Adalah A. Tony Prasetiantono, ketua panitia pagelaran, yang mencanangkan itu. "Sepertinya festival ini sudah mentok yah, sudah banyak musisi hebat yang main, yang nonton pun nggak kalah heboh, makanya tahun depan kita tingkatkan festival ini menjadi kelas internasional," ujar Tony ketika memberikan sambutan di hadapan kurang lebih 2000 penonton di Graha Sabha Pramana, kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu (18/10/2008) malam.
Spontan, penonton yang sebagian besar mahasiswa UGM dan masyarakat Yogyakarta itu memberikan tepuk tangan yang meriah. Sebelum Tony memberikan sambutan, band Trisum telah dulu manggung membawakan satu lagu.
Penampilan ciamik band yang digawangi oleh Dewa Budjana (gitar), Tompi (gitar), Donni Suhendra (gitar), Doni (bass), Saβat (suling) dan Yesaya (drum) itu benar-benar menyihir para penonton. Bagaimana tidak, lagu tradisional β Cublak Cublak Suweng' yang diaransemen ulang oleh Tohpati bisa berubah menjadi sebuah alunan musik jazz yang terdengar βcanggihβ.
Kepiawaaian Budjana, Doni, yang mantan gitaris Krakatau, dan Tohpati, dalam memainkan gitar mereka benar-benar membuat penonton tanpa sadar menggoyangkan badan mereka. Ketiga orang tersebut merupakan roh band Trisum.
Namun jangan kesampingkan tiupan seruling Saβat dan betotan bass Doni, yang membuat suasana semakin seru. Aksi gebukan drum Yesaya juga membuat sejumlah penonton perempuan histeris. Itu karena pemuda berusia 19 tahun itu benar-benar bisa sejiwa dengan drum yang ia mainkan. Jadilah aksi band Trisum malam itu bisa dibilang akan membuat banyak orang yang menyaksikannya bergerilya mencari album Trisum di pasaran.
Band yang dibentuk 2005 silam itu membawakan 8 lagu dengan durasi bermain selama 90 menit. Waktu yang relatif sama dengan jarak tempuh Jakarta-Bandung itu benar-benar tidak terasa.
Trisum biasanya tampil dengan hanya mengandalkan kepiawaian personelnya memainkan alat-alat musik yang mereka kuasai. Namun karena permintaan panitia, Trisum pun menggandeng Rio Febrian. Alhasil penampilan Rio bersama Trisum menambah romantisme malam itu.
Menurut Budjana, kolaborasi bareng Rio Febrian diakuinya baru dilakukan Trisum. βYah nggak apa-apa juga kok, soalnya kan permintaan panitia, lagian banyak cewek-ceweknya, buktinya mereka histeris kan,β ujar Budjana sembari tersenyum ketika berbincang dengan detikhot di Hotel Sheraton Yogyakarta, Minggu (19/10/2008).
Setelah Trisum turun pentas, dilanjutkan dengan aksi Idang Rasjidi & Friends. Penonton tampak kaku ketika mendengar Idang Rasjidi & Friends beraksi. Sekilas permainan musik jazz Idang dan kawan-kawan terdengar serius dan lebih cocok untuk kalangan paruh baya. Namun ternyata itu hanya di bagian intronya saja. Jika saat Trisum main, para penonton terkesima kepada permainan Budjana, Tohpati dan Doni. Maka ketika Idang βseriusβ bermain, para penonton terlihat lebih atraktif dan ceria. Musik-musik Idang Rasjidi& Friends terdengar lebih dinamis, namun membawa pesan-pesan moral.
Aksi kolaborasi Idang dengan Rieka Roeslan membuat suasana lebih atraktif. Karakter Rieka yang mencoba membawa penonton terlibat langsung, membuat para anak muda, bahkan sejumlah dosen pun 'lupa diri.' Mungkin sejumlah lagu Rieka yang dibawakannya bersama Idang Rasjidi&Friends tidak sepopuler ST12 atau d'Masiv, namun penampilan Rieka yang mau turun panggung dan berinteraksi dengan penonton, membuat penonton menjadi cepat melafalkan sejumlah lagu mantan personel The Groove itu. Tak hanya itu terobosan Idang dengan menambahkan warna musik Melayu di akhir penampilannya dengan Rieke seakan ingin menegaskan kalau jazz dan musik tradisional Indonesia bisa dikawinkan.
Aksi malam itu ditutup oleh penampilan Glenn Fredly. Gaya bermusik Idang Rasjidi & Friends yang dinamis, ditambah alunan suara Glenn yang romantis semakin dahsyat dengan tiupan saxofone Nicky Manuputty yang seksi. Aksi mereka benar-benar terlihat alami dan sejiwa. Wajar jika tak satu pun bangku yang ada ditinggalkan penonton. Tak heran jika konser yang digelar sejak pukul 19.30 WIB hingga pukul 23.00 WIB dan menggunakan Dian Sastrowardoyo serta Butet Kertaradjasa sebagai MC itu dikatakan siap melangkahkan ke menjadi festival jazz kelas internasional. (fjr/eny)











































