Misalnya seperti band independent bernama Protocol Afro. Bergaya modern rock dengan sentuhan disko dan sedikit elektronik, Protocol Afro sebenarnya mencuri perhatian. Dengan percaya diri dan enerjik, band beranggota enam orang itu membawakan lagu-lagu sendiri, seperti 'Music', 'Electrified', 'Radio'. 'Freedom, Freedom'.
Sayang barisan penonton masih malu-malu untuk bergoyang. Mereka hanya mampu memberikan lambaian tangan sebagai tanda menikmati lagu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terima kasih teman-teman yang masih setia di 'Freedom Fest' dari siang. Kita bersenang-senang di malam minggu ini," sapa vokalis Yogie dari atas panggung, penonton pum bertepuk tangan.
Masih dengan posisi santai, duduk berselonjor di atas hamparan rumput, 21st Night berlanjut ke lagu 'Tenang', 'Tergila', dan 'Mimpi Kita'. Suara penonton terdengar mendayu-dayu.
Berganti dari lagunya sendiri, band yang terbentuk sejak 2004 itu mendaur ulang dua lagu hits dalam dan luar negeri. Pertama 'Lost Stars' dari soundtrack 'Begin Again' dan kedua 'Terbaik Untukmu' milik TIC Band. Sebagai penutup, 21st Night membangkitkan semangat nasionalisme dengan 'Selamanya Indonesia.
Tidak sendirian, 21st Night mengajak serta belasan penonton untuk naik ke atas panggung. Mereka berlompat-lompat meneriakkan dengan lantang, "Ini Indonesia / Serukan Namanya".
21st Night turun panggung, tapi 'Freedom Fest' belum berakhir. Festival bergaya musim panas itu juga menampilkan RAN dan Maliq & D'Essentials.
(mif/ich)











































