan lebih cepat. Tidak hanya itu, Bottlesmoker juga memperoleh hasil riset lain terhadap tanaman berjenis monstera dan tanaman cabai.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Profil Iyut Bing Slamet, Artis 80-an yang Terjerat Narkoba Dua Kali"
[Gambas:Video 20detik]