ADVERTISEMENT

Review Candyman: Jangan Sebut Namanya Lima Kali

Candra Aditya - detikHot
Jumat, 29 Okt 2021 19:04 WIB
Candyman (2021)
(Foto: dok. Universal Pictures) Secara visual, Candyman sangat enak untuk ditatap. Ia akhirnya membuka gerbang untuk cerita-cerita dan teror yang menyenangkan berikutnya.
Jakarta -

Anthony McCoy (Yahya Abdul-Mateen II) adalah seorang seniman visual yang sekarang sedang butuh inspirasi untuk membuat karya terbarunya. Akhir-akhir ini dia merasa stagnan. Orang-orang di sekitarnya (meskipun tidak bilang langsung) juga merasa bahwa karya Anthony sudah butuh pembaharuan. Dan malam itu dia mendapatkan inspirasi untuk karya terbarunya ketika adik pacarnya Troy (Nathan Stewart-Jarrett) bercerita tentang legenda Helen Lyle, seorang perempuan yang membunuhi orang-orang di proyek perumahan bernama Cabrini-Green.

Kalau Anda familier dengan film Candyman yang dirilis di periode awal 90-an, Anda pasti ingat dengan tokoh Helen Lyle ini. Anda juga pasti tahu apa yang tidak boleh dilakukan kalau tidak mau si "hantu" dengan tangan berupa kait tajam muncul dan membunuh Anda. Tidak seperti Anda, Anthony merasa bahwa mitos ini menarik untuk diselidiki. Sebagai seorang African-American, kisah ini menurutnya sangat menarik untuk dieksplor.

Pergilah Anthony ke Cabrini-Green dan di sana dia bertemu dengan Billy Burke (Colman Domingo), seorang pengusaha laundry yang menceritakannya tentang legenda Candyman. Bahwa jika memang mau memanggilnya, maka yang diperlukan hanyalah cermin dan tataplah cermin tersebut sambil menyebut namanya sebanyak lima kali.

Anthony merasa bahwa ide ini menarik untuk menjadi karya terbarunya. Si pacar, Brianna (Teyonah Parris), yang juga bekerja di dunia seni mendukungnya. Malam itu Anthony mendapatkan respons langsung dari kritikus bahwa ternyata karyanya yang berubah cermin dan "menantang" pengunjung untuk menyebut nama Candyman tidak mendapatkan respons yang dia harapkan. Anthony merasa semuanya sudah selesai. Sampai akhirnya malam itu ada yang iseng menyebut nama Candyman dan akhirnya pembunuhan terjadi di gallery. Si momok resmi muncul lagi di dunia.

Meskipun Candyman versi dulu mungkin tidak menjadi horor seterkenal teman-temannya tapi sosoknya menjadi salah satu ikon horor yang selalu diingat. Wajah bengis yang dilumuri dengan lebah hidup dan tangan berupa kait tajam yang digunakan untuk membunuh benar-benar memberikan kesan yang mendalam. Saya ingat menonton Candyman bersama teman-teman dan kami ketakutan untuk sok-sokan menyebut namanya lima kali di depan cermin. Sosok Candyman memang fiksi tapi horornya benar-benar terasa.

Reboot (atau sekuel secara tidak langsung?) Candyman yang baru ini memberikan warna dan suara yang lumayan menyegarkan. Versi yang terbaru ini sudah tidak lagi bermain-main dalam mengemukakan pandangan politiknya (terutama tentang kehidupan African-American di Amerika). Dengan semua kasus yang terjadi di Amerika akhir-akhir ini, terutama dengan protes Black Lives Matter besar-besaran setelah kematian George Floyd yang sangat viral, Candyman menjadi semakin sangat relevan.

Tentu saja nama Jordan Peele (yang bertugas sebagai produser dan salah satu penulisnya) mempengaruhi konten Candyman yang baru ini. Tapi Win Rosenfield dan Nia DaCosta (yang juga mendapatkan jatah untuk menyutradarai film ini) dari awal sudah mengusung soal topik ini tanpa basa-basi dari awal adegan. Ketika adegan-adegannya mulai menggila dan berakhir dengan ending yang sangat mengejutkan, statement Candyman menjadi lebih dari sekedar sisipan.

Kalau cerita Candyman mungkin kurang begitu menyeramkan karena penonton tidak diberi kesempatan untuk peduli dengan semua korban yang berjatuhan (namanya juga film slasher), penyutradaraan DaCosta yang sangat percaya diri membuat filmnya jadi lebih menegangkan. Penonton mungkin tidak akan sedih kalau orang-orang ini mati. Tapi momen bagaimana mereka mati tetap saja membuat deg-degan. Dalam Candyman ini, DaCosta bermain-main dengan perspektif. Apa yang kita lihat dan apa yang kita tidak lihat. Dan apa yang DaCosta tidak perlihatkan kepada penonton justru membuat saya secara pribadi mengkeret di kursi bioskop karena DaCosta mengundang penonton untuk berimajinasi seliar-liarnya.

Secara visual, Candyman sangat enak untuk ditatap. Editing-nya juga mantap karena film ini berhasil mengingatkan penonton tentang film lamanya sekaligus memperdalam mitologi soal Candyman hanya dalam satu setengah jam. Hasil akhirnya adalah sebuah reboot yang sangat berhasil. Candyman membuat si momok menjadi relevan lagi. Ia akhirnya membuka gerbang untuk cerita-cerita dan teror yang menyenangkan berikutnya. Sekarang pertanyaannya adalah apakah Anda berani?

Candyman dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

(aay/aay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT