BLP tidak memainkan jazz klasik tapi lebih memilih fusion jazz. Jazz yang bisa membuat orang bergoyang menikmati musik dan menganggukkan kepala. Jazz yang menyenangkan telinga tanpa harus membuat pendengarnya berkerut kening.
Lagu bagus saja tidak cukup. Mereka benar-benar harus mengalahkan idealisme dan melihat pasar lebih luas lagi untuk mendapatkan massa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Band yang digawangi Barry (bass), Henry Budidharma (gitar), Dennis Junio (alto saxophone), Donny Joesran (kibord/piano) dan Jonas Wang (drums) itu berhasil mencuri perhatian. Mereka juga bisa manggung dalam acara-acara yang biasanya hanya diisi band-band pop juga boyband/girlband ngetop.
Masyarakat Indonesia sudah bisa menerima jazz sebagaian dari kehidupan sehari-hari mereka. Tiap BLP menggelar pertunjukan pun penonton mereka tak bisa dibilang sedikit. Bagaimana BLP melihat hal tersebut?
"Segmen kita sekarang sudah lebih berkembang. Dari segi fans dan penikmat musiknya juga berkembang. Tapi walau begitu tetap saja jazz itu segmented. Nggak akan pernah jadi musik nomor satu," jelasnya.
Bisa diterima dan banyak manggung saja bukan visi akhir BLP. Mereka masih punya banyak hal yang ingin diwujudkan. Tidak hanya untuk memajukan BLP tapi juga mencerdaskan para pecinta jazz.
"Dengan kita punya penggemar, kita bisa lebih mengarahkan mereka menyukai jazz yang benar. Karena jazz banyak yang salah arah. Apa-apa dibilang jazz. Kita punya misi edukasi, gimana caranya mereka bisa ngebedain yang jazz atau bukan. Live performance dan album terjual berapa itu masalah belakangan," tutur Barry.
(yla/mmu)











































