Podcast Penonton Bayaran: Guru-Guru Gokil Apa Beneran Gokil?

Atmi Ahsani Yusron - detikHot
Rabu, 26 Agu 2020 20:20 WIB
Podcast Penonton Bayaran Guru-Guru Gokil
Foto: Podcast Penonton Bayaran detikcom episode ini mengulas Guru-Guru Gokil
Jakarta -

Guru-Guru Gokil jadi film Indonesia yang dilabeli produksi original Netflix kedua. Diproduseri oleh Dian Sastrowardoyo dan dibintangi Gading Marten.

Film Guru-Guru Gokil jadi film yang dibahas dan diulas di episode terbaru Podcast Penonton Bayaran di detikcom:

Berkisah tentang Taat Pribadi (Gading Marten), seorang anak guru yang paling tidak menyukai sosok guru karena Pak Pur, ayahnya, selalu lebih mementingkan murid-murid lain ketimbang dirinya. Yang paling disukai oleh Taat Pribadi adalah uang.

Suatu hari gaji guru-guru di SMA tempatnya mengajar sebagai guru pengganti, SMA Gunung Asri, dirampok. Bersama guru-guru lain, dia pun berusaha mencari pelaku perampokan yang ternyata didalangi oleh sosok bernama Pak Lik.

Guru-Guru Gokil tayang di Netflix berbarengan dengan HUT RI ke-75 pada 17 Agustus 2020 lalu. Film ini disutradarai oleh Sammaria Simanjuntak yang sebelumnya pernah mengarahkan film Demi Ucok dan memproduseri film Selamat Pagi, Malam. Sementara skenarionya ditulis oleh Rahabi Mandra yang sebelumnya mengerjakan skenario seperti Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar, Trinity The Nekad Traveler, hingga Night Bus.

Film yang tayang internasional di 190 negara dengan judul Crazy Awesome Teacher ini dibintangi juga oleh Dian Sastrowardoyo, Faradina Mufti, Boris Bokir, Asri Welas, dan Kevin Ardilova. Di Netflix, film ini dilengkapi dengan teks 17 bahasa mulai dari bahasa Inggris hingga bahasa Korea.

Skenario Guru-Guru Gokil ditulis berdasarkan kisah nyata pada pengajar yang berada di kawasan pelosok. Seperti diungkapkan oleh Dian Sastrowardoyo dalam sebuah sesi konferensi pers belum lama ini.

"Skrip itu dibangun berdasarkan riset. Kami melakukan beberapa wawancara kepada guru-guru yang ada di pelosok, seperti apa tantangannya. Apa yang paling berat dijalani. Apa sih happy-nya jadi guru. Kita dapat jawaban yang menarik, ada yang sampai mau nangis. Yang kita dapatkan rata-rata semua orang yang kerja jadi guru nggak ada yang mengeruk keuntungan. Rata-rata panggilan hati," ungkap Dian Sastrowardoyo.

(aay/mau)