The Alastair bertekad tak mau membuat musik yang laris-manis di pasaran dan cepat menghasilkan uang. Musik bagi mereka adalah seni yang tidak bisa dipaksakan untuk menjadi orang lain.
Akhirnya aliran eksperimental rock dipilih sebagai dasar bermusik mereka. Sentuhan nuansa psychedelic dan shoegaze melengkapi bagian dalam lagu-lagu yang mereka ciptakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita nggak kompromi. Kita ya begini. Kita ingin membuat pasar yang kompromi sama kita. Kita ingin membuat bagaimana semua kalangan bisa terima," ujar sang drummer Aria kepada detikhot.
"Kita sudah menerapkan musik mainstream karena semua musik di situ terbuat dari cetakan yang sama. Makanya sekalinya keluar band baru, produknya jadi sama. Kalau lagi musim Melayu ya Melayu semua. Main musik tapi terpaksa, nggaklah. Karena musik itu hari hati," sambungnya.
The Alastair mengakui kalau musik yang diusungnya cukup segmented. Mereka pun tidak masalah jika harus bermain di tengah penonton yang bisa dihitung jari.

"Kita lebih suka main di hadapan 10 orang yang memang mengerti lagu kita dan benar-benar suka daripada 1000 orang tapi nggak ngerti. Pas dengar musik The Alastair, kita mau mereka berpikir dan belajar, mencari tahu ini musik apa. Setelah bisa menerima pasti bisa memahami," jelasnya.
Demikian sepenggal kisah The Alastair yang terangkum dalam Main Stage edisi minggu ini. Nantikan cerita dari musisi-musisi lainnya pekan depan di Detikmusic.
(yla/ast)











































